“Siapa yang abis telpon, Bu Kay?” tanya Shasy ketika baru saja masuk ke dalam florist dari coffee shop, membawa dua cup cokelat panas untuknya dan Kayana.
“Oh, tadi itu? Ferda, Shas.”
“Kenapa lagi si Ferda, Bu Kay?”
“Minta bunga buat acara besok siang.”
“Hm, tapi diagenda kita nggak ada kok.”
“Iya, mendadak katanya.”
“Kok tumben banget sih? Emangnya event apa?”
“Ulang tahun pernikahan.”
“Tumben banget.”
“Nggak tahu, emang yang pesan minta dadakan kayaknya, saya juga nggak tanya-tanya alasannya lagi.”
“Terus Bu Kay jawab apa? Bilang iya?”
“Ya iya lah, Shas. Mau gimana lagi? Masa mau bilang nggak bisa.”
“Tapi kalau mendadak gini kan kita juga repot, Bu.”
“Iya sih, Shas.”
“Tuh kan, iya kalau di Rengganis stok bunga banyak. Kalau nggak gimana?”
“Iya ya, kok saya nggak kepikiran kesana?”
“Benar kan? Terus udah dikirimin gambar konsepnya sama Ferda belum?”
“Sebentar, saya cek dulu.” Kayana kemudian melihat ponselnya, ada pesan masuk dari Ferda. Sebuah contoh konsep gambar dekorasi terkirim. Ia mulai berpikir keras, mengamati sebuah gambar itu. Melihat beberapa bunga yang terhias disana.
“Shas, ada bunga ini nggak ya di Rengganis? Coba deh lihat!” Kayana menyerahkan ponselnya pada Shasy yang sudah mulai penasaran dengan ekspresi pertama Kayana ketika melihat gambar itu.
“Hm, biasanya ada Bu, tapi kalau nggak pesan dulu sih nggak tahu ya masih ada sisa apa nggak?”
“Gitu ya? Coba deh telpon Rengganis dulu sana, Shas! Atau kirim pesan.”
“Bentar bu Kay, Shasy kirim gambar lewat aplikasi hijau aja ya!”
“Ya udah nggak apa-apa, kita tunggu info dari sana dulu ada atau nggak ya.”
Kayana lalu melanjutkan aktifitasnya di depan laptop, masih seputar beberapa akun media sosial miliknya. Yang dari sana lah Red Flo mulai dikenal banyak orang dan banyak peminatnya. Shasy pun tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali menyeruput cup cokelat hangat yang tadi dia ambil di coffee shop depan. Cokelat hangat yang Briyan bilang dibikin dengan penuh cinta.
“Bu Kay, benar kan, di rengganis udah nggak ada, stok habis katanya.”
“Yah, kok udah habis aja sih ya? Emang pesan untuk besok nggak bisa?”
“Nggak bisa, katanya di Rengganis emang nggak banyak stok karena peminat yang sedikit. Maklum lah, Bu Kay, soalnya itu bunga mahal juga.”
“Terus gimana dog, Shas? Jadi Rengganis nggak bisa nyariin bunga itu buat kita?”
“Nggak bisa juga, tapi ini kita dikasih rekomendasi buat datang di salah satu suplier bunga di daerah B, atau kita disuruh tanya-tanya dulu sama pihak supliernya. Ini kita dikirimi nomor telponnya.”
“Nah, oke Shas, coba kamu telpon sekarang. Aku mau ke toilet dulu ya, kamu cari info kesana, kalau ada kamu pesan langsung. Semisal harus pakai DP, kamu tinggal transfer aja, ya!”
“Siap, Bu Kay tenang aja pokoknya.”
Kayana melangkah tergesa menuju toilet, dengan badan yang sedikit lesu. Banyak hal yang membuat pikirannya berat. Terutama karena Erland yang semakin hari, semakin ingin bersama Dion setiap saat. Anak laki-lakinya itu sudah banyak berharap dengan Dion.
Di depan toilet, ia berhenti sejenak di tempat wastafel terpasang dengan cermin di atasnya. Mengamati wajahnya yang kini semakin kurus. Pipinya yang lebih tirus dibanding sebelumnya, lingkaran mata yang terlihat mulai menghitam. Tanda bahwa waktu makannya yang tidak teratur dan tidurnya yang selalu larut malam. Sebuah perilaku yang terjadi ketika kebanyakan beban pikiran. Tidak disadari, sudah banyak perjalanan hidup yang membuatnya merubah pola pikir selama ini.
kayana kemudian kembali ke depan, menghampiri Shasy yang terlibat dengan pencarian info suplier bunga. Mulutnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu, dengan ponsel yang tertempel di telinga kiri. Kemudian terlihat mengangguk-anggukan kepala, entah apa yang ia mengerti dengan penjelasan seseorang di seberang sana. Yang pasti sepertinya dia mendapatkan solusi.
“Oke, baik, Pak. Kalau gitu nanti kami segera kesana. Tolong kirim lokasi sekarang juga ke nomor saya ini ya, Pak. Terima kasih sebelumnya.”
Shasy menatap kayana dengan lega, kemudia bersiap untuk menjelaskan sesuatu.
“Gimana, Shas?”
“Maaf, Bu Kay, ternyata supliernya bilang kalau nggak bisa, bunga itu memang susah banget dapatnya.”
“Ha, masa sih?”
“Iya, terus gimana ya, Bu Kay?”
“Lah tadi kamu telpon siapa? Kayaknya serius banget.”
“Emh, telpon temen kuliah dulu, Bu Kay.”
“Temen siapa, kok manggil kamu Pak, sih?”
“Ya bebas lah, Bu, kan dia emang udah jadi bapak-bapak sekarang.”
“Terus kamu mau ngapain tanya lokasi, kami-kami gitu kayaknya tadi? Emang kamu mau kesana sama siapa?”
“Ih, Bu Kay kepo deh!”
“Shasy, saya serius tanya nih. Terus gimana, kita mau cari suplier dimana lagi?”
“Ya nggak tahu, Shasy juga bingung jadinya. Gimana dong, Bu Kay?”
“Aduh gimana ya?”
“Dibatalin aja gimana, Bu Kay?”
“Ya nggak bisa lah, Shas, nggak segampang itu juga ngebatalin kesanggupan. Kamu cari-cari lagi gih suplier mana kek yang ada stok bunga kayak gitu.”
“Udah nggak ada lagi, Bu Kay.”
“Masa sih nggak ada, di kota besar kayak gini masa Cuma ada beberapa suplier sih.”
“Ya, emang begitu kenyataannya, Bu. Kalau nggak coba Bu Kayana nego lagi sama Ferda, semisal diganti aja sama bunga yang lain, mau nggak mereka. Kalau mereka nggak mau ya kita nggak bisa berbuat banyak, Bu.”
“Yah, Shas. Gimana dong?”
“Shasy juga nggak tahu mau gimana.”
“Aduh, pusing banget jadinya.”
“Ha ha ha, jangan dibikin pusing gitu lah, Bu.”
“Ya gimana nggak pusing, dikirim besok lho ini, Shas. Dan kita belum nemu sekarang.”
“Ya salah siapa mereka mintanya dadakan.”
“Tapi kita udah bilang bisa nyariin, gimana jadinya kalau kita terkesan nggak profesional?”
“Kayaknya Cuma Ferda deh yang bakalan bilang gitu, selama ini peminat Red Flo puas kok sama hasil karya kita, pelayanan kita juga sudah bagus.”
“Jadi menurut kamu gimana? Kita bakalan gimana besok?”
“Ya besok kita antar kesana.”
“Terus gimana? Dengan satu bunga yang nggak bisa kita bawa? Kalau nggak lengkap gimana dong?”
“Tenang Bu Kay, bakalan lengkap kok.”
“Iya, semoga aja, tapi kita mesti cari kemana, Shas?”
“Ya ke suplier tadi, Bu Kay.”
“Gimana sih kamu, Shas? Kamu bilang disana nggak ada. Terus buat apa kita kesana, kalau yang lain kan sudah ada di Rengganis? Berarti kita nggak perlu kesana kan?”
“Iya sih, tapi..”
“Tapi apa, Shas?”
“Tapi Bu Kay kena tipu.” Shasy menahan tawa melihat ekspresi Kayana yang mulai cemas dan kebingungan.
“Kena tipu gimana sih, jangan aneh-aneh deh, Shas!”
“Enggak aneh kok, Bu Kay. Emang Bu Kay sekarang lagi kena tipu sama Shasy?”
“Apaan sih?”
“Ha ha ha.”
“Shasy, nggak lucu ah. Kenapa sih, kena tipu gimana?”
“Iya, Shasy Cuma bohong, ups.”
“Bohong gimana? Jelasin!”
“He he, ya supliernya bisa menyediakan bunga itu, Bu Kay.”
Shasy menutup mulutnya, berharap tertawanya yang keras bisa ia tahan untuk tidak keluar.
“Shasy!! Kamu nih, ya.” Kayana lalu mengacak-acak gemas rambut Shasy yang berponi itu, merasa kesal dengannya karena sudah membuatnya cemas.
“Ampun, Bu Kay, ampun! Ha ha ha.”
“Ngeselin ya, emang kamu tuh. Berani-beraninya ngerjain saya.”
“Ups, maaf Bu Kay, abisnya Bu Kay gitu sih. Gampang panik banget jadi orang. Menghadapi masalah itu jangan tenang dulu kuncinya, biar nggak gampang pusing.”
“Halah, kamu ini, Shas. Kayak biasanya nggak gitu juga.”
“Kalau Shasy nggak dong, paling Cuma bingung aja. Nggak kayak Bu Kay.”
“Ah, terserah kamu deh. Yang penting kita udah dapat bunganya.”
“Iya, tinggal hadiahnya nih buat Shasy yang udah berhasil cari bunga mahal itu.”
“Gampang itu mah, kamu mau apa? Bilang aja nanti cari sendiri, beli sendiri dan pakai uang sendiri. Oke? Gimana, deal nggak?”
“Ha, yang benar aja, Bu Kay. Itu sih namanya bukan hadiah. Masa hadiah suruh beli sendiri.”
“Ha ha ha, itu hadiah yang suka ngerjain bosnya.”
“Aduh, rugi deh jadinya.”
“Rasain, siapa suruh ngerjain orang lagi panik begini. Jelas-jelas tadi telpon bilang terima kasih, minta alamat segala lagi. Apaan kalau nggak telpon sama suplier tadi.”
“Ya siapa suruh juga percaya sama Shasy, ha ha.”
“Dasar kamu ya, Shas.”
“Ya udah, Bu Kay siap-siap gih, kita berangkat sekarang aja, takut kesorean pulangnya.”
“Oke, oh iya Shas, tadi kamu ngobrol apa sama supliernya?”
“Biasa aja sih, Bu. Nggak tanya yang lain-lain, Cuma stok disana nggak begitu banyak. Tapi nggak apa-apa lah dari pada nggak dapat sama sekali.”
“Bagus, bagus. Kalau gitu kita berangkat sekarang ya.”
“Siap, Bu Kay, mumpung masih jam segini juga. Lokasinya lumayan rada jauh soalnya.”
“Oke, tapi kayaknya saya harus ajak Erland deh, Shas. Dari kemarin ngajakin keluar terus.”
“Beneran, Bu Kay? Wah, Shasy seneng banget kalau Erland ikut.”
“Iya, kasihan banget dia, dari kemarin ngajakin keluar jalan-jalan tapi saya belum ada waktu.”
“Nah, pas banget nih waktunya.”
“Ya udah, bagi tugas ya sekarang. Aku ambil mobil sekalian jemput Erland dan bibi, kamu kasih tahu anak-anak yang lain buat jaga florist.”
“Siap Bu Kay.”