Semua orang di Red Flo tampak sibuk dengan aktifitas masing-masing. Setelah Shasy pulang dari Rengganis untuk mengambil bunga pesanan, Kayana mulai panik dan kebingungan.
Dari pagi, Ferda tidak bisa dihubungi. Nomor telpon pribadi atau pun kantor semua tidak aktif. Tidak seperti dengan hari-hari sebelumnya. Biasanya pagi sebelum hari dipakainya acara, Ferda sudah memberitahukan alamat tempat pengiriman bunga. Tapi kenapa sampai saat ini belum juga ada kabar.
"Shas, coba kamu telpon Ferda lagi. Siapa tahu nomornya sudah aktif
"
"Belum ada nomor yang bisa dihubungi, Bu Kay. Shasy barusan coba telpon semua nomornya tapi nggak ada yang aktif. Kok bisa sih, semua nomor jadi diluar jangkauan semua."
"Kenapa jadi aneh gini ya,Shas?"
"Iya kan, nggak kayak biasanya. Acaranya kan nanti sore, ini udah jam segini tapi kok belum ada kabarnya, Bu?"
"Saya nggak tahu, Shas. Sayang juga kan sama bunga-bunganya. Takut jadi layu, nanti yang ada mereka marah-marah lagi sama kita."
"Mana bunganya susah banget dicari, mahal pula. Itu Ferda ngeselin banget sih Bu Kay."
"Iya lah, Shas, sampai bikin kita capek nyari ke suplier lain, mana tempatnya juga jauh banget."
"Apa kita datangin ke kantornya aja ya, kita antar bunganya kesana."
"Benar juga ya, Shas. Biar mereka bawa sendiri aja bungannya kalau emang sampai sekarang nggak kirim lokasi ke kita."
"Iya, siapa suruh mereka nggak bisa dihubungi? Kita kan belum tahu harus dikirim kemana."
"Oke, kalau gitu kita berangkat sekarang aja lah, daripada bingung mau ngapain dari tadi. Nunggu kabar nggak ditelpon-telpon, malah bikin kita kesel aja."
"Ya udah ayo berangkat, Bu Kay."
Setelah melewati berbagai pertimbangan, mereka memutuskan untuk mengantar bunga ke kantor Ferda. Dengan satu mobil yang dikendarai Kayana dan satu lagi mobil muatan yang membawa banyak bungan pesanan. Kayana masih dengan raut muka yang kesal dan panik. Semakin hari Ferda dan team event organizernya semakin menunjukkan sikap yang kurang baik. Setelah kejadian di hotel Noe beberapa hari yang lalu, sepertinya ada saja yang membuat Kayana jadi berpikir keras. Karena itu ia bertekad untuk tidak melanjutkan kontrak setelah perjanjian kemarin selesai.
Kayana juga Shasy masih terus menunjukkan kekesalannya, selama perjalanan hanya Ferda dan teamnya yang dibahas. Sebenarnya apa yang terjadi sampai Hampir acara dimulai mereka belum memberi kabar.
Kantor Delisya event organizer tampak masih biasa saja seperti biasnaya. Buka dan juga karyawan-karyawannya tampak sibuk dengan pekerjaan masing, itu berarti memang tidak terjadi apa-apa di sekitaran kantor.
Tanpa basa-basi, mereka berdua langsung saja memasuki kantor, berharap langsung bisa bertemu dengan Ferda. Dan benar, Ferda tengah keluar dari ruangannya dan ingin menuju meja reseptionis. Ia pun kaget melihat kedatangan Kayana dan shasy, meskipun kedatangan mereka sudah diseting olehnya dan Aksa.
Sebuah akting pun akan mulai dilakukan Ferda, sebelum menemui mereka yang sudah duduk di sofa tamu.
"Eh, Mbak Kay. Sudah lama datangnya?" Ferda bertanya pada Kayana seakan tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Udah lumayan. Jadi gimana Fer?"
"Gimana apanya, Mbak?"
"Bunganya mau dikirim kemana? Atau cukup untuk saya antar disini aja?"
"Bunga? Loh bukannya saya sudah berkabar sama Mbak Kayana kemarin."
"Kabar apa? Nggak ada kabar apa-apa sejak kemarin dari kalian."
"Masa sih, Mbak? Coba deh Mbak Kayana cek dulu pesan masuk dari saya."
"Nggak ada, Fer. Bahkan semua nomor telpon kamu nggak ada yang aktif, semua berada diluar jangkauan. Ada apa sih sebenarnya? Apa kalian memang sengaja ngerjain saya?"
"Nggak Mbak, kami nggak pernah berniat mengganggu kalian."
"Lalu apa maksudnya sekarang? Kalau kalian memang nggak mau kasih alamat yang harus kami antar, bunga-bunga itu kami turunkan disini aja ya!"
"Loh Mbak, jangan!"
"Kenapa? Bukannya sama aja, nanti kalian yang bawa sekalian. Silahkan nanti dikurangi sendiri harga bunga dengan transportnya."
"Tapi masalahnya begini, Mbak, seperti yang sudah saya kabarkan ke Mbak bahwa orang yang kemarin pesan ternyata membatalkan pesanannya."
"Loh tapi kamu nggak kasih kabar ke saya mengenai pembatalan ini, Fer."
"Ada, Mbak."
"Mana buktinya?"
"Di Chatingan terakhir kan, Mbak?"
"Coba kita cek masing-masing. Nggak ada kok."
Ferda menyerah, karena pada akhirnya tidak ada pesan masuk di ponsel Kayana tentang pembatalan pesanan.
"Iya, Mbak Kayana. Ternyata saya lupa nggak kasih kabar tentang hal ini ke Mbak."
"Ya Tuhan, Fer. Bisa-bisanya kamu lupa dengan hal sepenting ini. Itu sama saja kamu menyepelekan tanggungjawab."
"Tapi benar, Mbak. Kemarin kayaknya saya udah kasih kabar ke Mbak Kayana tentang hal ini."
"Tapi kenyataannya nggak ada kan?"
"Maaf, Mbak."
"Kamu memang keterlaluan, Fer. Perlu kamu tahu ya, bunga yang kamu pesan iti semuanya mahal. Nggak semua bunga ada stok dan di beberapa suplier nggak selalu punya. Saya dan Shasy harus mencarinya kemana-mana sampai mala pula."
"Maaf, Mbak. Tapi seingat saya, saya langsung kasih kabar kemarin."
"Kemarin kamu yang bilang padaku tentang sebuah tanggungjawab, kamu bilang tentang keprofesionalitasan. Tapi apa? Kamu sendiri yang tidak punya keduanya. Kamu terlalu menyepelekan pekerjaan. Apa kamu memang sengaja?"
"Ya Tuhan, Mbak Kayana, saya nggak punya maksud seperti itu."
"Sulit untuk saya bisa percaya dengan kamu lagi. Selama ini saya sudah memberikan yang terbaik untuk kalian ya, Fer. Saya sadar bahwa mengemban sebuah kepercayaan itu berat dan tidak mudah. Ini dengan santainya kamu bilang hanya sebuah alasan lupa. Mana tanggungjawab kamu?"
"Mbak, tapi lupa itu kan manusiawi. Sesempurna orang yang paling sempurna juga pasti pernah mengalami hal serupa."
"Tapi tidak untuk hal sepenting ini kan? Sudah kami maksimalkan usaha kami untuk memberikan layanan yang terbaik, tapi apa balasannya? Kamu dengan seenaknya santai kayak gini."
"Mbak, saya mohon maaf. Saya nggak bermaksud bikin Mbak Kayana kecewa begini. Tapi saya juga nggak bisa mengelak atas kesalahan saya."
"Lalu apa tanggungjawab kamu?"
Ferda hanya terdiam, dalam hatinya ada sebuah penyesalan. Hanya karena ingin membantu Aksa, dia harus mempermalukan dirinya sendiri dan teamnya. Dan tidak ada hal yang bisa ia lakukan selain diam dan meminta maaf atas kesalahannya itu.
"Sekarang saya nggak mau tahu, semua bunga yang kamu pesan akan aku turunkan disini. Terserah mau kamu apakan yang penting kamu harus membayar semua sesuai kesepakatan kemarin."
"Ya Tuhan, Mbak Kayana. Tapi bagaimana mungkin? Bunga sebanyak itu untuk apa? Kami belum ada agenda selain itu untuk hari ini dan besok."
"Saya nggak mau tahu, kamu harus bertanggungjawab dan mengganti kerugian saya. Udah, itu aja udah cukup untuk saya. Dan masalah ini selesai."