69

1557 Kata
"Mbak Kayana nggak kasihan sama saya? Saya juga nggak tahu kalau yang pesan bakalan membatalkan secara sepihak begini. Kalau bunga sebanyak itu mau diturunkan disini, mau saya apakan, Mbak?" "Ya itu resiko kamu, masa saya sendiri yang harus menanggung. Fer, bisa kamu bayangin kan kemarin saya kebingungan mencari bunga itu. Dan kamu juga tahu kan, yang kamu pesan semua bunga-bunga mahal. Nggak selalu ada peminatnya karena saking mahalnya." "Tapi itu juga dia yang pesan, atas permintaan dia, Mbak." "Saya tahu, tapi kenapa dengan gampangnya kamu mengiyakan dia membatalkan pesanan seenaknya?" "Saya cuma bisa pasrah, Mbak Kayana. Karena tiba-tiba batalinnya dan sekarang dia nggak bisa dihubungi." "Dan kamu mau jadi kayak dia? Semua nomor telpon nggak ada yang aktif. Sekarang didatangi malah lepas tanggungjawab dan nggak mau ganti rugi? Aneh kamu, Fer. Nggak ada perasaan sama sekali." "Mbak Kayana punya florist, banyak peminat yang datang untuk memesan bunga kan? Kenapa nggak ditaruh disana, Mbak? Kan bisa laku, stok bunga jadi semakin banyak." "Kamu nggak usah mengatur saya, tapi kamu yang harus memikirkan bagaimana bunga-bunga ini bisa laku. Saya nggak mau tahu ya, Fer. Semua bunga-bunga yang kamu pesan ini akan saya turunkan dan taruh di kantormu. Terserah akan kamu apakan bunga-bunga ini. Yang jelas kamu harus membayarnya sesuai harga kemarin. Saya sudah capek banget dari kemarin, Fer. Apa kamu tega? Mana tanggungjawabmu." "Saya juga nggak tahu harus gimana, Mbak. Yang pasti saya nggak sanggup membayar ganti segitu banyak." "Lalu apa kamu pikir saya nggak akan rugi? Saya sudah selalu modal terlebih dulu lho, Fer. Dengan DP yang hanya seberapa, saya harus menanggung rugi sebanyak itu. Kamu egois, Fer." "Maaf, Mbak Kayana, saya nggak maksud begitu. Tapi saya juga nggak bisa kalau harus ganti rugi sebanyak itu." "Ya Tuhan, Ferda. Kamu benar-benar mau lepas tanggungjawab gitu aja?" "Maaf, Mbak." "Saya kecewa sama kamu, Fer. Mungkin setelah ini saya sudah nggak bisa melanjutkan kontrak dengan kamu dan team kamu." "Jangan gitu lah, Mbak." "Silahkan cari florist lain, Fer. Jangan datang lagi pada saya setelah ini. Saya sudah rugi besar, mulai dari materi, fisik, pikiran dan hati. Rusak sudah kepercayaan saya pada kalian. Saya nggak mau kejadian ini terjadi untuk yang kesekian kalinya. Kita ini sudah berkali-kali kerja bareng, tapi entah kenapa akhir-akhir ini kalian membuat saya kecewa." "Mbak Kayana, mohon pengertiannya, bunga sebanyak itu buat apa?" "Kamu bilang minta pengertian? Hm, coba kamu ingat-ingat kemarin waktu karyawanku datang dengan bunga yang sebagian rusak karena kecelakaan. Kamu ingat kan, Fer?" "Iya, Mbak." "Apa kamu mengerti keadaan saya saat itu? Apa kamu mau mendengarkan alasan saya juga? Padahal untuk bunga yang rusak sudah saya ganti dengan yang baru. Saya nggak lepas tangan gitu aja kan? Ingat waktu kamu memaksa aku untuk datang dihari H hanya untuk mendampingi kalian? Yang ternyata disana saya hanya dipermalukan orang banyak?" "Mbak, kenapa harus malu, bukankah Pak Aksa benar-benar mencintai Mbak Kayana? Itu bukan hal yang memalukan, Mbak." "Mungkin tidak memalukan bagimu. Tapi itu sangat memalukan untuk saya. Jadi semua ini karena ulah kamu." "Tapi yakin lah, Mbak. Saya nggak terlibat disana. Saya nggak tahu apa-apa." "Saya nggak yakin, Fer. Baiklah, mungkin kemarin kamu ajak saya bercanda. Tapi jangan untuk kali ini, candaanmu benar-benar nggak masuk akal. Uang yang saya gunakan itu adalah uang modal, Fer. Gimana nanti untuk memutarkan modalku?" "Maafkan saya, Mbak. Cuma itu yang bisa saya lakukan saat ini. Modal di kantor juga sedang nggak ada segitu banyak. Dan kami bisa apa, Mbak?" "Tapi setidaknya ada itikad baik lah dari kalian, Fer. Bukan malah lepas tangan begini." "Saya sudah meminta maaf kan, Mbak. Bukannya itu sudah termasuk itikad baik dari kami?" "Maaf aja tidak cukup, Fer. Coba kalau saya nggak datang kesini? Apa ada itikad baik dari kalian? Jangankan meminta maaf, nomor telpon aja kamu nonaktifkan. Itikad baik dari mana itu?" "Mbak, saya bukan maksud untuk bikin Mbak Kayana cemas, tapi memang saya pikir kemarin sudah saya kabari." "Terus kenapa semua nomor nggak bisa dihubungi?" "Jaringan internet disini sedang trouble Mbak, jadi kami sedari tadi juga terhambat kerjanya." "Bisa aja ya kamu bikin alasan, Fer. Hari gini masih kendala sinyal aja alasannya." "Beneran, Mbak Kayana, saya nggak bohon memang kenyataannya begitu." "Fer, kalau nominal uangnya itu nggak seberapa sih mungkin masih bisa di maklumin, tapi ini dalam jumlah yang banyak lho, Fer. Mana mungkin saya bakalan pasrah gitu aja." "Tapi kami juga nggak mungkin bisa menanggung uang segitu banyak, Mbak." "Tapi ini kesalahan kalian, Fer. Coba dari awal kalian kasih kabar, nggak akan begini keadaannya. Lama-lama saya juga kapok kerjasama dengan kalian. Tekad saya sudah bulat, mulai detik ini saya nggak mau lagi terima pesanan bunga dari kalian. Cukup ini sebagai yang terakhir bahwa saya pernah kecewa. Setelah itu silahkan cari florist lain yang masih bisa diajak kerjasama dengan event organizer yanh aneh kayak kalian. Egois." Kayana masih berapi-api, rasanya hampir menyerah namun kalau dia menyerah maka dia pasti rugi besar. Shasy hanya bisa berusaha menenangkan bosnya, mengusap-usap punggung Kayana dengan pelan berharap wanita itu bisa menambah lagi sabarnya. Tiba-tiba seorang laki-laki yang mereka kenal masuk ke dalam ruangan. Datang dengan sejuta senyum dan rasa percaya diri. "Salah hari atau apa sih, kenapa harus ketemu orang-orang menyebalkan hari ini? Pertama Ferda yang belum juga mau bertanggungjawab, kedua Aksa laki-laki yang akhir-akhir ini selalu punya cara untuk mendekati aku. Kenapa harus ada dia disini? Ingin rasanya aku berontak saat ini juga." Aksa nampak kaget melihat keramaian kantor Delisya Event Organizer itu, apalagi yang menjadikan ramai karena ada Kayana. Ia yang tadinya ingin menuju ke meja resepsionis, ia urungkan niatnya. Ia memilih untuk mendatangi Kayana yang tengah duduk dengan Shasy dan Ferda di meja tamu. Kayana menyadari akan kedatangan Aksa, muka yang tadinya terlihat marah kiri bercampur masam. Apalagi ketika Aksa berjalan menghampirinya, rasa benci semakin menjadi-jadi, ditatapnya penuh kebencian laki-laki yang membuatnya uring-uringan dari kemarin. "Sepertinya kita memang berjodoh ya, Kay? Dimana pun pasti bertemu, sungguh aku beruntung sekali hari ini." "Anda mengintai saya?" Kayana lalu berdiri dari duduknya, menatap sengit si lelaki. "Kalau seandainya boleh? Aku bersedia mengintai kemana pun kamu pergi, Kay." "Anda ngomong apa sih, Tuan? Dasar aneh. Anda jangan membuat mood saya semakin kacau ya!" "Baik lah, sepertinya kamu sedang sensitif kali ini. Mungkin ada baiknya aku diam jika ini bisa membuat mood kamu semakin baik." "Good job, seharusnya sejak awal tadi anda tidak perlu menghampiri saya disini." "Kay, selain ingin melihat wajah ayumu dari dekat, aku menghampiri kalian disini karena ada perlu dengan Ferda. Ternyata kamu peka sekali ya, Kay? Nggak nyangka lho, kamu ngerasa kalau aku menghampiri kamu, tapi makasih ya, aku jadi tidak sia-sia berada di dekatmu." nada bicara Aksa terkesan menggoda, sedangkan Kayana semakin jijik dibuatnya. "Nggak usah ke-GR-an deh jadi orang. Silahkan kalau anda ada perlu dengan Ferda, tapi tolong jangan buat dia berlama-lama menghindari tanggungjawabnya pada saya." "Kalian ada masalah apa sih sampai terlibat percakapan sengit seperti ini?" "Begini, Pak-" belum juga Ferda ingin menjelaskan permasalahan mereka, Kayana sudah memotong perkataan Ferda. "Nggak usah cari pembelaan, Fer. Selesaikan urusan kita dengan cukup berdua saja. Lagi pula ini bukan urusan anda, jadi anda nggak perlu tahu." "Kay, kalau Ferda ingin menceritakan masalahnya pada saya ya itu hak dia. Kamu nggak perlu melarang dia, coba Fer ada masalah apa, sampai kamu ingin menghindari dari tanggungjawab?" "Pak, bukannya saya nggak mau bertanggungjawab, tapi keuangan kantor kami yang sedang tidak baik." "Ada apa sih? Coba cerita dari awal. Aku nggak ngerti." "Jadi ada salah satu kostumer kami yang membatalkan acaranya sore nanti, Pak. Dan otomatis kami juga membatalkan pesanan bunga dari Red Flo. Sedangkan Mbak Kayana sudah siap membawa semua bunga-bunganya kesini. Mbak Kayana meminta kami tetap membayarnya sesuai perjanjian kemarin. Kami nggak sanggup, Pak. Bunga sebanyak itu juga untuk apa, event terdekat juga masih beberapa hari lagi. Kalau disimpan untuk besok pasti layu kan?" "Kenapa bisa sampai dibatalkan?" "Saya nggak tahu, Pak. Yang jelas dia juga tiba-tiba membatalkannya." "Fer, Kamu kenapa nggak minta ganti rugi sama dia yang sudah deal mau pasang dekorasi? Kalau kayak gitu kan emang kamu yang salah, Kayana juga pasti rugi besar kan?" "Iya, Pak. Saya tahu saya yang salah, tapi saya juga sudah minta maaf. Meskipun saya memang nggak sanggup untuk ganti rugi. Mu ngkin Mbak kayana bisa membawa pulang lagi bunganya ke Red Flo, pasti juga laku kan, Pak." "Itu belum tentu laku, Fer. Saya hafal karakter orang-orang datang untuk memesan bunga. Bunga-bunga itu terlalu mahal, nggak ada solusi lain selain kamu mengganti rugi semuanya. Dan bukan hanya kantor kamu saja yang keuangannya sedang turun. Aku juga sedang merintis usahaku disini, mengertilah, Fer." "Sebentar, jadi begini, kedatanganku kesini untuk meminta Ferda menyiapkan dekorasi serah terima jabatan di hotelku untuk besok pagi. Kalau memang ini yang dipermasalahkan dari tadi, mungkin aku ada solusinya." "Saya tidak ingin banyak berharap, saya juga nggak mau kecewa untuk kesekian kalinya. Jadi anda tidak perlu memberikan alasan. Karena saya hanya butuh Ferda tanggungjawab atas kecerobohannya." "Baik lah, anggap saja ini tanggungjawab Ferda. Jadi bunga yang sudah kamu bawa biarlah saya yang memakainya. Kalau sudah begini, selesai kan masalahnya?" "Anda seharusnya tidak perlu repot-repot menjadi pahlawan kesiangan, Tuan." "Saya bukannya mau jadi pahlawan, Kay. Tapi aku kebetulan memang sedang ada acara besok, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku memakai barang yang sudah ada. Bagaimana, apa kamu tetap nggak mau menerima tawaran ini?" "Oke, mungkin untuk saat ini saya terima tawaran anda. Tetapi perlu saya tegaskan lagi bahwa setelah ini saya tidak akan lagi kerjasama dengan event organizer milikmu".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN