70

1026 Kata
“Kay, setiap orang bisa saja melakukan kesalahan kan? Beri lah dia kesempatan lagi, kasihan kan?” “Ini sudah kedua kalinya Ferda membuat saya kecewa, Tuan. Jadi menurut saya ini adalah pilihan saya untuk cari aman. Karena Ferda, saya hampir saja rugi besar. Tanggungjawab adalah salah satu hal yang menunjukkan kepribadian seseorang. Dan tadi Ferda baru saja meperlihatkan kepribadiannya. Saya khawatir suatu saat nanti dia bakalan mengecewakan saya lagi.” “Kamu tidak akan tahu kalau kamu belum memberinya kesempatan untuknya memperbaiki diri. Coba dulu lah, Kay. Kasihan Ferda, tidak mudah lho mencari suplier yang berkualitas seperti Red Flo.” “Harusnya kalau menurutnya tidak mudah mencari suplier, mereka juga menjaga kepercayaan dengan saya.” “Hal yang tidak duga, Kay. Semua diluar kendali.” “Jangan banyak membela sama mereka deh, Pak. Mereka sudah jelas salah kan?” “Mbak Kay, saya minta maaf sekali lagi. Setelah ini saya usahakan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saya mohon, Mbak Kayana mau memaafkan saya dan memberi saya kesempatan.” “Fer, kamu sudah bikin saya kecewa. Kamu sudah berani tanda tangan sebuah kontrak, belajarlah lagi bagaimana caranya kerjasama, Fer” “Baik, Mbak, akan saya ingat-ingat itu. Tapi tolong jangan putuskan kontrak dengan kami ya. Kami sudah sangat klik dengan Red Flo, Mbak. Saya mohon.” “Oke, saya kasih kesempatan satu kali. Tapi setelah ini saya nggak mau lagi dikecewakan, sudah cukup Fer.” “Terima kasih, Mbak. Akan saya usahakan jadi relasi yang lebih baik lagi.” “Ya, sama-sama. Dan juga untuk anda, Tuan Aksa, terima kasih sudah memakai bunga kami, meskipun sebenarnya saya masih malas dengan anda.” “Baik lah Kay, terima kasih ya. Saya percaya bahwa semua bunga dari Ref Flo sudah pasti bagus. Melihat hasil dari dekorasi kemarin, benar-benar mewah. Pantas ya pecinta Red Flo sekarang sudah begitu banyak dan juga sudah banyak yang tahu, ownernya pintar menyediakan bunga sih.” “Nggak usah berlebihan, Tuan. Sebisa mungkin kami sediakan yang terbaik.” “Aku suka cara kerjamu, Kay. Begini, sebagai tanda terima kasih gimana kalau kita makan dulu.” “Nggak perlu, Tuan. Terima kasih, kami buru-buru. Oh ya, nanti sopir saya akan mengantarkan bunga ke tempat tujuan anda.” “Kok buru-buru, Kay? Sebentar lah, kalau makan nggak mau setidaknya ngobrol dulu, Kay. Aku masih ingin bersama kamu.” “Nggak usah macam-macam lah, Tuan. Pekerjaan saya masih banyak.” "Bukan mau macam-macam, Kay. Untuk kali ini saja, sebagai permintaan maaf dan terima kasihku. Kamu sudah mau menyediakan bunga untuk acara saya lagi." "Maaf, saya tidak bisa." "Kay, apa kamu mau menolak niat baikku lagi? Aku sudah berkali-kali memohon padamu untuk memberiku kesempatan. Beri aku waktu untuk membuktikan keseriusanku, Kay. Atau paling tidak jangan lah bersikap dingin padaku. Aku mencintaimu, Kay. Tidak ada niat jahat padamu." "Saya hanya ingin berhati-hati pada siapapun, Tuan." "Termasuk aku, Kay." "Ya. Karena anda adalah orang asing bagi kehidupan saya." "Tapi lihat saja, Kay. Setelah nanti kamu mencintaiku, kamu tidak akan mau melepaskan aku." "Hei, Tuan, nggak usah terlalu tinggi berandai-andai. Saya sudah berkali-kali bilang kalau saya nggak cinta dengan anda." "Untuk saat mungkin belum, Kay. Tapi sebentar lagi." "Bisa nggak sih sekali aja anda berbicara suatu hal yang nggak bikin saya kesal? Yang biasa aja, bisa?" "Baik lah, Kay. Maaf ya. Gimana tawaranku tadi, mau ya makan dulu denganku." "Maaf, saya nggak ada waktu. Permisi!" Kayana tergesa, menarik tangan Shasy dan mengajaknya pergi. Ia hanya menurut saja, berlari kecil menuju arah mobil. Disana sudah ada sopir yang membawa pick up berisi bunga. "Lando, saya pulang dulu ya. Kamu disini dulu, tunggu team event organizer untuk mengajakmu mengantar bunga itu." "Baik, Bu Kay. Selain itu ada lagi?" "Nggak ada, Lan. Nanti kamy langsung kembali ke florist aja ya." "Siap, Bu Kay." "Oke, sudah jelas kan?" "Sudah, Bu." jawab Lando sambil mengangguk. "Ya udah. Shas, ayo jalan!" Mereka berdua lalu memasuki mobil, rasanya ingin cepat-cepat untuk segera pergi dari tempat ini. Bertemu dengan Ferda dan Aksa adalah hal yang ingin ia hindari, namun mengapa justru akhir-akhir ini mudah sekali bertemu. "Bu Kay." Panggil Shasy saat mobil sudah mulai melaju. Walau sebenarnya ia ragu untuk mengatakan apa yang menjadi bahan pikirannya dari tadi. Tetapi ini harus ia sampaikan, agar tidak mengganjal dalam pikiran dan hatinya. "Bu Kay, boleh Shasy ngomong sesuatu?" "Boleh lah, Shas, silahkan. Ada apa?" "Bu, Pak Aksa dan Ferda ada hubungan apa ya sebelumnya?" "Entah lah, kemarin aku sih sempat dengar percakapan mereka yang bilang kalau Aksa sempat berjasa di event organizernya Ferda. Tapi nggak tahu sih dalam bentuk apa itu. Yang jelas Ferda memang benar-benar menghormati Aksa, apa pun yang Aksa minta dan perintah pasti dia penuhi. Makanya acara Aksa kemarin, Ferda bela mati-matian agar berjalan lancar dan sukses." "Dan sekarang gantian Pak Aksa yang memperjuangkan Ferda ya, Bu Kay? Jadi lucu deh." "Yah, mungkin Shas." "Mereka berdua jadi kayak dua relasi yang saling tergantung." "Maksud kamu gimana Shas?" "Ya kok kayaknya selalu kebetulan aja, Bu. Setiap kita ada masalah dengan Ferda, pasti ada Pak Aksa. Dan ini suatu hal yang janggal sih menurut Shasy." "Hm, janggal gimana?" "Coba deh kita pikir, Hotel Pak Aksa mau ada event besar dan kenapa acaranya juga dadakan? Ini kan kayak nggak mungkin. Ya semendadaknya acara, paling nggak persiapannya dua atau tiga hari lah minimal. Ini H minus satu hari lho. Kayak nggak mungkin banget." "Iya juga sih, Shas. Yang punya acara kok nekat banget ya?" "Iya kan? Kayak yang udah percaya banget gitu lho sama yang punya hotel. Dan anehnya lagi, Bu Kay." "Apa itu, Shas?" "Pak Aksa itu kan pemilik hotelnya?" "Iya." "Masa sih dia nggak punya asisten, atau karyawan yang menghandel tiap pekerjaan?" "Huum, kamu benar, Shas." "Masa Pak Aksa jalan sendiri cuma mau ngurusin hal kecil kayak gini aja? Cuma dekorasi lho." Kayana mengangguk, berpikir keras. Pemikiran Shasy sangat masuk akal, ternyata diamnya Shasy tadi membuatnya berpikir. "Seorang bos besar sih umumnya banyak hal yang ia pikirkan. Kalau cuma hal sepele kayak gini kan dia bisa nyuruh asistennya kan? Sampai dibela-belain datang ke kantor event organizer. Apalagi yang kita tahu Pak Aksa dan Ferda udah jadi relasi yang dekat, kenapa nggak telpon aja sekalian? Kayaknya ini benar-benar aneh deh."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN