71

1031 Kata
[Kay, terima kasih ya, berkat bunga dari Red Flo. Acara di hotelku sukses, orang yang mempunyai acara puas banget dengan hasil dekorasinya, mereka bilang bunganya begitu mewah. Sekali lagi terima kasih ya, Kay.] Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau Kayana, siapa lagi kalau bukan Aksa. Tapi entah kenapa membaca pesan darinya tidak membuat Kayana benci seperti sebelum-sebelumnya. Sepertinya karena Aksa memuji-muji Red Flo. Tangannya mulai ingin membalas pesan itu, mencari kata yang tepat untuk Aksa. [Sama-sama, Tuan.] send to Mas Aksa Noe. Berulang kali mengetik, kemudian dia hapus, begitu seterusnya hingga hanya pesan singkat itu yang akhirnya terkirim. [Ternyata wajah ayumu itu mempengaruhi aura bunga-bunga yang ada disini. Sepertinya senyummu sudah tersebar hingga melekat pada kelopak yang sudah tersusun ini. Kamu cantik bagaikan bunga mewah dan wangi yang sudah kau kirim, Kay.] [Tak perlu banyak menggombal, Tuan. Gombalan anda itu basi.] Kali ini bibir Kayana sedikit mengembang membaca pesan yang berisi kata-kata memuji itu, masih untung itu hanya lewat sebuah pesan bukan berhadapan langsung. Jadi Kayana tidak harus menyembunyikan senyum itu dan menampakkan raut kekesalannya seperti biasa. [Itu bukan sebuah gombalan, Kay. Itu kenyataan, buang-buang waktu saja kalau aku hanya menggombal, tetapi beda urusannya kalau kamu suka aku gombalin.] [Nggak minat.] [Oke, tapi kalau menikah denganku bagaimana? Sudah minat kan?] [Nggak lucu, Tuan. Pergilah, jangan ganggu saya.] [Aku sedang tidak melucu, Kayana Eveline. Aku serius ingin meminangmu.] [Saya juga serius menolak anda, Tuan.] [Kemarin aku pernah bilang jangan panggil aku dengan sebutan tuan kan, Kay? Kalau kamu masih saja memanggilku begitu, akan aku panggil kamu dengan nyonya Aksa. Mau?] [Anda menyebalkan sekali ya?] [Bagaimana, Nyonya Aksa? Deal?] [Dasar pemaksa.] [Apalah itu menurutmu, terserah. Yang jelas aku ingin mendengar kamu memanggilku seperti awal kita bertemu.] [Apa?] [Mas Aksa. Begitu kan kamu panggil aku waktu pertama dulu.] [Saya sudah lupa, saya tidak akan memanggil anda dengan tuan lagi. Tapi saya juga tidak mau memanggil dengan sebutan itu.] [Kay, semakin kamu rumit membuka hati untukku, aku akan semakin penasaran, lalu datang ke rumahmu dan langsung membawa penghulu.] [Apa-apaan sih, tuan?] [Aku ingin penghulu yang akan sekalian meresmikan kamu menjadi Nyoya Aksa.] [Baiklah, Mas Aksa.] [Ini impianku, Kay. Baru membaca pesanmu memanggilku dengan sebutan mas, jantungku ini hampir saja lepas dari tempatnya. Apalagi jika aku mendengar langsung, bisa-bisa jantungku berhenti berdetak untuk beberapa waktu.] [Anda berlebihan sekali. Harusnya anda itu pantas jadi pengarang, buka pengusaha hotel.] [Oh, jadi menurutmu aku pantas jadi pengarang? Baik, Kay, saranmu aku terima. Dan aku akan mengarang cerita indah kita hingga menjadi sebuah kenyataan. Kamu siap membacanya nanti?] [Sudah lah, Mas. Sudah malam, mungkin anda sudah lelah sampai-sampai kacau begitu pikirannya.] [Justru semakin malam aku akan semakin cemerlang, Kay, tidak ada kata kacau dalam kamusku jika sudah memikirkan kamu.] [Kalau begitu berhentilah berpikir tentang saya.] [Berhenti memikirkanmu itu bukan pilihanku. Tapi memenuhi ruang otakku dengan semua tentangmu adalah tekadku. Jadi percuma saja, Kay, kalau kamu terus menyuruhku melupakanmu. Sebab kamu hanya akan membuang-buang waktu saja, Kay, karena aku tidak akan mundur sebelum bisa mendapatkanmu.] [Apa peduli saya dengan keyakinanmu itu.] [Ya suatu saat nanti, kita lihat saja.] [Sudah cukup, Mas. Saya capek berdebat.] [Nah, begitu lah, Kay. Daripada berdebat lebih baik kita berdamai, saling cinta, saling butuh dan saling memiliki.] [Nggak minat lagi.] [Kay, besok siang aku ingin menjemputmu kalau bisa dengan Erland.] [Menjemputku?] [Iya, aku ingin mengajakmu dan Erland untuk makan siang.] [Tidak perlu, saya masih berani makan siang berdua dengan Erland.] [Sampai kapan kamu akan terus menolak ajakanku?] [Sampai kamu bosan dan berhenti mengejarku.] [Itu tidak akan terjadi, mana mungkin aku berhenti. Oh iya, kamu benar-benar ingin kalau aku berhenti?] [ya, pasti itu.] [Terimalah aku menjadi bagian di keluargamu, cukup itu dan aku tidak akan lagi mengejarmu, namun aku akan selalu menggenggam tanganmu. Mudah kan?] [Cukup, Mas.] [Jadi gimana dengan ajakanku tadi? Mau kan?] [Entah lah.] [Kalau kamu tidak mau makan siang di luar, aku siap datang ke rumahmu, Kay. yang terpenting adalah aku bisa dengan leluasa melihatmu.] [Jangan, Mas. Baiklah saya terima tawaran yang pertama. Tetapi jangan datang ke rumah, Erland masih trauma dengan anda.] [Tapi aku ingin dekat dengan Erland, Kay. Aku ingin mengenalnya.] [Erland sangat berharga untuk saya. Jadi nggak mau dia menangis, sedih, takut dan menangis histeris kayak kemarin. Jadi tolong jangan memaksa untuk bertemu.] [Oke, Kay. Tapi suatu saat aku ingin sekali dengannya.] [Anda bisa mengerti apa maksud saya tadi kan? Jadi jangan nekat dan jadi orang yang menyebalkan.] [Oke, cantik, oke.] Tidak disadari ternyata sudah hampir dua jam mereka saling berbalas pesan. Perasaan Kayana bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Yang tadinya benci dengan Aksa, entah kenapa ia bisa dengan lancarnya membalas pesan lelaki itu sampai berulang kali. Aksa adalah laki-laki paling menyebalkan yang pernah Kayana temui selama ini. Namun untuk kali ini Kayana seperti ingin memberikannya celah dalam hatinya. Memberinya kesempatan dam waktu untuk bertemu lagi dengannya, apalagi Kayana mengiyakan ajakan makan siangnya. Itu sama sekali berbanding terbalik dengan Kayana sebelumnya. Wanita itu tengah duduk sendiri di ruang TV, anggota keluarga yang lain sudah beristirahat di kamar masing-masing. Menyalakan TV hanyalah sebagai temannya duduk, sebab Kayana lebih fokua pada ponselnya dan lebih tepatnya TV yang justru tengah fokus melihat Kayana. Entah apa yang sudah Tuhan siapkan padanya, ia hanya ingin mengikuti kemana arah arus air. Kayana lalu bangun dari duduknya, mematikan TV yang sedari tadi ia biarkan menyala begitu saja. Berjalan ke arah kamar Erland, melihatnya baik-baik saja dalam tidurnya. Dipandangi wajah lucu dan tubuh yang semakin hari semakin bertambah besar. Anak laki-laki yang kelak akan menjadi harapannya, yang akan menjaganya jika ia dewasa. Erland adalah satu-satunya harta yang paling berharga. Yang setiap melihatnya selalu membuatnya teringat pada Julio, papanya. Wajahnya, senyumnya, aroma tubuhnya, jalannya dan tingkah lakunya, semua hampir saja sama dengan Julio. Melihatnya tidur pulas seperti itu membuat Kayana sering menangis. Anak kecil seumuran dia seharusnya sedang bahagia dengan kasih sayang kedua orang tuanya. Dia yang dulu tidak pernah kekurangan apa pun, kasih sayang, waktu bahkan materi dari Kayana dan Julio, sekarang keadaannya harus sedikit berubah. Kini hanya tinggal Kayana yang menjadi satu-satunya orang tua, memberikan apa pun yang Erland butuhkan. Kasih sayang, waktu juga materi. Namun Kayana bertekad bahwa jangan sampai Erland kekurangan itu semua. Ia ingin menjadi mama yang bisa selalu ada dan memberikan yang terbaik untuknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN