72

1018 Kata
Di dalam sebuah restoran bernuansa klasik, Kayana sudah berada disana dengan Aksa, duduk berhadapan dan beberapa makanan juga minuman sudah tertata rapi. Di tengah meja juga ada vas kecil berisi beberapa tangkai bunga dan lilin kecil menyala. Membuat sisi romantis disana semakin terasa. Ini hanya lah sebuah pertemuan makan siang biasa bagi Kayana, ia hanya tidak ingin Aksa datang ke rumah menemuinya, hingga membuat Erland menangis histeris seperti sebelumnya. Karena dari itu ia memilih untuk menerima ajakan Aksa, datang di tempat yang sudah dijanjikan. Berbeda dengan Aksa, makan siang ini begitu spesial baginya. Sejak Kayana mengiyakan ajakannya kemarin, Aksa kemudian mereservasi restoran itu agar dibuat semenarik mungkin. Pantas saja di sekelilingnya tidak ada pengunjung lain yang duduk disana. Ternyata sudah disulap oleh Aksa agar terkesan hanya milik mereka berdua. Kayana selalu berusaha tampil menarik dan cantik saat akan bertemu dengan siapa pun. Baginya berpenampilan rapi adalah kebanggaan. Dress selutut dan sepatu wedges berwarna senada membuatnya memesona di mata Aksa. Belum pernah bagi Aksa menemui hari sebahagia ini, bisa bertemu dengan wanita yang sedang ia gandrungi. Wanita yang membuatnya tergila-gila setelah sekian lama sulit jatuh cinta. Yang bertekad untuk bisa mendapatkannya apa pun caranya. Bagaimana ia tidak bahagia, Kayana yang biasanya menghindar darinya ketika bertemu, bersikap dingin dan sadis, tidak pernah bersikap lembut apalagi tersenyum. Namun sekarang, seperti sebuah mimpi, ia dan wanita pujaannya berada dalam satu tempat, tanpa siapa pun yang menemani. Hanya berdua saja. Dengan perasaan yang begitu mendebarkan. Aksa memang memimpikan waktu seperti ini. Namun ia tidak membayangkan bahwa akan begitu cepat terjadi. Mata Aksa seakan tidak berkedip melihat wanita ayu pujaan hati yang ada di depannya. Membuat Kayana risih, malu juga canggung. Sepertinya pura-pura fokus pada makanannya adalah cara terbaik untuk menghilangkan rasa gugup bagi Kayana. Ternyata hanya menatap wajah ayu tanpa mengajaknya berbicara belum lengkap kebahagiaan Aksa. Ia mulai basa-basi menyapa wanita di hadapannya itu. "Kay, kamu begitu cantik siang ini." "Terima kasih." "Bahkan matahari yang biasanya gagah menampakkan sinarnya seakan malu sebab ada bidadari yang memiliki cahaya lebih terang daripada dia." "Mas, ini bukan ajang bersyair, anda tidak perlu mengeluarkan banyak kata untuk saya." "Kata-kataku ini muncul dengan sendirinya, Kay. Sebab kamu adalah sumber inspirasiku, ketika berada di dekatmu otakku semakin jernih saja. Jadi dengan mudahnya mulutku ini berucap hal-hal indah tentang kamu." "Tapi saya risih." "Kenapa harus risih? Semua ucapanku yang memujimu itu adalah kenyataan." "Kurasa itu hanyalah cara anda saja untuk bisa mendapatkan saya." "Kalau kamu memang meliliki apa pun yang aku puji, itu berarti kamu benar-benar seperti itu." "Yang nanti hanya akan berlangsung sementara, jadi jangan berlebihan." "Ya, silahkan jika kamu masih tidak percaya padaku. Yang pasti, itulah kenyataannya." "Baiklah, memang tidak mudah bagi saya untuk percaya dengan anda." "Nanti akan aku buktikan bahwa aku memang mencintaimu. Kay, semenjak hari itu, hari dimana aku mengungkapkan perasaanku, kenapa sekarang kamu terkesan beda jauh?" "Ya karena saya tidak memiliki perasaan yang sama dengan anda. Jadi seharusnya anda tahu." "Tapi setidaknya kamu tidak perlu merubah gaya bicaramu terhadapku. Bersikaplah biasa saja denganku, seperti dulu." "Maksud anda bagaimana?" "Dulu kita bisa mengobrol dengan santai, berbicara tentang floristmu yang tengah kamu rintis. Kita hanya seperti kawan seumuran. Gaya bicaramu terkesan resmi dan aku yang juga merasa risih sebenarnya. Kamu tak perlu memakai istilah anda dan saya, itu hanya akan membuat kita berjarak." "Lalu harus bagaimana? Saya menghormati anda, karena itu saya memilih untuk bersikap sopan." "Ya anggap saja ini sudah menghormatiku, biasa saja, Kay. Aku dan kamu." "Baiklah, jika itu kemauanmu." "Terima kasih, Kay. Oh iya, aku punya sesuatu untukmu." "Sudah cukup, kamu jangan lagi membawakan barang-barang untukku." "Tak apa, Kay. Aku hanya ingin memberikan hadiah padamu karena sudah sudi datang menemuiku. Tolong diterima ya!" Sebuah kotak kecil berwarna merah marun, ia ulurkan pada Kayana. "Apa ini? Maaf Mas, aku tidak terbiasa menerima barang-barang dari orang lain." Kayana menolaknya, menyodorkan kotak itu lagi pada si pemberi. "Aku tulus, Kay. Terimalah sebagai tanda terima kasihku. Dan mulai dari sekarang kamu harus terbiasa dengan sebuah tanda-tanda yang nanti akan aku persembahkan untukmu." "Tidak perlu, Mas." "Stsss.. kumohon terimalah, Kay." Kayana menyerah, hanya bisa diam dan menerima kotak itu. "Buka dan pakailah." Kotak merah marun terbuka, di dalamnya ada sebuah jam tangan mewah berwarna gold. Yang jika dirupiahkan harganya sekitar lima belasan juta. Kayana sempat melirik benda serupa pada sebuah online store. Dan harganya memang fantastis menurut Kayana, sebab ia belum pernah memiliki jam seharga itu sebelumnya. Benda itu pun ia pakai pada pergelangan tangan kirinya. "Semakin cantik jam itu melingkar ditanganmu, Kay." "Jadi hanya jamnya yang cantik, bukan tanganku. Aku tidak pantas memakainya." "Kamu ini bicara apa? Sudah sepantasnya wanita cantik mengenakan sesuatu yang cantik pula. Jadi pakailah, karena itu cocok untukmu." "Terima kasih." "Sama-sama, Kay. Semoga kamu suka dengan jam tangan ini ya." Kayana lagi-lagi hanya diam, tidak mengerti apa yang ia lakukan. Berada dalam satu meja dengan laki-laki yang ia benci. Namun dengan kondisi hati yang berbeda, lebih santai, lembut dan tanpa ada perkataan yang kasar juga perdebatan. "Terima kasih ya, Kay, sudah datang menemui aku. Terima kasih karena sudah bersikap manis denganku, tidak ada perdebatan, kekesalah maupun kebencian. Dengan begini aku yakin, Kay, bahwa kamu perlahan pasti akan membuka hatimu untukku." Kayana tidak mau lagi menjawab, bahkan tidak punya lagi jawaban yang tepat. Lewat meja makan berplitur yang sangat mengkilap, Kayana bisa melihat wajah Aksa melalui itu. Hidung mancung, rambut cepak dan mata yang tajam, cukup membuatnya tampan. Ya, secara fisik Aksa memang tidak lebih tampan dari Dion. Tetapi dia lebih gagah dan tinggi. "Kay, kok diam aja? Kenapa?" Aksa mengagetkannya dan Kayana memang setengah melamun. Ia benar-benar masih belum menyangka berada disini. "Oh, nggak kenapa-kenapa kok." "Suka nggak sama tempatnya?" "Suka, bagus kok, Mas." "Syukurlah kalau kamu suka. Aku sudah memesan tempat ini dari kemarin spesial buat kamu, Kay." "Oh, begitu? Seharusnya nggak perlu kayak gini, Mas. Aku nggak enak jadinya." "Nggak masalah, ini mauku kok. Apa salahnya memberikan yang terbaik untuk wanita spesial seperti kamu. Karena sudah kubilang sejak awal, akan aku berikan semua yang terbaik untuk kamu. Karena itu, sengaja aku pilih tempat ini dan aku minta agar tidak ada pengunjung lain yang duduk di sekitar kita agar kamu lebih nyaman."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN