Kayana masih berdiam diri di kamarnya, tidak melakukan apa-apa, tidak pula tertidur. Ponselnya sengaja ia matikan untuk menghindari orang-orang yang ingin menghubunginya apa pun keperluannya. Pikirannya benar-benar penuh dengan pilihan yang berat. Dua pilihan yang sama-sama punya alasan baik dan buruk. Yang sama-sama beresiko pula bagi kehidupannya kelak. Karena itu harus dengan pertimbangan yang matang. Tubuh lelahnya pun beranjak, bangun dari pembaringan. Berjalan pelan menuju mejanya, mencari-cari sesuatu dari dalam laci kecil. Sebuah strip obat yang biasa dia minum, ia menelannya disusuli seteguk air putih dalam gelas sebelum sakit kepalanya berlanjut. Biasanya rasa nyeri itu akan hilang setelah selang beberapa jam setelah obat reaksi. Kayana hanya tidak ingin waktunya akhir-akhir in

