“Terima kasih, Kay. Jaga diri baik-baik ya, kalau seandainya merindukan kamu itu sebuah kesalahan yang besar, mulai sekarang maafkan aku ya, Kay. Entah sampai kapan perasaanku ini ada buat kamu, yang jelas terlalu sulit buatku melupakan kamu.” “Bisa, Mas. Mas Dion pasti bisa dengan mudah melupakan aku dan mencari perempuan yang lebih baik.” “Aku masih sangsi, Kay. Bertahun-tahun aku terluka karena perempuan dan kamu lah obatku. Tapi sekarang lukaku semakin dalam sebab obatku sendiri. Mungkin memang takdirku harus selalu sendiri, Kay.” “Mas, kumohon jangan bicara seperti itu. Suatu saat bakalan ada perempuan yang menjadi obat lagi. Percayalah.” “Mungkin ini yang namanya trauma, Kay. Aku nggak mau sakit lagi, cukup ini yang terakhir.” “Mas Dion..” “Sudah lah, Kay. Sebagai obatku

