Khawatir

1585 Kata

Sadewo menatap ke arah Davin yang sedikit bersedih. Terlihat dari muka yang sengaja di bikin tersenyum. "Jadi, masih mau menunggu sampai, Bundamu datang?" tanya Sadewo seraya tersenyum memegang bahu Davin. "Ya nih masih lama kayaknya, biasanya kalau di kampung, Davin naik sepeda tapi kalau disini gak boleh," kesal Davin dengan muka manyun. Sadewo tersenyum melihat tingkah Davin yang kesal. "Ya, gak boleh bahaya. Kan ini jalan raya. Kalau kenapa-napa sama kamu kasihan, Bunda kan." Davin terdiam. "Hu um benar." "Gimana kalau, Om antarin ke rumah. Nah sampai di rumah kamu telepon, Bunda kalau kamu sudah pulang. Jadi gak perlu, Bunda kamu datang menjemput." Sesaat Davin berpikir. "Emm. Boleh deh, Om." "Nah begitu, habiskan dulu es jeruknya. Baru nanti, Om antarkan." "Baiklah, Om."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN