"Ucapin... Enggak... Ucapin... Enggak...."
Keyla terus mengucapkan kedua kata itu berulang kali seraya melihat ponsel di genggaman nya dan menatap kontak seseorang yang akan berulangtahun malam ini.
Hingga akhirnya jam digital di ponsel nya itu pun menampilkan jam 00:00 dan jari jemari mungil itu sontak menari di atas layar ponsel dengan cepat dan lincah.
"Sekarang kirim atau enggak? Tapi kesan nya gue niat banget jam segini udah ngucapin. Tapi emang niat sih. Gak tau ah"
Merasa bingung, Keyla melempar ponsel nya ke kasur tanpa memperdulikan pesan yang tadi ia ketik sudah terkirim atau belum.
Kini Keyla menelungkupkan wajahnya ke bantal, hari yang dia tunggu - tunggu sudah berganti tetapi entah mengapa sekarang rasanya hampa.
Hari dimana penuh rencana dan kejutan yang sudah ia pikirkan dari jauh jauh hati di otak nya, sekarang terasa sudah tidak berguna lagi.
Keyla membaringkan tubuhnya dan menatap langit - langit kamar nya yang penuh sticker bulan dan bintang yang akan bersinar apabila lampu kamar nya di padamkan.
Terkadang, waktu memang terasa terlalu cepat berlalu. Dengan sesingkat itu, hal - hal yang terjadi diantara kita berdua udah terasa beda.
Dan yang tadinya selalu saling menganggu setiap saat bahkan sekarang merasa canggung hanya untuk sekedar menyapa bila bertemu.
☆~○~☆
Seperti pagi - pagi biasanya, Keyla dengan rambut sebahu yang dibiarkan terurai dan ransel merah di punggungnya berjalan ke kelas Kevin dengan memegang sebuah kotak di kedua tangan nya.
Lengkungan senyum Keyla di pagi hari ini menyempurnakan perasaan senangnya kala menatap sekotak benda yang sudah dibungkus kertas kado bergambar not balok hitam dengan dasar putih lengkap dengan pita diatas nya.
Keyla pun sampai di depan kelas Kevin, mencondongkan tubuhnya ke dalam untuk memastikan belum ada orang didalam, apalagi Kevin. Akhirnya dengan penuh percaya diri, Keyla masuk dan meletakkan kado itu di laci meja milik Kevin.
Dirinya tersentak ketika mendengar sebuah barang tergeser. Ternyata Keyla menemukan sebuah kotak yang lebih besar ukuran nya dari miliknya yang juga di bungkus kertas kado tetapi berwarna merah muda dengan gambar hati dan pita besar merah di atas nya.
Rasanya tenggorokan Keyla seperti tercekat. Ya, ia bisa memprediksi bahwa hadiah itu tidak lain tidak bukan dari seorang Gita yang nota bene nya adalah pacar Kevin.
Sulit memang rasanya menyadari bahwa orang yang kita sayang sudah menjadi milik orang lain. Tetapi memang itu kenyataan nya. Dan kenyataan terkadang memang pahit.
Tidak mau ketahuan berlama - lama meratapi nasib di kursi Kevin, Keyla langsung keluar dan berjalan ke kelas nya. Dengan tentu saja memikirkan kejadian menyedihkan pagi ini.
Keyla menaiki satu persatu anak tangga dengan bibir yang dimanyunkan sambil merutuk tidak jelas, begitupun seterusnya sampai ia memasuki kelas dan duduk di kursi nya.
Suasana kelas Keyla dan Kevin tidak jauh berbeda, di pagi hari ini masih sepi, hanya ada satu atau dua anak yang duduk diam atau sesekali melirik ponsel nya sambil menunggu yang lain datang. Kebiasaan Keyla di pagi hari.
"Key, udah sarapan belom?" tiba - tiba tanya Lintang yang masuk kelas dan langsung menaruh ransel nya.
Keyla menggeleng, "Sejak kapan gue berangkat ke sekolah udah sarapan?"
"Yaudah ayo ke kantin makan. Laper..." ujar Lintang sambil memegangi perut dan memasang wajah memelas nya.
Kebetulan perut Keyla juga mulai berteriak, akhirnya ia tidak menolak. Kedua sejoli itu keluar kelas dan berjalan ke kantin dengan mengobrol ringan dan sesekali tertawa hanya karena gombalan ataupun bercandaan receh ala Lintang.
"Mang Ujang, siomay nya dua piring ya" teriak Lintang dengan lumayan keras dari tempat dimana ia duduk.
Lintang yang melihat Keyla sedaritadi hanya diam, karena biasanya bercerita terus menerus hingga bosan, akhirnya memperhatikan gerak gerik perempuan di hadapan nya itu.
"Kenapa?" tanya Lintang dengan mengetukan jari jemari nya diatas meja.
Keyla langsung mendongak, "Ha? Kenapa?"
"Ditanya malah balik nanya" tukas Lintang memutar kedua bola mata nya. "Lo diem aja daritadi. Kenapa lagi?" sambung Lintang.
"Hari ini hari ulang tahun Angkasa" jawab Keyla masih memainkan garpu dan sendok di tangan nya.
Lintang mengangguk mengerti, "Terus lo udah ngasih dia kado? Atau lo gengsi ngucapin ke dia?"
Keyla menggeleng, "Gue tadi ke kelas dia, taruh kado di laci meja nya"
Lintang masih terdiam menunggu lanjutan dari cerita Keyla.
"Terus ternyata ada kado juga disana. Dan kayaknya, dari Gita" tutup nya.
Dua mangkuk siomay telah sampai di meja kedua nya. Lautan siomay yang dibaluri bumbu kacang itu sudah bersemayam di piring hadapan Lintang, sedangkan Keyla polos hanya dengan kecap diatas nya.
"Ya wajar lah. Namanya juga cewenya" ucap Lintang ringan dengan menambah saus di atas siomay nya.
Jengkel dengan jawaban Lintang, Keyla mengumpat dalam hati, dasar cowo enggak ngerti banget perasaan cewe sih.
"Kenapa? Gue salah ngomong?" tanya Lintang bingung karena Keyla langsung terdiam kembali.
"Pikir aja sendiri" jawab Keyla dengan sinis nya.
Siomay dihadapan nya menjadi saksi bisu dari kekesalan Keyla. Hanya menjadi pelampiasan kemarahan nya dengan memotong - motongnya sampai menjadi potongan kecil dan mengunyah nya tanpa ampun.
"Besok ada acara gak, Key?"
Hampir saja tersedak, Keyla langsung meneguk segelas air putih di samping nya dan berusaha terlihat normal lagi.
Keyla menggeleng, "Sejauh ini sih belum ada rencana untuk dateng ke suatu acara"
"Yaudah besok jalan ya sama gue"
Entah kenapa rasanya ada kupu - kupu terbang di perut Keyla. Ini bukan sekedar kupu - kupu, tetapi ribuan ubur - ubur yang menyengat perut nya.
Belum sempat menjawab, Lintang sudah berdiri dan dan menjulurkan tangan nya, "Ayo ke kelas"
Keyla langsung ikut berdiri tanpa membalas uluran tangan Lintang, membuatnya untuk kesekian kalinya mengacak - acak rambut Keyla.
"Lo udah ngucapin ke Kevin?" tanya Lintang ditengah perjalanan mereka kembali ke kelas.
"Kan udah sekalian di kartu ucapan" jawab Keyla sekenanya.
"Emangnya yakin dia bakal buka kado atau baca kartu ucapan lo?" tanya Lintang meledek.
Keyla menghentikan langkahnya dan memanyunkan bibirnya. Membuat Lintang gemas dan akhirnya menarik tangan Keyla, "Bercanda, sayang"
"Lo kenapa masih baik sih sama Kevin sedangkan lo tau sendiri dia udah begitu sama lo" ujar Lintang terlihat kesal.
"Gue baik sama semua orang" jawab Keyla dengan menaikan kerah seragam nya dan tersenyum.
"Sama Gita juga, dong?" tanya Lintang meledek.
"Najis"
Keduanya terus mengobrol satu sama lain sepanjang koridor dan beberapa kali menaiki satu persatu anak tangga. Serasa jalanan pagi ini milik mereka berdua.
"Pagi - pagi gini tuh ya Key enaknya---Key, lewat sana aja deh kayaknya"
Lintang yang tiba - tiba memutar balikan tubuhnya ketika akan melewati tikungan di ujung koridor membuat Keyla kaget dan tertabrak punggung Lintang.
"Ih tangga nya kan disana. Ngapain jauh - jauhin jalan lagi?" rutuk Keyla kesal dengan keputusan Lintang.
Lintang menggosokan kedua telapak tangan nya, "Gue lagi mood lewat sana"
"Apaansih, Lintang? Udah ah awas" ujar Keyla yang mendorong kesamping tubuh Lintang dan meneruskan kembali ke jalan yang sudah mereka pilih tadi.
Pemandangan di hadapan Keyla membuat dirinya terdiam mematung. Entah apa yang membuatnya bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Tetap terdiam dan merasakan sakit, atau berlari dan menolak kenyataan?
"Tadi kan gue udah bilang, Key..." lirih Lintang sangat pelan dari belakang Keyla.
Lintang langsung menarik tangan Keyla untuk menjauh dari tempat itu dan berjalan berlawanan arah seperti jalan yang akhirnya Lintang pilih tadi.
Dan Keyla masih terdiam, dengan kedua mata yang berlinang air mata, dan seulas senyum tipis miris yang terukir di wajah pias nya.
Kevin berpelukan dengan Gita.