Chapter 3

1360 Kata
Keadaan di kamar itu senyap, hanya ada Heera dan Micel yang saling pandang dalam diam. Mereka kembali menatap layar komputer dan mencoba menghapus aplikasi game Adventure Soul, tapi anehnya tak bisa terhapus. Aplikasi itu datang secara misterius, bahkan tak bisa dihapus menggunakan cara apa pun. Jika komputer dalam keadaan mati pun, Heera bertaruh game itu akan muncul kembali secara tiba-tiba. Dia merasa bahwa ada kekuatan tersembunyi yang mengendalikan game itu. “Kau tahu dari perusahaan mana game ini berasal?” tanya Micel. Dengan wajah penuh derita, Heera hanya menggeleng. Dia nyaris menangis meratapi hidupnya yang cukup malang ini. Menangkap basah kekasihnya berselingkuh, dan mendapat game misterius yang tiba-tiba muncul. Dia bahkan dengan bodohnya mendaftar dan tak mencari tahu dari perusahaan mana game ini berasal. “Hah, kau ini!” Micel berpikir sejenak, dan Heera hanya menarik-narik pakaiannya dengan wajah cemberut. “Bantu aku, ya, ya. Aku tidak mau game itu tiba-tiba muncul lagi.” “Aku tidak bisa menghapusnya. Kalau begitu, kau tidak usah menghidupkan komputernya.” Wajah Heera berubah ngeri. “Tidak, game itu seperti punya sihir. Meski tanpa aku hidupkan, game tetap muncul. Apakah di dunia ini ada hantu?” Heera mencengkeram pakaian Micel dengan erat, wajahnya penuh ratapan seakan hendak menangis, membuat Micel merasa tidak tega. “Oke, bagaimana jika malam ini aku tidur di sini?” Heera segera bangkit sambil menepuk bahu Micel dengan wajah senang. “Bagus! Besok antar aku membeli komputer baru, oke.” “Kau masih punya uang?” “Pakai uangmu, hehe~” Micel memutar matanya dengan sebal dan bosan, sedangkan Heera hanya memberinya senyum lebar sambil memijat bahu Micel. **** Waktu sudah menunjukan tengah malam, Heera tidur di kamarnya bersama dengan kucing berbulu oren kesayangannya, sedangkan Micel tidur di ruang tengah. Tiba-tiba semilir angin bertiup masuk ke dalam kamar, membuka jendela. Heera terbangun dengan takut, dia menatap jendela yang terbuka. Seingatnya, jendela sudah tertutup bahkan terkunci. Dia segera turun dari ranjang dan mengunci jendela kembali. Kucingnya masih tertidur, bergelung dengan damai. Ia berjalan ke lemari dan mengambil selimut untuk Micel. Malam ini, Micel menemaninya dan tidur di ruang tengah tanpa mengenakan selimut. Dia keluar dari kamar dan mendekati tubuh Micel yang tertidur dengan kaki menjuntai ke lengan sofa, kemudian menyelimutinya. Semenjak Micel datang, komputernya dimatikan dan Heera tak menemukan hal aneh apa pun terjadi pada komputernya. Besok dia berencana mengganti komputernya dengan yang baru. Sebelum itu, dia akan memindahkan semua file di komputernya malam ini sebelum menyingkirkan komputernya. Heera pergi ke ruang kerjanya, semua lampu di apartemennya dalam keadaan menyala terang. Hanya lampu di ruang kerjanya yang mati, seingatnya dia tak mematikannya sama sekali. Heera pikir mungkin saja itu Micel yang mematikannya. Dia berjalan masuk dan menghidupkan lampu hingga kembali terang benderang. Keadaan di ruang kerjanya senyap. Mata Heera membulat dengan jantung nyaris melompat dari rongga dadanya. Matanya terpaku pada layar komputer yang kini sudah menyala dan menampilkan game Adventure Soul. Tak ada lagi suara sistem, hanya menampilkan sebuah pemandangan nyata di mana sebuah negeri sihir, dengan bangunan-bangunan yang kuno dan khas Kerajaan. “Bagaimana bisa?” bisiknya. Dia bahkan tak menghidupkan komputernya. Hawa dingin tiba-tiba melintas di belakangnya, meniup tengkuknya. Heera bergidik, merasakan seluruh bulu kuduknya merinding. Dia berbalik tapi hanya ada ruangan kosong di belakangnya, jendela pun dalam keadaan tertutup. Dari mana datangnya angin dingin itu? Dia segera mendekati komputer dan hendak mematikannya lagi, tapi suatu hal lainnya datang secara tak terduga. Tiba-tiba layar berubah putih sepenuhnya. Cahaya putih dari layar komputer itu bahkan sampai menembus keluar, menyinari tubuh Heera sepenuhnya. Dengan jantung bertalu keras, Heera memberanikan diri untuk mendekati komputer dan mematikannya. Sebuah pusaran angin tiba-tiba muncul di ruangan itu, membuat segala benda yang ada di sana terbang ke udara dan berputar. Heera terlalu terkejut untuk mencerna apa yang terjadi, dia hanya mengerjapkan matanya beberapa kali melihat semua benda di ruangan itu berterbangan ke udara dengan embusan angin yang keras. Cahaya putih dari layar komputer tiba-tiba membesar dan menyelimuti ruangan itu. Seperti ada lubang hitam yang besar di layar komputer dan tubuh Heera mulai terangkat dari lantai. Dia berpegangan pada meja dan mulai berteriak, “Micel! Micel!” Tubuhnya tersedot ke dalam layar komputer dan sepenuhnya menghilang ditelan pusaran cahaya putih itu. Heera memejamkan mataya, merasa bahwa tubuhnya begitu ringan dan seakan melayang. Ketika membuka mata, hanya ada ruang hitam dan kosong sejauh mata memandang, dia bahkan tak bisa melihat apa pun lagi. “Nona? Nona bisa dengar aku?” Itu suara sistem 095! Suara itu seperti berdengung di telinganya, begitu dekat tapi tak terlihat. Seakan sistem berada di sampingnya dan begitu nyata. Heera segera bangun dan menolehkan kepalanya ke sana-sini, hanya ada ruangan kosong tanpa ujung. “Sistem 095? Kaukah itu?” “Benar sekali~ Nona sudah memasuki batas paralel dua dunia.” “Apakah aku migrasi ke dalam game?” tanya Heera lagi. Tak ada sahutan dari sistem, Heera melangkah kakinya tapi hanya ada rasa dingin dan ruang kosong sejauh ini. Seberapa pun dia berjalan, dia tak menemukan apa pun. Tiba-tiba tubuhnya terasa membeku dan jantungnya seperti berhenti berdetak. Dia sendiri, di ruang kosong tanpa batas. Otaknya membayangkan jika dia mungkin saja sudah mati. “Nona belum mati, itu ... ada sedikit kesalahan teknis tadi. Jadi, tubuhmu ikut terseret ke dunia paralel ini. Hehe~” Wajah Heera berubah kesal, marah bercampur takut. “Hehe? Kau masih memiliki mood untuk tertawa?” “Maaf, maaf, Nona~ sebentar, sistem sedang diperbaiki dan kau akan segera tiba.” Tiba? Tiba di mana? Di dunia game? Jika tubuhnya ikut tersedot ke batas dunia paralel, akankah dia kembali ke dunianya? Akankah Micel mencarinya karena dia tiba-tiba menghilang? Semua pikiran berkecamuk di benak Heera, dia bahkan ingin menangis meraung-raung sambil berguling-guling di tanah dan mengutuk sistem. “Sistem? Kau masih di sana? Sistem?” Masih tak ada sahutan, ketakutan itu semakin besar. Heera menjatuhkan tubuhnya dan hanya ada bidang hitam dan gelap tanpa cahaya di bawahnya. Rasanya dingin, dia sendiri tak tahu itu apa. “Sistem jelek? Kalau kau tidak bicara aku akan menangis sekarang juga.” “Ey, jangan begitu, Nona~ Kau akan menjadi Heroine dari dunia virtual ini, jangan menangis, jangan menangis~” “Heroine pantatku!” balas Heera dengan kesal. Beberapa saat dalam keheningan, Heera masih menunggu sistem yang sedang dalam perbaikan. Dia sendiri tak mengerti, game jenis apa ini yang membuat pemainnya bisa masuk ke dunia game secara langsung. Dia menebak, game ini memang dipenuhi dengan sihir tak masuk akal. “Sistem, game ini memiliki sihir ya?” tanya Hera penasaran selagi menunggu. Tak ada jawaban dari sistem. Dengan marah bercampur takut dia pun hanya bisa pasrah untuk menunggu. Sampai sebuah cahaya tiba-tiba muncul tak jauh dari tempatnya. Dia pun segera bangun dan meraba-raba bidang kosong di depannya untuk mendekati cahaya. Semua bidang yang dipijaknya tak ada lubang, jadi sementara ini dia merasa aman. Semakin Heera mendekati cahaya itu, semakin dia bisa melihat dengan jelas pemandangan di depannya; sebuah padang rumput hijau, dengan bunga-bunga liar yang tumbuh indah. Matahari bersinar terang di atasnya. Di depannya pun ada pegunungan yang indah dan hijau. Daripada berada di tempat mengerikan ini, lebih baik dia segera berjalan ke depan dan melintasi batas dunia paralel. Dia melintasi cahaya itu, dan kakinya menjejak di atas rumput yang terasa hangat, bergoyang-goyang diterpa angin. Ada segerombolan kupu-kupu yang mengerubungi bunga-bunga liar berwarna-warni. Heera berdiri di tengah padang rumput itu, menoleh ke belakang dan melihat lubang batas dua dunia itu secara perlahan mengecil, dan menghilang sepenuhnya, menyisakan pemandangan padang rumput di belakang pegunungan. Angin bertiup, menerbangkan rambut pirang Heera yang panjang, dan kupu-kupu mengelilingi tubuhnya. Dia bahkan menatap tubuhnya sendiri yang mengenakan celana panjang kebesaran dengan crop top lengan panjang yang mengetat di tubuhnya, ada selendang panjang di bahunya, dan cadar tipis yang menutupi separuh wajahnya ke bawah. Di punggungnya, dia bahkan menggendong busur panah berwarna biru dan emas yang nampak berkilauan dengan ukiran yang unik. Ding! Layar virtual kembali muncul di hadapannya. “Selamat datang di negeri Bashara~” ujar sistem. Heera diam, memijat kepalanya dengan mata terpejam sesaat. “Kenapa kau membawaku ke sini? Aku baru saja ingin mengganti komputernya!” teriaknya pada sistem. “Nona jangan marah. Nikmati saja waktumu di negeri yang indah dan penuh sihir ini~”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN