Heera menjatuhkan tubuhnya ke rumput, dia menatap ke sekeliling dan sejauh mata memandang itu hanya pegunungan hijau dengan udara segar dan matahari yang bersinar terang. Kupu-kupu masih berterbangan disekitar tubuhnya, seakan menyambutnya datang ke dunia ini. Dia meraih busur panahnya dan menjatuhkan diri ke rumput, berbaring menatap langit dengan awan putih yang beriak di langit biru.
“Bagaimana aku bisa menikmatinya jika taruhannya nyawa?” gumam Heera. Dia menatap langit, menaruh tangannya di matanya untuk menghalau cahaya.
“Kau bisa kembali, setelah menyelesaikan misi, seperti misi pertama.”
Dia menoleh ke arah sistem yang masih ada di sampingnya. “Jadi, jelaskan semuanya.”
“Jadi begini~” Sistem kembali terdengar ceria. “Nona memiliki senjata sihir, berupa busur panah namanya busur panah Katrya. Tak perlu anak panah, karena itu bisa digunakan dengan sihir. Nona memiliki kemampuan sihir juga. Di dunia ini, tidak semua manusia memiliki sihir. Di dunia ini juga, ada berbagai macam makhluk tidak hanya manusia. Di dunia ini juga ada banyak penyihir dengan kemampuan masing-masing.”
“Jadi, apa tugasku?”
“Mencari Putra Mahkota Yasabadra.”
Heera mengangkat tangannya dan seekor kupu-kupu dengan sayap kuning hinggap di ujung jarinya, mengepakkan sayapnya. Dia menatapnya sejenak, sambil berpikir. “Yasabadra? Nama yang indah. Dia tampan tidak?”
“Mana saya tahu, Nona~”
“Sistem tidak berguna.”
Keadaan hening dan Heera kembali bertanya, “Heh, siapa yang menciptakan game ini?”
Sistem tidak menjawab, Heera mendengkus sebal, wajahnya cemberut. Meski informasi mengenai Putra Mahkota ini tidak detail dan lengkap, tapi dia bisa merasakan bahwa Putra Mahkota saat ini hidup menderita. Diasingkan, dibelenggu dengan mantra sihir juga.
Heera bangun dan segera berdiri, dia kembali menatap sekeliling. Lebih baik dia bergerak cepat, karena semakin cepat dia membantu Putra Mahkota melepaskan belenggu sihir maka semakin cepat dia menyelesaikan misi dan kembali ke dunianya.
“Baiklah, sistem jelek. Apa saja ability yang kumiliki?”
“Kau bisa mengendalikan beberapa binatang sihir, kau juga bisa memecahkan formasi sihir. Seiring berjalan waktu, kau akan menemukannya sendiri, Nona~”
Wajah cemberut Heera berubah penuh senyum cerah, matanya berbinar-binar senang. Dia memiliki kekuatan sihir, dan bisa menggunakannya di dunia ini. Setidaknya dia bukan perempuan payah yang hanya bisa menangis minta perlindungan dari protagonis.
“Aha! Bagus, bagus!” katanya sambil menepuk tangan.
“Tadi terus marah-marah, sekarang senang,” gumam sistem, suara imutnya berubah bingung.
“Ayo kita pergi. Eh tunggu, aku harus menemukan sesuatu untuk dikendarai,” ujarnya sambil menolehkan kepala ke sana-sini.
Tiba-tiba di langit terdengar suara burung elang yang terbang menukik ke arahnya. Heera mengangkat tangannya dan mengeluarkan sihirnya untuk menembak burung elang itu hingga terjatuh di dekat kakinya. Dengan wajah takjub dia menatap kedua telapak tangannya yang bisa mengeluarkan sihir.
“Ini hebat, aku sungguh bisa menggunakan sihir,” gumamnya dengan takjub.
“Kan aku sudah katakan, Nona~ menyenangkan bukan?”
“Diam, sistem jelek,” sahutnya.
Sistem segera diam dan layar itu menampilkan visual pakaian. “Nona harus ganti pakaian, ayo cepat pilih. Hanya menukar 100 poin saja~”
Heera menatap sistem dengan datar. “Hanya 100 poin saja? Aku pakai ini saja.”
“Tapi pakaian itu jelek, tidak seperti seorang Heroine, benar?”
Heera nampak menimbang-nimbang, dan apa yang sistem katakan ada benarnya juga. Dia memang terlihat cukup lusuh dan jelek dengan pakaian ini, setidaknya dia harus menyembunyikan identitasnya sebagai seorang penyihir.
“Kalau begitu aku akan pilih yang lain, carikan yang bagus.”
Setelah menekan pilihan ‘yes’, sistem berdengung sesaat. Semilir angin bertiup di sekelilingnya, membawa bunga dandelion berterbangan di udara. Asap putih tiba-tiba menyelimuti tubuh Heera, dan begitu menghilang, dia menatap dirinya sendiri.
“Apa-apaan ini?!” teriaknya dengan marah.
Dengan wajah ngeri dia memandang dirinya sendiri, saat ini mengenakan atasan menyerupai bralette dengan punggung yang terbuka sepenuhnya dan hanya tali tipis yang menahan atasannya, dan belahan dadanya terlihat jelas. Rok panjang dengan belahan sampai ke paha atas, dengan belt dari mutiara-mutiara yang menjuntai. Rambut panjangnya dicepol ke atas, dengan anting-anting besar. Heera bergidik merasakan hawa angin menerpa punggungnya yang terbuka sepenuhnya.
“Ini lebih menyerupai wanita penghibur di rumah bordil daripada Heroine!” Teriaknya dengan kesal. Dia melepaskan belt di pinggangnya dan menghancurkannya dalam sekaligus. “Kau mengajakku ribut ya, sistem jelek?”
“Tapi itu cantik dan seksi~”
“Sistem?” suaranya keluar diantara giginya.
“Iya, iya, aku ganti, aku ganti~” Suara sistem terdengar ngeri.
Asap putih kembali menyelimuti tubuhnya, dan begitu memudar tampilannya sudah kembali berubah. Dia mengenakan atasan berwarna merah berlengan panjang dan ketat, memiliki sulaman-sulaman indah berwarna hijau. Dengan celana pendek berwarna hitam dan dibalut rok panjang dan lebar yang tipis memiliki belahan di kedua sisinya sampai ke pinggang.
Rambut pirangnya diikat separuh, dan dibiarkan tergerai sisanya. Ada hiasan dari perak di kepalanya, yang menjuntai ke dahinya. Dia juga mengenakan sepatu boot sampai betis dari kulit.
Heera menepuk dahinya dengan wajah pasrah. Dia tidak tahu kenapa sistem memiliki selera yang sangat buruk pada fashion. Dia pikir pencipta game ini pasti orang aneh.
“Wah, kau cantik~” puji sistem, dengan suara imut.
Heera memutar bola matanya sambil menjawab, “Aku memang sudah cantik dari lahir.”
“Haha! Kau ternyata narsis juga, Nona~”
Tiba-tiba ada kembang api dan kupu-kupu cahaya berterbangan di atasnya. Lagi-lagi Heera menepuk dahinya merasa pusing lama-lama berurusan dengan sistem tidak berguna ini. Mengabaikan sistem, dia pun meraih burung elang di dekat kakinya yang masih hidup tapi tak bisa bergerak. Dia mengelus kepala elang itu pelan.
“Heh, elang, aku pinjam dulu tubuhmu, oke.”
“Kau penyihir tidak sopan.” Sebuah suara muncul entah dari mana.
Heera menolehkan kepalanya ke sana-sini, untuk melihat keadaan sekitar yang hanya ada dirinya sendiri. “Siapa itu?” tanyanya.
“Ini aku, elang di tanganmu!”
Heera berjengit terkejut dan melempar elangnya dalam sekaligus, terdengar suara teriakan kesal berasal dari elang di tanah.
“Aku bukan elang biasa, aku elang magis. Lepaskan mantramu, aku tidak bisa bergerak.”
Heera mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa ngeri sekaligus takjub. Dia berjongkok meraih kembali tubuh elang itu. “Wah, bahkan binatang pun bisa berbicara,” gumamnya dengan takjub.
“Aku elang magis. Tidak semua binatang magis bisa berbicara, kecuali mereka adalah penyihir yang memang dikutuk. Aku seorang penyihir yang dikutuk, jadi tentu saja aku bisa bicara.”
“Menakjubkan,” puji Heera. Semenjak datang ke negeri ini, dia belum memuji apa pun, pekerjaannya hanya mengeluh sambil mengutuk. “Kalau mau kulepas, ayo bantu aku. Kau bisa membesar? Bantu aku mencapai istana Kerajaan.”
“Heh, memangnya kau siapa?”
“Aku penyihir, tentu saja,” katanya dengan bangga. “Mau tidak? Aku beri makanan kalau kau mau. Kau suka apa? Burger? Pizza? Steak? Ramen?”
“Nona ... tidak ada itu di sini, oke~” interupsi sistem.
“Oh,” balas Heera dengan wajah datar.
“Berikan aku darahmu, aku bisa membantumu,” kata elang itu.
Heera melempar elang itu ke tanah dan terdengar kembali suara teriakan kesal. “Enak saja. Yang lain, yang lain. Kau ini elang apa vampir?”
“Apa itu vampir?” tanya si elang. Elang itu bergerak-gerak di atas rumput, meski kakinya tak bisa digerakkan.
“Makhluk yang suka menghisap darah, wujudnya manusia tapi bisa berubah jadi kelelawar, mereka hidup menghisap darah manusia juga,” jelas Heera.
“Terdengar mengerikan, biasanya kelelawar makan buah-buahan, kan? Atau minum darah hewan? Aku belum pernah bertemu, kau pernah bertemu?” tanya si elang, tubuhnya bergerak-gerak dan berputar di rumput. Terlihat tidak bermartabat sekali sebagai hewan yang terkenal garang.
Heera berpikir sejenak, tapi buru-buru menggeleng. “Tidak pernah juga, tapi kalau kau mau membantuku mencapai istana Kerajaan, aku akan membawamu pada vampir.”
“Wah, aku mau lihat makhluk itu kalau begitu!” jawab elang.
“Kenapa kalian bergosip di sini?” tanya sistem dengan suara imutnya yang pasrah.
“Kau tidak bisa bedakan negosiasi dan gosip ya? Sistem payah,” gerutu Heera.
“Heh, lepaskan dulu sihirmu, aku bisa membesar ke ukuran yang bisa menampung dua orang di punggungku.”
“Oke.” Heera melepaskan sihir yang mengikat elang, dan burung itu segera bangun dengan kedua kakinya.
Tiba-tiba tubuhnya membesar ke ukuran yang memang tidak main-main. Kedua sayapnya berkepak-kepak dengan begitu lebar, hingga angin berhembus ke wajah Heera dan membuat rambutnya berantakan.
Heera menatap elang itu dengan datar. “Bisa tidak jangan pamer? Rambutku berantakan, tahu!”
“Dasar bawel. Ayo cepat naik! Setelah itu kau pertemukan aku dengan vampir.”
Heera melompat naik ke atas elang dan duduk bersila di punggungnya, sedangkan layar sistem kembali menghilang dan selalu muncul secara tiba-tiba. Elang itu mulai mengepakkan sayapnya yang besar, membuat bebungaan dan rumput bergoyang. Tubuhnya terangkat dari tanah dan melesat di udara.
“Waaahhh!! seperti naik helikopter versi dunia lain,” teriak Heera dengan takjub. “Elang, bagus, bagus. Mau jadi temanku tidak?”
“Pertemukan dulu aku dengan vampir.”
Aku bahkan tidak tahu vampir itu ada atau tidak. Oke! Aku harus memikirkan cara lain, gumamnya dalam hati.
******