Chapter 5

1191 Kata
Elang itu mendarat di puncak bukit hijau, dan Heera melompat dari punggung elang. Dia berdiri menatap ke arah kota, rok dan rambutnya berkibar tertiup angin, dan hiasan dahinya sedikit bergoyang. Elang besar itu kembali mengecil ke ukuran normal, sedikit berputar di langit kemudian mendarat di atas bahu Heera. Dengan angin bertiup menerbangkan pakaian dan rambutnya, elang mendarat di pundaknya dan busur panah indah di punggungnya, penampakan ini terlihat begitu sempurna. Mata biru Heera menatap ke kejauhan, ke tempat di mana menjadi tujuannya. Senyum mengembang di bibirnya. Tiba-tiba dia berteriak heboh, “Ini sempurna! Bukankah aku seperti Heroine di film-film? Kyaaa~” “Kenapa kau?” tanya si elang. “Nona bertingkah aneh lagi,” ujar Sistem. Heera memeluk tangannya dengan wajah senang, membayangkan semua skenario yang sudah dia ciptakan di kepalanya. Menerobos istana, menemukan Putra Mahkota dan menyelesaikan misi, lalu kembali ke dunianya. Setidaknya, otaknya sudah membayangkan bahwa Putra Mahkota akan memiliki tubuh yang tinggi dan gagah, dengan wajah yang sangat rupawan dan penuh pesona. Terlepas dia yang terkena kutukan atau tidak. Ingat, protagonis tidak pernah jelek, katanya dalam hati. “Ayo kita ke istana Kerajaan,” katanya seraya membawa langkahnya, bersiap menuruni bukit. “Kalau ingin masuk ke istana, pikirkan cara untuk masuk,” kata elang, menginterupsi. “Aku hanya perlu menggunakan sihirku untuk masuk.” Elang itu membenturkan kepalanya ke kepala Heera sambil mendengus. “Heh, sihirmu? Pikirmu Raja dan Ratu orang biasa? Raja Wikrama dan Ratu Samanthawitra adalah orang yang level sihirnya paling tinggi di negeri ini.” Bukan merasa takut, Heera justru merasa semakin bersemangat. Dia menatap ke depan dengan takjub. “Hebat, jadi mereka bukan hanya Raja dan Ratu biasa? Lalu, bagaimana dengan Putra Mahkota?” “Tidak ada yang tahu tentang Putra Mahkota Yasabadra, dia jelas hidup di istana,” jawab elang. “Aku memiliki cara bagaimana bisa masuk ke istana!” pekik Heera. Dia adalah seorang penulis novel, dan wawasannya cukup luas apalagi mengenai imajinasi dan ide-ide brilian. Hidup di dunia modern, jelas jauh lebih maju daripada hidup di dunia virtual yang penuh sihir ini. Heera sudah memikirkan bagaimana caranya untuk masuk ke istana, jika dia harus menyembunyikan sihirnya sementara. “Bagaimana?” tanya elang lagi. “Aku akan pergi ke ibu kota dan mengubah tampilanku, aku akan menyamar menjadi pelayan istana.” “Ide yang cukup bagus, tapi kau harus berhati-hati, di istana banyak orang yang memiliki sihir.” Heera menoleh dan menatap elang yang masih bertengger di bahunya. Jarinya mengetuk kepala elang itu, yang mendatangkan protes. “Kau tidak ikut denganku?” tanyanya, pada elang. “Tentu saja tidak, aku ini elang magis dan keberadaanku akan segera diketahui jika aku memasuki istana. Kau ambillah buluku, ubah menjadi peluit. Itu terhubung denganku, jika kau membutuhkan bantuan hanya perlu kau tiup dan aku akan datang membantumu.” Heera tak bisa menahan binar di matanya, dia segera mencabut satu bulu elang dan lagi-lagi elang itu berteriak menggerutu karena cara Heera mengambil bulunya terlalu bar-bar. “Bisa tidak jagan keras-keras, kau ini jadi wanita tidak ada lembut-lembutnya!” omel sang elang. Heera hanya memberinya senyum lebar. “Terima kasih, elang! Aku berhutang budi padamu.” “Dan kau masih berhutang untuk mempertemukanku dengan makhluk bernama vampir.” “Aku tidak lupa.” Elang itu pun kembali terbang ke langit, menukik ke atas dan bersuara dengan keras kemudian menghilang di balik awan yang beriak di langit. Heera menatap pada elang yang menghilang, dia pun mengubah bulu elang menjadi peluit kecil dari perak kemudian menyembunyikannya dengan sihir. Dia berjalan menuruni bukit. Siluetnya terlihat di rumput-rumput, angin pun menerbangkan rambut dan roknya. “Ayo kita selamatkan Putra Mahkota!” katanya sambil mengepalkan tangannya ke langit. Dia tersenyum sepanjang jalan, dengan jantung berdentum keras tak sabar untuk memulai petualangannya di negeri penuh sihir ini. Ding! Layar sistem kembali muncul di hadapannya. “Nona sudah punya rencana? Mau kubantu mengubah tampilanmu?” Heera buru-buru menggelengkan kepalanya, dia sangat hapal bahwa pakaiannya pasti akan aneh seperti sebelumnya. “Tidak usah, aku akan mencoba mendapatkan pakaian setibanya di kota. Aku juga akan menyimpan pakaian ini.” “Aku bisa membantu, Nona~” “Tidak, tidak. Aku tidak mau poinku kau pangkas lagi!” “Iya, iya~” Sistem pun menurut dengan patuh dan tak berdebat lagi. ***** Hari beranjak sore dan matahari sudah melintas di ufuk barat, Heera baru tiba di kota. Dia memandang sejenak pada kota di depannya. Kota itu ramai dan dipenuhi oleh penduduk yang hilir mudik di jalanan. Kota ini begitu besar, berada di bawah kaki gunung yang hijau dan subur. Tepat di atas gunung, ada istana megah dan besar berwarna emas yang berkilauan. Istana Kerajaan yang begitu megah dan agung, menghadap kota besar yang ada di bawahnya. Jika pagi sampai siang hari, istana megah itu akan diselimuti oleh awan, yang dikenal sebagai istana negeri awan; berada di langit dan begitu tinggi. Tak semua orang bisa naik gunung dan mencapai istana, kecuali orang-orang tertentu yang mengirimkan pasokan makanan dan keperluan di istana Kerajaan. Jika di malam hari, istana megah itu akan diselimuti oleh ribuan cahaya dan hewan-hewan malam yang berterbangan membawa cahaya mereka ke atas gunung untuk menambah kilau. “Menakjubkan,” bisik Heera seraya menatap istana megah di atas gunung. “Sudah kubilang, Nona nikmati saja waktumu di sini. Tidak buruk kan?” ujar sistem yang tiba-tiba kembali muncul. “Kau benar, setidaknya aku bisa berpetualang di sini! Pertama, ayo kita cari makan dulu. Heh, kau berikan aku informasi mengenai semua yang ada di sini.” Seorang perempuan muda yang berpakain cukup rapi dan tak biasa, berdiri di pinggir jalan sambil berbicara sendiri, membuat beberapa orang menoleh dan menatapnya dengan heran karena berbicara seorang diri. Memang tak ada yang bisa melihat sistem selain Heera. Heera pun memutuskan berjalan-jalan di tengah kota. Dia menolehkan kepalanya ke sana-sini, menatap bangunan-bangunan yang ada di pinggir jalan utama. Jalanan ini kering dan berdebu, jika ada roda-roda pengangkut lewat maka debu-debunya akan berterbangan ke udara. Di setiap pinggir jalan pun ada bangunan-bangunan bertingkat, dengan balkon-balkon. Bangunan ini sangat khas, dindingnya berwarna kuning kusam dari batu-bata. Memiliki pilar-pilar yang diukir, dan balkon-balkon dengan pembatas balkon yang juga diukir. Jendela-jendelanya berbentuk melengkung, dan atapnya ada yang berbentuk datar dan ada juga yang melengkung menyerupai kubah. Meski negeri ini terlihat kuno, tapi cukup indah dan maju. Di depan bangunan-bangunan bertingkat, ada beberapa pedagang kaki lima, dengan kios-kios dari kayu dan terpal sebagai atapnya. Mereka menjajakkan dagangan, mulai dari makanan sampai pakaian. Suara langkah kaki kuda pun terdengar, bersamaan dengan roda yang menggelinding di tanah kering. Kereta-kereta kuda dari kayu dengan atap yang terbuka hilir mudik, membawa penumpang dengan keadaan ekonomi yang lebih baik. Pakaian mereka dari kain-kain dengan warna cerah dan bagus, berbeda dari warga yang hanya mengenakan pakaian-pakaian berwarna kusam. Para wanita dewasa mengenakan pakaian khas, dengan rok-rok yang lebar dan kerudung lebar dan panjang menutupi kepala mereka, dan beberapa dijadikan selendang yang menutupi bahu dan tubuh mereka. Para wanita-wanita itu membawa keranjang berisi sayuran dan botol s**u. Anak-anak berlarian di jalanan, digandeng oleh ibu mereka. Sedangkan para pria mengenakan celana berkerut dan atasan yang didominasi warna kusam. Beberapa pria yang mengangkut keranjang kayu bahkan tidak mengenakan atasan dan membiarkan kulit mereka terpapar sinar matahari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN