Chapter 6

1180 Kata
“Aku seperti sedang berjalan-jalan di Asia selatan,” kata Heera. “Seperti di desa-desa yang ada di India dan Pakistan,” lanjutnya. Dia memutuskan untuk berhenti di kedai kecil yang terbuat dari kayu dan terpal sebagai atap. Heera duduk di kursi kayu panjang, dan seorang pria dengan rambut panjang yang diikat dan mengenakan turban datang menghampirinya. Pria itu berbicara dalam bahasa Sansekerta yang tak diketahui oleh Heera. “Sistem, dia bicara apa?” tanya Heera pada sistem. Ding! Sistem muncul dan menjawab, “Itu bahasa Sansekerta. Ingat, setting-nya adalah Kerajaan kuno.” “Tapi aku bisa berbicara dengan si burung elang?” tanya Heera lagi dengan heran. “Itu karena aku mengubah pengaturannya, Nona~” “Kalau begitu, ubah lagi pengaturannya.” “Seratus poin dikurangi~” Heera diam sejenak, dia menahan kesal pada sistem yang terus mengurangi poinnya sedangkan dia sendiri belum mendapatkan poin sama sekali semenjak datang ke dunia ini. Heera menggebrak meja dan marah, “Tidak bisakah kau jangan kurangi terus poinku? Bagaimana aku bisa kembali kalau poinnya habis?” “Nona jangan marah~ poinmu masih tersisa 200 lagi! Kalau kau tidak mengerti yang mereka katakan, bagaimana kau akan berbicara dengan mereka?” Beberapa orang di sana menoleh dan menatapnya dengan heran, dan pria yang ada di depannya pun hanya menatapnya dengan aneh. “Oke, oke, kurangi saja,” kata Heera, akhirnya. Poin dikurangi kembali dan sistem kembali menghilang. Dia tersenyum pada pria di depannya yang merupakan pemilik kedai. “Nona mau pesan s**u sapi atau s**u domba?” tanya si pemilik kedai. “Apa saja,” jawab Heera. Dia menumpukkan tangannya ke meja untuk menopang kepalanya, memejamkan matanya. Otaknya berputar mencari cara agar dirinya bisa naik ke gunung dan masuk ke istana. Bagaiaman pun dia harus cepat, agar bisa segera kembali ke dunianya. “Ini pesananmu.” Sebuah gelas dari perunggu yang berisi s**u muncul di depannya. Heera mengambilnya dan menyeruputnya, dan ketika s**u itu mencapai mulutnya dia hampir saja memuntahkannya lagi. ini jelas bukan s**u sapi yang sudah diolah. Mau tak mau dia menelannya dan menatap pemilik kedai. “Ini ... s**u apa?” “Itu s**u domba segar, baru saja diperas.” Besok-besok jangan asal minum, gumamnya dalam hati. ******* Prang! Prang! Suara benda-benda yang berjatuhan, berbenturan dan pecah berkeping-keping terdengar nyaring dari halaman salah satu bangunan istana. Di istana Baswara [1] yang merupakan salah satu bagian dari istana Kerajaan, berada di bagian paling belakang dari semua bangunan istana. Halamannya tidak terlalu luas, dan bangunannya tidak terlalu besar. Meski Baswara memiliki arti nama Cahaya dalam bahasa Sansekerta, tapi tempat itu tidak nampak bercahaya sama sekali. Tidak nampak sinar selain kesuraman. Langit mulai menggelap, dan angin malam mulai berembus. Lilin-lilin dan lentera mulai dinyalakan di seluruh sudut istana hingga memberikan kesan terang dan nampak seperti istana yang berada di langit. Berbeda dengan istana Baswara yang hanya terdapat dua lentera besi di depannya, memberikan penampakan yang semakin suram. Pintu kayu dengan ukiran hewan buas itu terbuka dan sebuah mangkuk dan piring berterbangan ke luar, semua isinya tumpah. Makanan-makanan itu teronggok di tanah, dan dua pelayan perempuan yang berada di halaman hanya menunduk ketakutan. Mereka saling melirik, kemudian menatap ke pintu yang kembali tertutup dengan keras. Angin dingin berembus di belakang mereka, dan dua pelayan itu segera membereskan semua makanan yang dilempar dari dalam, kemudian membawanya ke nampan dan lari terbirit-b***t dari bangunan itu. Sudah bertahun-tahun hal ini terjadi, dan istana Baswara adalah tempat di mana tidak ada yang mau menginjakkan kakinya di sini. Setiap pelayan yang mendapat tugas untuk mengantarkan makanan setiap pagi dan malam, pasti akan berlari ketakutan setelah mendengarkan seseorang di dalamnya mengamuk dan melemparkan segala macam benda. Ditambah, selalu ada pelayan yang mati di dalam istana ini. Malam semakin beranjak larut, dan bulan purnama sudah nampak menggantung di langit. Bulan itu bulat sempurna, dan cahaya menerangi seluruh kota dan juga istana. Meski hanya ada dua lentera yang menggantung, tapi istana Baswara nampak terang oleh cahaya bulan. Tiba-tiba jendela terbuka dan cahaya bulan masuk ke dalamnya. Seseorang muncul di ambang jendela, dengan tubuh diselimuti oleh jubah hitam dan besar. Sosok itu pendek dan kecil, tubuhnya luput dari jubah besar itu. Kepala yang tertutup tudung jubah itu mendongak, menatap sinar rembulan yang menerangi wajahnya. Tudung itu terjatuh ke punggungnya, dan menampakan wajah seorang anak lelaki yang penuh kesuraman. Wajahnya terlihat pucat, kulitnya berwarna cokelat perunggu dan matanya begitu cemerlang dengan iris berwarna emas. Angin berembus menerbangkan rambutnya yang panjang sebatas bahu, berwarna hitam pekat dan bergelombang. Di bawah sinar rembulan, lehernya pun terlihat ketika rambut-rambutnya berterbangan. Ada sederet tulisan-tulisan mantra di lehernya yang terlihat menyala, dan mantra-mantra itu menghilang di balik pakaiannya. Iris berwarna emas itu menatap tajam dan dingin pada bulan purnama yang menggantung di langit. Di matanya seakan tak ada kehidupan sama sekali, hanya ada kegelapan dan kesuraman yang menyelimutinya. “Aku masih menunggumu,” katanya dengan suara dalam dan kecil, kemudian menghilang terbawa oleh embusan angin. ***** “Hachi!” Heera bersin dua kali, kemudian mengusap hidungnya. Dia menolehkan kepalanya ke sana-sini, menatap pada seisi kamar kecil dengan ranjang dari kayu dan tikar. Bahkan tidak ada kasur dan bantal sama sekali, juga tak ada selimut. Dinding-dinding penginapan itu sudah kusam, ada sarang laba-laba juga di sudut atapnya. Angin berembus masuk dari jendela kayu berukiran yang terbuka, dia berjalan ke jendela dan menatap ke arah gunung di mana istana Kerajaan berada. Istana itu terlihat megah bahkan seperti istana di langit yang tinggi, begitu bersinar dengan cahaya lilin dan bulan. “Aku harus mencari cara untuk menjadi pelayan di sana,” gumamnya. “Butuh bantuanku untuk mengubah tampilanmu, Nona?” tanya sistem yang tiba-tiba muncul. Heera menatap datar ke depan di mana layar virtual itu muncul. Dengan jutek dia menjawab, “Tidak butuh.” “Hanya seratus poin~” “Tidak mau!” “Lima putuh poin?” “Tidak mau juga! Selera fashion-mu sangat jelek. Siang tadi aku seperti wanita penghibur, besok mungkin aku seperti penari telanjang.” “Ah, Nona~” balas sistem dengan suara imutnya. Heera hampir muntah, tapi hanya menutup jendela dengan keras dan engselnya terdengar berderit nyaris copot. “OMG!” katanya dengan ngeri. “Nah~ kau merusaknya~” “Diam kau, sistem jelek!” Keadaan hening sejenak, dan sistem kembali bertanya, “Kenapa Nona tidak bergerak malam ini? Kau memiliki sihir yang tidak lemah.” Heera memutar bola matanya sambil membalas, “Sister, jika masih bisa menggunakan otak kenapa harus menggunakan tenaga? Malam hari, apalagi saat bulan purnama bukankah di istana akan ada penjagaan ketat, prajurit di mana-mana, dan para penyihir istana sudah pasti juga berjaga. Pertama datang ke dunia ini, aku dikejar-kejar pembunuh dan mereka mengatakan aku sedang diburu karena aku bisa melepaskan mantra pada Putra Mahkota. Coba kau pikirkan, kalau aku bergerak dan menyusup malam ini, sudah pasti aku akan bertarung dengan mereka.” “Ah, kau pintar, Nona!” Heera menepuk tangannya sendiri sambil mengibaskan rambut panjangnya. “Aku memang pintar, kan? Aku ini penulis novel berbagai genre termasuk genre fantasi. Soal berfantasi dan menggunakan logika, aku sudah pasti jago!” “Nona hebat! Hebat!” puji Sistem. *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN