Chapter 7

1293 Kata
Fajar menyingsing dari ufuk timur, dibarengi dengan kicauan-kicauan burung yang keluar dari sarang mereka. Waktu masih begitu pagi dan cahaya keemasan muncul di ujung timur, dibalik perbukitan yang membentang. Kota pun mulai kembali diisi oleh kehidupan dan aktifitas warga ibu kota. Ibu kota ini sangat besar, dan Heera tak sempat menjelajahi semuanya, meski dia masih ingin menikmatinya tapi tugasnya saat ini cukup penting dan harus segera dilaksanakan. Semakin cepat maka semakin baik, dan Heera sudah tak sabar ingin pulang ke dunianya. Dia berjalan-jalan di pasar barat, yang cukup dekat dengan jalan menuju puncak gunung di mana istana Kerajaan berada. Heera diam-diam mendengarkan orang-orang berbicara mengenai istana Kerajaan, dia menaikkan kerudung lebarnya untuk menutupi rambutnya dan memakai cadar tipisnya untuk menyembunyikan separuh wajahnya. Bagaimana pun rambutnya pirang dan wajahnya asing, dia pasti akan lebih mudah dikenali. Ada sebuah karavan yang melintas di depannya, dan dengan segera Heera mengikuti. Karavan itu berhenti di sebuah bangunan yang cukup besar yang ada di jalan pasar barat. Bangunan itu tidak biasa, cukup besar dan juga bagus. Dengan jendela-jendela ukir yang besar berbentuk melengkung di bagian atas. Beberapa wanita keluar dari sana, mereka berpakaian seperti pelayan membawa segala peralatan musik seperti sitar, gendang, terompet dan lainnya. Mereka membawa peralatan musik dan sejenisnya, mereka terlihat seperti akan menghibur di suatu tempat. Tiba-tiba Heera tersenyum ketika sebuah ide melintas di benaknya. Dia berjalan mendekat dan bertanya pada seorang pria yang sedang mengangkut sebuah kotak kayu yang dikunci. “Permisi, Tuan. Apakah aku bisa mendapatkan pekerjaan di tempatmu ini?” tanya Heera. Pria dengan pakaian seperti pelayan itu menoleh, menatap Heera dari atas sampai bawah. Meski tidak curiga, tapi seperti memeriksa. “Tidak ada, pergilah,” katanya. “Tuan, aku pengembara dan sudah beberapa hari tidak makan. Aku harap kalian bisa memberikanku pekerjaan. Menyapu, atau mencuci tidak masalah.” Diam-diam Heera melirik ke dalam pintu yang terbuka lebar yang sedang menampakkan pemandangan para wanita yang sedang tertawa, mereka terlihat seperti wanita-wanita yang terawat dan berpakaian bagus. “Tuan, aku bisa membantu mengangkat alat-alat itu untuk kalian,” kata Heera lagi. “Heh, memangnya apa yang bisa dilakukan wanita lemah sepertimu? Rombongan kami akan ke istana Kerajaan, jadi kami sibuk. Pergi sana.” Heera tersenyum dibalik cadarnya, yang hanya menampakkan mata birunya yang cemerlang. Akhirnya dia mendapatkan kesempatan, dan kali ini dia harus berhasil untuk menerobos ke istana. Dia menatap punggung pria yang masih memasukkan alat-alat ke dalam karavan. Heera memukul tengkuk pria itu sampai terjatuh tak sadarkan diri ke tanah, ia melirik ke kanan-kiri dan beruntung tak ada siapa pun karena semua orang masih di dalam. Dia menyeret pria itu dengan segera ke samping bangunan yang berupa gang kecil dan gelap, kemudian melucuti semua pakaian pria itu dan mengenakannya. Celana kerut dengan atasan yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Dia juga menggulung rambut pirangnya, dan menyembunyikannya di dalam turban besar berwarna kusam itu. Dia juga meraih debu di tanah kemudian menepuk-nepukkan ke wajah dan tangannya, dan setelah selesai segera menyembunyikan pakaian aslinya dengan cara menghilangkannya. Dia juga menjentikkan tangannya dan sebuah kumis palsu muncul di telapak tangannya, untuk kemudian ditempelkan ke bagian kumis. Para wanita bertubuh langsing itu bermunculan dari dalam bangunan bersama dengan beberapa pelayan wanita. Para wanita itu terlihat seperti para penghibur, mungkin mereka para pemain musik dan penari yang diundang ke istana untuk sebuah perayaan, pikir Heera. Para wanita itu masuk ke karavan lain. Rombongan itu pun mulai berjalan meninggalkan bangunan menuju ke arah jalan gunung. Sejauh ini tak ada yang mencurigai Heera, dan setidaknya penyamarannya berhasil. “Eh, kau terlihat pendiam hari ini,” kata seorang pelayan wanita yang berjalan di samping karavan. Heera berdeham pelan untuk mengubah suaranya, “Aku sedang tidak sehat.” Pelayan wanita itu mengerutkan dahi tapi tak lagi bertanya, dan rombongan itu sudah melewati gerbang di bawah gunung menuju istana. Jalanannya sangat rata, ada dua jalur yang berupa tangga dan jalanan rata yang sudah dibangun untuk anggota Kerajaan. Heera menolehkan kepalanya ke sana-sini, jalan ke gunung cukup bagus dan pemandangannya indah. Di bagian belakang gunung terlihat seperti hutan yang sangat rimbun, gelap dan seperti tak tersentuh, ia bertaruh bahwa itu pasti ada di belakang istana. Tiba-tiba layar virtual sistem muncul. “Nona, daripada menjadi pelayan pria kenapa kau tidak menjadi penari wanita saja?” Heera menepuk dahinya, merasa bahwa pertanyaan sistem ini sangat bodoh. “Heh, para penari itu memiliki tugas penting dan akan masuk ke bangunan di istana, jika salah satunya tidak ada mereka akan curiga, sedangkan pelayan pria ini setidaknya dia menghilang pun tidak ada gunanya. Kau lihat, wajahku ini wajah asing dan berbeda dari mereka, akan sangat cepat ketahuan jika aku masih menyamar jadi wanita. Rambut pirangku juga tidak bisa disembunyikan, mereka semua berpakaian terbuka!” “Ah, Nona memang selalu pintar!” ****** Setelah melakukan perjalanan hingga tiba di puncak gunung, dua jam berlalu dan Heera mulai mengeluh kakinya pegal-pegal karena terus berjalan selama dua jam mendaki tangga gunung. Dia pikir sebaiknya memang menjadi salah satu penari dan duduk manis di dalam karavan. Setelah tiba di depan istana, para penjaga gerbang utama istana memeriksa karavan yang mereka angkut. Heera mengedarkan pandangannya ke sana-sini. Tembok gerbang istana sangat besar dan tinggi, juga kokoh. Berbeda dengan gerbang dan tembok ibu kota yang tidak terlalu ketat dalam penjagaan dan hanya dijaga oleh para penjaga biasa, Heera pikir para penjaga gerbang istana sedikitnya memiliki sihir dasar. Dia harus lebih berhati-hati mulai saat ini, dan tak bisa sembarangan bermain-main. Gerbangnya terbuat dari besi kokoh dan tebal dengan ukiran harimau dan teratai, berwarna emas dan hitam. Para penjaga gerbang istana juga terlihat berbeda dari penjaga gerbang ibu kota. Mereka mengenakan seragam penjaga, dengan celana hitam dan pakaian atas berwarna putih yang diikat di pergelangan tangan, dilapisi dengan armor perak dan topi besi berwarna perak yang melindungi kepala mereka sampai ke sisi wajah. “Masuk,” kata para penjaga gerbang pada rombongan karavan musisi. Suara langkah kaki kuda kembali berderap pelan sambil menarik karavan, Heera menundukkan kepalanya sambil berpura-pura mendorong bagian belakang karavan sampai mereka memasuki halaman utama istana. Ketika mengangkat kepala, Heera dibuat takjub dan tak bisa berkata-kata, dia menatap ke sekeliling istana yang terlihat ramai oleh para pelayan wanita yang hilir mudik dan para penjaga yang berpatroli. Itu hanya bagian depan istana, dan sedikit jauh dari tempatnya adalah istana utama di mana terdapat singgasana Raja. Istana utama sangat megah, begitu besar, elegan dan mewah. Bangunannya sangat khas, meski kuno tapi juga ada sisi lebih modern. Dindingnya berwarna keemasan yang nampak berkilauan terkena cahaya matahari. Bangunannya tinggi, dengan atapnya berbentuk kubah yang besar juga berwarna emas, ada pilar-pilar besar dan melingkar dengan ukiran-ukiran yang indah yang menyangga. Lantainya terbuat dari marmer-marmer yang juga indah dan berkilauan, dengan patung-patung yang terdapat di setiap koridor. Di halaman depan istana utama terdapat sebuah kolam kecil dengan patung yang sangat cantik, seorang Dewi yang sedang menari dengan seorang Dewa yang memegang busur panah di satu tangan dan pedang di tangan lainnya. Air mancur nampak terjatuh ke kolam hingga menimbulkan suara gemericik yang tak ada hentinya. “Benar-benar indah,” gumam Heera seraya memperhatikan bangunan istana utama. “Heh, lihat apa? Ayo pergi,” tegur pelayan wanita yang bersamanya. Heera buur-buru mengikuti mereka dan berjalan ke bagian selatan yang cukup jauh dari istana utama. Mereka tiba di depan sebuah gerbang dari bangunan yang cukup besar dengan dua lantai, dan memiliki balkon dengan pembatas yang juga berukiran. Penjaga membuka gerbang untuk mereka dan kereta-kereta kuda itu masuk. Para pelayan membantu menurunkan semua peralatan mereka dan para penari bersama para pemain musik mulai turun dari karavan. Heera membantu mereka membawa alat musik ke dalam. Setelah meletakkan alat musik berupa sitar, Heera segera berlari ke arah bagian belakang hingga menemukan sebuah pintu yang tertutup rapat. Dia mendongak dan melihat temboknya tidak terlalu tinggi dan memutuskan untuk melompatinya, kemudian mendarat di luar bangunan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN