“Sistem, beritahu aku di mana istana Putra Mahkota?” tanya Heera.
Ding! Layar sistem muncul kembali. “Sistem tidak bisa memberitahukan~”
“Are you kidding me?” Heera menatap layar sistem dengan skeptis dan kedua tangan terkepal seakan hendak mencekiknya. “Bagaimana aku menemukan Putra Mahkota?”
“Sistem sedang dalam perbaikan, silakan panggil dalam dua jam kedepan.”
Kemudian sistem menghilang hingga terjadi kesunyian. Heera menatap kosong pada udara kosong di depannya, dia bahkan hanya mengedipkan matanya berkali-kali. Ini ... seperti mimpi buruk di siang hari! Bagaimana bisa sistem meninggalkannya ketika dia tak memiliki clue apa pun tentang keberadaan Putra Mahkota.
“Dasar sistem tidak berguna! Baiklah, Heera! Gunakan otak imajinatif-mu untuk menemukan Putra Mahkota.”
Heera mulai memutar otaknya sambil menelusuri jalanan di depannya. Sebagai seorang penulis yang terbiasa dengan imajinasi, dia tentu sudah sangat menghapal bagaimana trik-trik melarikan diri ketika terdesak.
Pertama, dia harus menyamar menjadi pelayan istana dan mencari tahu keberadaan Putra Mahkota kemudian membantunya melepaskan diri dari mantra belenggu. Dia akan beraksi nanti malam, ketika semua orang sibuk dengan jamuan dan pesta di istana utama.
Ketika berjalan-jalan di dalam istana asing ini, dia melihat ada seorang pelayan wanita yang membawa baki berisi poci dan cangkir-cangkir porselain. Otak Heera berjalan dengan cepat, dia bergerak tanpa suara dan memukul tengkuk pelayan wanita itu hingga terjatuh bersama dengan barang yang dibawanya.
“Maaf, maaf, aku hanya pinjam pakaianmu saja, oke,” bisik Heera seraya membawa tubuh wanita itu.
Ada sebuah bangunan kecil yang terlihat kosong di dekatnya, dia membawa wanita itu masuk dan segera menukar pakaian mereka. Tak lupa juga untuk membersihkan wajahnya yang terlihat sangat kotor dan kusam. Setelah selesai, dia menatap pada tubuhnya sendiri yang saat ini mengenakan pakaian pelayan.
Pakaian itu terlihat lebih bagus dari pakaian rakyat, bahkan pelayan istana pun hidupnya lebih baik daripada rakyat. Dia mengenakan atasan tunik berwarna biru sampai selutut dengan bordiran-bordiran khas berbentuk bunga dan akar, dan celana panjang berwarna sama. Ada selendang panjang berwarna krem polos yang dililitkan di tubuhnya. Sebelum pergi, dia juga mencepol rambutnya sama seperti pelayan tadi.
“Maafkan aku, oke. Kau akan tidur sampai besok. Jangan salahkan aku, salahkan saja sistem tak berguna yang tidak memberiku jalan keluar,” gumamnya pada pelayan wanita yang kini mengenakan pakaian laki-laki.
Heera berjalan-jalan dengan sedikit lebih bebas di dalam istana, dia bahkan tak tahu dirinya kini ada di bagian mana dari istana. Ketika orang-orang muncul, dia akan bersembunyi dan mendengarkan apa yang mereka katakan.
“Kudengar kemarin ada lagi yang mati di istana Baswara, benar?” Terdengar suara seorang wanita yang berbicara.
Heera mengintip dan melihat dua pelayan wanita yang masing-masing membawa baki berisi makanan dan poci serta cangkir porselain.
“Benar sekali, bahkan dua pelayan yang mengantar makanan ke sana pun sampai lari ketakutan dan mereka diteror mimpi buruk melihat ada mayat pelayan di dalam istana Baswara,” sahut yang lain.
Suara mereka semakin samar, dan Heera mengikuti secara diam-diam di belakang sambil mendengarkan.
“Aura di sana sangat menyesakkan. Tadi pagi mayat di sana sudah dibawa pergi, dan Putra Mahkota hanya menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Kau tahu apa yang terjadi dengan mayat pelayan itu? Darahnya habis, dan tubuhnya kering!”
Dua pelayan itu sama-sama bergidik ngeri, kemudian mempercepat langkah mereka. Heera berhenti melangkah dan menatap mereka dengan dahi mengernyit. Sekarang dia memiliki petunjuk! Putra Mahkota tinggal di istana Baswara, dan tugasnya adalah mencari tahu ada di manakah istana Baswara.
Heera juga memikirkan sesuatu, tentang mayat yang ditemukan di kediaman Putra Mahkota. Mayat itu kering dan tanpa darah. Tiba-tiba Heera melotot lebar, “Mungkinkah ... Putra Mahkota yang sebenarnya adalah vampir?!”
“Apa itu vampir?”
Heera terlonjak, karena terkejut sampai dia tak sengaja menginjak batu dan nyaris terjatuh, tapi sebuah tangan besar dan hangat menangkap pinggulnya hingga ia tak jadi jatuh. Tubuhnya membentur d**a bidang dan kokoh dengan tangan besar di pinggulnya. Selama beberapa detik dia hanya mengerjapkan matanya dan mencerna semuanya. Dia pikir ini seperti adegan yang sangat dramatisir seperti di novel-novel dan serial tv. Dia pun segera mundur dan menatap orang di depannya.
Seorang pria tinggi dengan tubuh yang gagah berdiri di depannya. Dadanya bidang dan kokoh dengan kedua bahu yang lebar. Wajahnya bahkan terlihat sangat tampan dengan rahang yang kokoh dan bersih, dengan tulang pipi dan tulang hidung yang tinggi. Alisnya tebal dengan mata yang tajam dan menawan, begitu dalam dan gelap seperti dasar lautan yang tak tergapai. Bibirnya pun nampak sensual dan melengkungkan sebuah senyum tipis.
Angin berembus diantara mereka, menerbangkan helaian-helaian rambutnya yang panjang melewati bahu dan lurus. Heera mengerjap sejenak kemudian menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu siapakah pria di depannya, apakah seorang Pangeran atau pelayan.
Heera berpikir lagi, tidak mungkin dia pelayan. Dari pakaiannya terlihat lebih mewah dan berkelas. Pakaian atas berwarna emas dengan bordiran-bodiran halus dari benang berwarna hitam dan emas. Tatapan Heera pun menunduk untuk melihat sepatu yang digunakannya pun dari kulit hewan yang dibordir dgn pola unik.
“Maaf,” ujar Heera seraya berbalik dan hendak lari, tapi langkahnya terhenti ketika selendang di tubuhnya ditarik dari belakang.
Dia berbalik dan berhadapan kembali dengan tatapan yang tajam dan dalam itu. Adegan drama macam apa ini? Saat aku menulisnya di naskah, semuanya terasa manis, tapi saat aku mengalaminya langsung terasa menggelikan! Gerutunya dalam hati.
Pria itu masih memegang selendangnya, kemudian melepaskannya. “Apa itu vampir?” tanya pria itu lagi, suaranya dalam dan sedikit serak.
Heera berdeham kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum. “Tuan jangan pikirkan, Saya hanya asal bicara.”
Pria itu menaikkan sebelah alisnya, melihat Heera yang tersenyum konyol sambil melambaikan tangan. “Apa itu makhluk gaib?”
“Itu makhluk gaib yang hanya ada di dongeng,” jawab Heera lagi. Dia merutuk dalam hati, kenapa pria ini sangat ingin tahu.
Wajah pria itu nampak tertarik, dia melipat kedua tangannya di d**a sambil menatap Heera. “Boleh ceritakan? Aku ingin mendengar dongeng tentang makhluk bernama Vampir.”
Kenapa orang ini sangat ingin tahu! Teriak Heera frustrasi dalam hati.
“Tuan, itu hanya makhluk mitos yang suka menghisap darah manusia sampai darah mereka kering, mereka memiliki taring dan––” kenapa aku malah bercerita? Lanjutnya dalam hati.
“Lanjutkan.”
Heera menggelengkan kepalanya pelan. “Tuan, saya harus bekerja, oke.” Setelah mengatakan itu, Heera pun buru-buru berbalik dan hendak lari tapi kata-kata pria itu kembali membuatnya berhenti dan matanya melebar sampai batas di mana bisa saja bola matanya menggelinding.
“Kau orang asing? Rambut dan warna matamu bukan penduduk Bashara.”
Sistem yang baik, datanglah sekarang dan berikan aku mode mudah untuk mengatasi masalah ini! Ratap Heera lagi.
Ding! Tiba-tiba sistem muncul dan terdengar suara imut seorang gadis. “Ayaa ... disaat seperti ini ternyata Nona merindukanku~”
“Merindukan pantatmu! Bantu aku, ayo,” bisik Heera pada layar sistem.
“Mode mudah?”
“Siapa dia?” tanya Heera langsung.
“Tidak tahu.”
“Sistem tidak berguna. Cepat pakai mode mudah.”
Layar sistem memberikan pilihan untuk Heera menukarkan poinnya dan menguranginya kembali. Dia harus bersabar sampai bertemu dengan Putra Mahkota dan kembali ke dunianya.
Heera pun berbalik dan menghadapi pria tadi, dia tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya. “Benar sekali, saya dari Kerajaan di seberang lautan, The Great Britain,” jawab Heera.
Pria tampan itu hanya menaikan alisnya, “Hm?”
Heera diam-diam meringis dan ingin menangis. Kenapa sebagai penyihir dia sangat bodoh, seharusnya dia jadi orang yang hebat! Dia tidak bisa menggunakan sihirnya saat ini.
“Tuan, saya akan pergi!”
Dengan suara whooss, Heera berlari secepat angin meninggalkan pria itu. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali, sampai tiba di balik tembok tinggi dia baru bisa berhenti dan bernapas. Napasnya terengah-engah sambil memegangi dadanya.