Chapter 9

1334 Kata
“Sistem, dia tidak mengejarku, kan?” tanya Heera lagi. Sistem muncul lagi dengan suara imut, “Tentu saja tidak, kan sudah pakai mode mudah seakan dia tidak bisa lagi bertanya.” “Bagus, bagus, meski kadang tidak berguna, tapi kali ini kau berguna.” “Terima kasih, Nona~” suara sistem terdengar riang dan membuat Heera bergidik geli. Padahal aku menghinanya, tapi dia berterima kasih, gumamnya dalam hati. “Oke! Aku akan cari istana Baswara di mana, kau tahu letaknya?” “Tidak tahu, Nona~ tapi aku bisa memberikan ide~” Heera menegakkan tubuhnya dan menatap Sistem dengan mata memicing. “Idemu berguna tidak?” “Tentu saja~ Nona bisa bertanya pada pelayan lain.” Heera memutar bola matanya sambil berdecih. “Kalau itu aku juga bisa tanpa kau beritahu. Para pelayan tidak ada yang mau mengantar makanan ke istana Baswara, dan ini kesempatanku untuk mengantarkannya. Nanti malam akan ada perjamuan dan pesta, semua orang akan sibuk dan aku akan membantu Putra Mahkota.” “Nona hebat~” “Baru tahu?” sindir Heera. ******* Pria itu masih berdiri di sana, dengan kedua sudut bibirnya terangkat samar. Tatapannya menatap ke depan, pada seorang gadis berambut pirang dan berpakaian pelayan yang baru saja melarikan diri darinya. Terdengar suara derap langkah dari belakangnya, dan beberapa penjaga istana datang kemudian setengah berlutut di depannya dengan kepala menunduk. “Yang Mulia Maharaja[1],” ujar mereka secara bersamaan. Pria tampan dan bertubuh tinggi itu mengangkat satu tangannya secara rendah kemudian para penjaga istana bangun masih dengan kepala menunduk. “Bawa kepala pelayan ke hadapanku,” titahnya. “Baik, Yang Mulia.” Satu penjaga pergi untuk membawa kepala pelayan istana ke hadapan pria yang mereka panggil Yang Mulia. Pria itu berjalan ke sisi kanan, menatap pada danau kecil dengan jembatan batu di tengahnya dan air mancur yang tak berhenti bergemericik. Ada berbagai jenis tanaman air di danau kecil itu, dengan angsa-angsa berbulu putih yang berenang sambil mengepakkan sayap mereka. “Salam hormat, Yang Mulia Maharaja,” ujar seorang wanita berpakaian pelayan yang istimewa, dan berbeda. Selendang lebarnya disampirkan separuh ke kepalanya dan sebagian sisanya dililitkan ke perutnya. Dia membungkuk dalam-dalam dengan kepala lebih rendah. Tatapan pria itu masih menatap pada angsa yang berenang di danau kecil. “Apakah ada penerimaan pelayan baru?” Kepala pelayan paruh baya itu hanya menggelengkan kepala seraya menjawab dengan mantap, “Tidak ada, Yang Mulia.” Satu sudut bibirnya terangkat samar, dengan kilatan misterius di matanya. “Aku baru saja bertemu dengan pelayan asing.” Kepala pelayan itu terbelalak antara terkejut dan takut, dan dalam sekejap berlutut sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya yang terlihat gemetar. “Yang Mulia, maafkan bawahan yang tidak kompeten ini. Hamba akan mencari pelayan itu.” Dia mengangkat tangannya tanpa berbalik. Suaranya terdengar dalam dan dingin, “Tidak perlu. Biarkan dia dan berikan pekerjaan.” Kepala pelayan masih menangkupkan kedua tangannya yang gemetar, kemudian bangun dan membungkuk sekali lagi. “Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas belaskasih Anda pada hamba.” Kepala pelayan mundur masih dengan kepala menunduk kemudian menghilang. Beberapa penjaga istana yang masih ada di sana pun tak berani mengangkat kepala, menunggu perintah yang akan diberikan pada mereka. Akan tetapi Yang Mulia itu tidak mengatakan apa pun lagi sampai ia mulai melangkah dan meninggalkan halaman itu. ****** Malam pun tiba dan keadaan di Royal Palace begitu penuh gemerlap. Bulan menggantung di langit malam, dengan bertabur bintang yang menemani. Sinar rembulan menyinari puncak gunung, seakan memberikan refleksi pada dinding-dinding istana yang berwarna emas. Lentera-lentera perunggu tergantung di setiap tempat hingga memberikan kesan yang begitu terang seakan di mana pun bersembunyi akan segera diketahui. Angin berembus, menggoyangkan lentera-lentera perunggu dan lilin di dalamnya. Para pelayan hilir mudik dan begitu sibuk, sedangkan para penjaga istana terus berpatroli di seluruh penjuru istana. Sedangkan di istana utama, suasana begitu ramai dan penuh gemerlap. Musik-musik mulai terdengar mengalun, bahkan terdengar sampai ke tempat para pelayan. Heera berdiri di halaman dapur istana, membiarkan angin malam berembus menerbangkan selendang dan rambutnya, dia menutup matanya sejenak sambil menghirup napas dalam-dalam. Suasana malam di dalam tembok istana terasa berbeda daripada di bawah gunung. Meski terasa menyejukkan, tapi ada aura menyesakkan yang kasat mata. “Kau, pelayan baru di sini?” tanya salah satu pelayan yang membawa baki berisi makanan. Heera melirik makanan yang berupa kari dengan bumbu kental dan makanan manis. Dia mengangguk dengan sikap berpura-pura malu. “Benar sekali,” jawabnya. “Bawa ini ke istana Baswara,” perintah pelayan itu. Heera diam-diam tersenyum dan bersorak dalam hati. Dia menerima nampan itu kemudian bertanya, “Aku tidak tahu letak istananya. Di mana itu?” “Istana Baswara ada di bagian paling belakang dari semua istana, jika dari dapur istana kau hanya berjalan lurus ke selatan sampai tak ada bangunan lain selain bangunan itu.” “Ah, baiklah.” Heera segera berjalan pergi tanpa membuang-buang waktu. Suara ding kembali muncul bersamaan dengan suara imut sistem. “Nona berhasil~” “Tentu saja, keberuntunganku ini cukup besar. Aku berdiri saja di sini, tugas akan menghampiri.” “Bagaimana Nona bisa sangat santai? Padahal sejak siang Nona hanya berjalan-jalan di istana.” Heera mendengkus pelan pada sistem sambil menjawab dengan bangga, “Semua pelayan takut mengantar makanan ke istana Baswara, apalagi sering ditemukan mayat di sana. Tentu saja mereka akan mengorbankan anak baru. Hal ini juga sering terjadi di dunia modern, di mana anak baru––baik di sekolah maupun tempat kerja––akan selalu ditumbalkan dalam hal-hal seperti ini.” “Ah~ begitu ya~” “Mengerti?” “Tidak,” jawab sistem jujur. Wajah Heera jatuh seketika, dengan wajah datar. “Kenapa kau bodoh sekali?” “Aku kan sistem, Nona~” “Terserah. Mau kau sistem atau ikan sekalipun, aku tak peduli,” balas Heera dengan datar. Dia mengikuti instruksi yang diberikan pelayan tadi, sampai langkahnya terhenti ketika melihat bangunan istana di balik dinding. Benar kata semua orang di istana, bangunan itu sangat sunyi dan suram. Ada aura yang tidak menyenangkan datang dari dalam, seakan ada awan hitam yang menyelimuti seluruh bangunan itu. Heera mendorong pintu gerbangnya dari luar, menolehkan kepalanya ke sana-sini, hanya ada kesunyian yang menyapanya dan keadaan yang lebih gelap daripada seluruh bagian istana lainnya. Hanya ada dua lentera perunggu yang menggantung di kedua sisi pintu. Ketika melangkah memasuki halaman itu, angin yang mnegandung aroma tak sedap menyerangnya membuat Heera kembali mundur dengan nampan yang bergetar di tangannya. “Uhuk! Uhuk!” Dia terbatuk ketika aroma tak sedap menyapa hidungnya. Itu seperti bau amis darah bercampur dengan bau bangkai. Heera menatap ke seluruh penjuru tempat itu, dan merasakan aura yang gelap dan pekat menyelimutinya seakan melindungi tempat itu dari orang luar. Bahkan dia bisa merasakan tekanan membunuh yang begitu berat. Bukannya merasa takut, Heera berjalan masuk semakin ke dalam sambil berdecak kagum, “Ini benar-benar menakjubkan! Istana yang indah tapi suram. Wah, aku benar-benar bisa merasakan aura membunuh yang berat dari dalam bangunan itu.” “Nona, kau bisa bertahan dalam tekanan membunuh ini. Hebat~” Heera tersenyum dengan bangga, kemudian duduk di dekat meja batu yang ada di halaman itu. “Sistem, berikan aku informasi mengenai Putra Mahkota.” “Oke~” Layar sistem pun menampilkan sebuah informasi mengenai Putra Mahkota Yasabadra. Dikatakan bahwa sang Putra Mahkota memang dilahirkan dengan membawa kutukan gelap. Ada sosok monster yang bersemayan dalam dirinya, dan untuk mencegah terjadinya malapetakan di negeri Bashara, para ahli sihir di istana pun menyegelnya dengan mantra belenggu. “Tidak ada yang lain?” “Tidak ada~” jawab sistem. Heera hampir saja membanting mangkuk di depannya, dia cukup kesal saat ini pada sistem. Dia jelas sudah membaca hal ini sebelumnya, dan yang dia butuhkan adalah informasi yang lebih lengkap mengenai sang Putra Mahkota. “Aku sudah baca bagian ini! Ada yang lebih spesifik? Dia memiliki berapa saudara?” “Sistem tidak tahu~ kalau Nona ingin tahu lebih, bisa tanya pada siapa pun yang hidup di sini.” Heera mengibaskan tangannya dengan wajah sebal. “Lupakan, lupakan. Ayo kita temui Putra Mahkota.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN