Dia bangun sambil membawa nampan, kemudian berjalan semakin mendekati bangunan itu. Aura membunuhnya semakin pekat dan berat, Heera hampir terlonjak mundur lagi. Jika orang biasa tanpa sihir, mungkin tak akan bisa menyadari aura membunuh yang pekat ini. Dia merasa seseorang seperti menunggunya di dalam untuk memenggal kepalanya.
“Aku bisa merasakan aura membunuh di dalam bangunan ini sangat pekat,” gumamnya.
“Nona harus hati-hati~ semangat~”
Heera hanya berdecak dengan wajah cemberut. Dia pun memutuskan untuk mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban dari dalam. Ketika hendak mendorong pintu kayu dengan ukiran kepala singa itu, sesuatu seperti menyengat tangannya yang membuat Heera mundur satu langkah.
“Mantra pelindung,” gumamnya, sambil menatap pintu yang kini menampakkan wujud aslinya yang dilindungi oleh lapisan yang transparan. “Aku ingat-ingat, sepertinya jika di dalam novel-novel fantasi, hal seperti ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang juga memiliki sihir untuk mencegahnya masuk ke dalam.”
“Wah, Nona pintar~”
Heera semakin melebarkan senyumannya dengan bangga, semakin dipuji maka semakin bangga dirinya. Selain memiliki kekuatan sihir yang cukup tinggi, sebagai seorang penulis novel dia juga jelas cukup ahli dalam berimajinasi.
Dengan satu tangan memegang nampan, satu tangan menyentuh permukaan mantra pelindung itu. Heera memejamkan mata sambil membaca mantra pemecah, tiba-tiba dia berhenti dan membuka matanya.
“Wah! Aku juga bisa mengucapkan mantra sihir? Game ini benar-benar hebat~ tanpa aku menghapalnya, mulutku bergerak sendiri. Meski memacu adrenalin, tapi game ini cukup bagus. Kapan-kapan aku akan memberitahu Micah untuk bermain, tapi dia harus membayar lebih supaya tidak mendapat sistem yang menyebalkan.”
“Nona, benar~ Eh, tapi aku tidak menyebalkan. Nona beruntung mendapat sistem yang manis dan imut sepertiku, kebanyakan sistem galak dan jutek.”
“Tapi bagiku kau menyebalkan.”
“Tapi jika aku tidak muncul Nona biasanya memanggilku~”
“Itu pun karena terdesak, tahu!” balas Heera sambil menudingkan jarinya pada layar sistem.
Kriet, terdengar suara pintu yang dibuka dari dalam, dan satu sosok berdiri di depan Heera dengan mengenakan jubah bertudung.
“Whoa! Hantu!” teriak Heera sambil melempar nampan di tangannya ke udara.
Sosok di depannya meraih nampan itu tanpa usaha, hanya menadahkannya dan semua mangkuk kembali ke tempat semula tanpa ada sedikit pun yang tumpah.
Diam-diam Heera menatap sosok di depannya sambil mundur. Dia mengerjapkan mata sambil memperhatikan dengan wajah takjub melihat sosok itu menangkap nampan. “Hebat~ kau bisa akurat menangkap nampannya tanpa ada yang jatuh.”
Sosok itu mengangkat wajahnya hingga mendongak menatap Heera. Iris matanya yang berwarna emas pun tampak berkilau terkena cahaya bulan. Tudung di kepalanya terjatuh yang menampakkan visual wajahnya yang menakjubkan, dengan kulit berwarna cokelat perunggu, rambut agak panjang dan ikal, juga tulisan-tulisan mantra di lehernya.
Heera mendekat, membungkuk dan memerhatikan sosok itu. Matanya bergerak cepat menelusuri seluruh bagian dari sosok anak lelaki itu.
“Jadi kau hanya anak kecil?” katanya dengan wajah tak percaya.
Dalam benaknya, dia sudah membayangkan bahwa Putra Mahkota Yasabadra adalah sosok pria tinggi dengan tubuh gagah, kulit cokelat perunggu yang eksotis dengan mata yang tajam dan seakan bisa membakar siapa pun. Akan tetapi, sosok di depannya hanyalah seorang anak lelaki yang bahkan lebih pendek darinya.
Anak lelaki itu menunjuk ke dalam tanpa membuka mulutnya sama sekali, seperti memberi isyarat pada Heera untuk masuk.
Heera segera mengangguk dan masuk. Dia berbalik lagi dan menatap anak itu sekali lagi. “Jadi kau benar-benar Putra Mahkota Yasabadra?”
Anak lelaki itu masih tidak berbicara, hanya mengangguk sekali. Dia masuk dan berjalan ke meja kayu sambil menaruh nampannya. Heera mengikutinya duduk tepat di depannya, dengan sebelah tangan di meja menyangga dagunya.
“Your Highness, apakah kau selalu tinggal di sini setiap hari?”
Sang Putra Mahkota tidak menjawabnya, tetap meneruskan melahap kari di depannya sampai habis, kemudian menaruh sendoknya dengan sedikit lebih keras hingga terdengar bunyi ‘tak’ dan mangkuk pun pecah. Heera meringis melihatnya, dan tebakannya benar jika Putra Mahkota pun pasti memiliki sihir.
“Your Highness, semua orang sibuk di istana utama. Kau tidak mau melihat pesta?”
Anak lelaki itu mengangkat kepalanya dan menatap Heera dengan tajam, membuat Heera bergidik menerima tatapannya. Dia mengambil teko keramik dengan lukisan indah itu, kemudian menuangkan air untuk Putra Mahkota. Sebelum tangannya mencapai ke sisi Putra Mahkota, sesuatu seperti berjalan dengan salah.
Suara angin bertiup bersamaan dengan sesuatu yang terbang melesat ke arahnya. Heera melompat dan memanggil busur panah Katrya yang segera muncul di tangannya, dengan kekuatan sihirnya dia melesatkan anak panah sihir hingga terbang dan berbenturan keras dengan benda yang melesat ke arahnya. Angin bertiup kencang membuat semua kelambu sutera di ruangan itu berterbangan dan lilin-lilin padam. Suara besi yang terjatuh dan membentur lantai pun terdengar.
“Kau mau membunuhku?” tanya Heera pada Putra Mahkota. Jantungnya berdegup kencang, dan seakan dikejar-kejar oleh anjing gila. Dia tidak menyangka bahwa nyawanya hampir saja melayang jika saja dia tidak memiliki senjata sihir.
Ruangan itu gelap gulita, hanya ada cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah pintu dan jendela. Suara deru napas Heera masih terdengar, dia menarik napas pelan-pelan kemudian berjalan meraba-raba ke arah meja dan menyalakan kembali lilin-lilinnya.
“Kau––“ ucapan Heera terhenti ketika dia melihat ada sebuah saber[1] yang tergeletak di lantai, yang memancarkan cahaya hitam pekat. Aura membunuh itu kembali terasa memberat dan menyesakkan. “Oh, jadi aura membunuh itu berasal dari saber ini.”
“Panahmu bisa menahan saber-ku,” kata Putra Mahkota dengan nada dingin.
Heera menoleh dan menatapnya. “Kau mengujiku?”
Putra Mahkota mengangkat pandangannya hingga bertemu dengan pandangan Heera.
Heera bergidik ngeri membayangkan selama ini selalu ada pelayan yang mati di kediaman Putra Mahkota. Saber itu memiliki aura membunuh yang kuat, bahkan terasa haus darah, tidak heran jika akan ada yang terbunuh secara tiba-tiba seperti ini. Sekali lagi Heera menatap saber itu yang masih tergeletak ditahan oleh anak panahnya. Dia berpikir jika Putra Mahkota Yasabadra bukanlah seorang anak kecil biasa, dia terlalu tenang dan dingin.
“Kau sudah tahu siapa aku?” tanya Heera lagi, kembali menatap Putra Mahkota.
Tanpa membuka mulutnya, Putra Mahkota hanya mengangguk.
“Your Highness, apa kau kesepian?” tanya Heera, seraya memandang wajah Putra Mahkota dari bayang-bayang cahaya lilin.
Ding! layar sistem kembali muncul dan berbicara, “Nona sangat manis~”
Sambil menggerutu Heera mengibaskan tangannya agar sistem pergi, “Pergi sana. Keberadaanmu saat ini tak ada gunanya.”
Dengan suara dengungan sedih, sistem pun kembali menghilang.
“Kenapa kau menyerangku?” tanya Heera lagi.
“Saber itu haus darah,” jawab Putra Mahkota, dengan nada yang masih datar.
Heera memalingkan wajahnya sambil meringis dan bergumam pelan, “Little brother, jika aku mati di sini maka di duniaku juga aku mati. Aku masih punya kucing yang harus kuberi makan, oke.”
“Siapa yang mengirimmu?” tanya Putra Mahkota.
Heera kembali menoleh dan agak terkejut karena anak lelaki itu akhirnya mengambil inisiatif untuk bertanya lebih dulu. “Sistem 095,” jawabnya.
Alis tebal Putra Mahkota mengerut, nampak kebingungan di wajah mudanya. Heera diam-diam menatap wajah manis Putra Mahkota yang sedang bingung. Masih kecil tapi sudah nampak gurat-gurat ketampanan yang sepertinya akan membuat wanita mana pun tak bisa memalingkan wajahnya jika dia dewasa nanti.
“Siapa itu Sistem 095?”
Heera mengibaskan tangannya sambil tertawa pelan, dia kembali duduk dan menyangga dagunya dengan tangan. “Tidak penting siapa itu sistem 095, yang penting aku datang ke sini untuk membantumu.”
“Nona~ Aku mendengarmu,” kata Sistem tiba-tiba muncul.
Heera mengibaskan kembali tangannya pada layar sistem yang hanya bisa dilihat olehnya itu. Dia tersenyum pada Putra Mahkota dengan kedua tangan yang menyangga dagu. “Jadi begini, namaku Heera Gween, aku datang dari dunia yang berbeda dari dunia ini, duniaku adalah dunia modern. Negara asalku bernama The Great Britain. Aku datang membawa tugas, untuk membantumu melepaskan mantra belenggu.”
***