Chapter 11

1320 Kata
Putra mahkota menatap Heera dengan tajam, dan ada ketidakpercayaan di wajahnya. Heera menghela napas dan memutar otak untuk membuat sang Putra Mahkota percaya. “Your Highness bisa melihat sendiri aku bisa menahan saber-mu dengan panah Katryaku, jadi––“ “Jadi kau orangnya,” potong Putra Mahkota. Heera hanya mengerjapkan matanya, selama beberapa detik dia tak mengerti, tapi kemudian dia bertepuk tangan sambil tersenyum. “Nah! Benar, benar, aku orangnya.” Tanpa diduga Putra Mahkota bergerak ke arah lain dan menyambar saber-nya hingga pedang besar itu berada di genggamannya kini. “Kau datang untuk membunuhku? Kau orang yang akan membunuhku?” ujar Putra Mahkota sambil menggeram. Heera buru-buru menyangkalnya, “Eh, bukan, bukan! Aku datang ingin membantumu!” Putra Mahkota menghunuskan saber-nya ke arah Heera. “Ayahku mengatakan penyihir dengan busur Katrya akan membunuhku.” Heera membulatkan matanya sesaat, dia menggerutu sebal dan menyalahkan Raja yang seenaknya mengatakan hal buruk tentangnya. Dia pun menghela napas dan meluruskannya, “Tidak benar. Aku justru ingin membantumu lepas dari mantra itu. Aku tahu kau terlahir dengan kutukan, ada monster dalam dirimu. Untuk menekan monster itu agar tidak bangun, kau disegel. Jika mantra segelmu tidak dilepas, selamanya kau tidak akan memiliki sihir, kau hanya akan menjadi manusia biasa. Bayangkan itu, Raja dan Ratu memiliki usia yang lebih panjang, dan sebelum ayahmu bahkan memberikan takhtanya padamu, kau mungkin sudah tiada karena usia tua. Jika kau menjadi Putra Mahkota dengan sihir, setidaknya kau bisa melindungi rakyatmu.” Putra Mahkota terlihat berpikir dengan kata-kata Heera. Heera bersorak puas dalam hati melihat Putra Mahkota yang nampak mulai percaya. Aku tak menyangka omong kosongku ternyata mempan juga pada seseorang dengan posisi tinggi seperti dia, hahaha~ “Kau tidak akan membunuhku?” tanya Putra Mahkota sekali lagi. “Tidak akan,” jawab Heera dengan senyum tulus. Aku hanya ingin agar tugas ini selesai dan pulang, Your Highness, lanjutnya dalam hati. “Saber ini akan menghisap darahmu sampai kering jika kau bergerak sedikit saja untuk mencelakaiku,” kata Putra Mahkota lagi. Little brother, kau ini curigaan sekali, gerutu Heera, tapi dia tetap tersenyum di luar. “Tidak akan, Your Highness. Kemarilah, aku akan membantumu.” Dengan langkah ragu, Putra Mahkota pun mendekat dan berdiri di dekat Heera sambil menatapnya dengan mata memicing. Heera bangun dan mendudukkan anak lelaki itu di depannya, dia membungkuk kemudian mengambil pisau kecil yang disembunyikan diantara pakaiannya. “Your Highness bisa melepaskan pakaianmu,” pinta Heera. Tanpa menolak, Putra Mahkota pun melepaskan semua pakaiannya yang hanya menyisakan celana panjang berwarna hitam. Heera sedikit takjub dengan tubuh sang Putra Mahkota. Dia tidak berminat pada anak lelaki, hanya saja apa yang ada di atas kulitnya lah yang membuatnya takjub. Ada begitu banyak tulisan mantra sihir dari leher sampai ke perutnya, bahkan lengan atasnya pun tak luput dari tulisan mantra yang ditulis dalam aksara sansekerta. Heera mengambil beberapa lilin dan meletakkannya di meja dekat mereka. Keadaan di ruangan itu menjadi sunyi, hanya ada suara napas mereka yang saling bersahutan. Heera menggoreskan ujung pisau di jari telunjuknya, kemudian mulai membentuk sebuah pola mantra di punggung Putra Mahkota. Tulisan-tulisan mantra itu mulai timbul dan memancarkan cahaya di seluruh tubuh Putra Mahkota. Dari novel-novel dan serial yang aku tonton ritualnya seperti ini, apakah ini benar? Bisik Heera pada dirinya sendiri. “Nona kau sedang apa?” tanya Sistem yang tiba-tiba muncul. “Kau pikir?” Heera balik bertanya dengan sebal. “Nona, kau hanya perlu memusatkan semua pikiran dan sihirmu di ujung jari, tekan dahi Putra Mahkota, ketika mendapat tekanan sihir yang besar dari luar maka belenggu dalam tubuh Putra Mahkota akan hancur,” jelas Sistem. Heera menatap jari telunjuknya yang masih mengeluarkan darah, kemudian ringisan kecil keluar dari bibirnya karena perih. Dia juga menatap punggung Putra Mahkota yang sudah diberkan pola mantra. Jika Putra Mahkota tahu bahwa metode yang dia gunakan salah, mau ditaruh di mana lagi wajahnya karena malu? Dia pun berdeham dan bangun, berpura-pura tidak terjadi apa pun, kemudian melotot pada Sistem. “Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?” “Nona tidak bertanya~” jawab Sistem. “Setiap aku bertanya pun, jawabanmu selalu tidak tahu.” Tak mau berdebat dengan Sistem, Heera pun segera menaruh telunjuknya diantara alis Putra Mahkota, kemudian memusatkan perhatian dan sihir di tubuhnya ke dahi sang Putra Mahkota. Cahaya kebiruan muncul dari jari telunjuknya dan masuk ke tubuh anak lelaki di hadapannya. Heera merasa tubuhnya menjadi panas dan tak terkendali, dia hampir saja menarik kembali tangannya tapi teringat jika dia harus segera menyelesaikan misi ini sebelum kembali ke dunianya. Kepalanya mulai memberat dan tubuhnya semakin panas. Dia merasakan tubuh di depannya pun bergetar sepertinya. Tubuh sang Putra Mahkota bergetar hebat dengan keringat yang mulai membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam dan bibirnya mengatup rapat-rapat dan digigit sampai darah merembes ke dagunya. Tulisan-tulisan sansekerta itu kembali timbul dan semakin bersinar terang seakan menerangi seluruh ruangan ini. Angin berembus kencang dari luar dan membuka pintunya hingga menjeblak dengan suara keras, kemudian menutup kembali. Heera merasa semua benda di ruangan ini bahkan ikut bergetar dan bergejolak. Ketika dia merasakan sudah mencapai batasnya, segera menarik tangannya dan mundur dengan keringat yang juga membasahi wajahnya. Rambut pirangnya terurai berantakan, sampai menempel di leher dan pipinya. “Aaahh!” Suara teriakan Putra Mahkota terdengar keras dan penuh kesakitan. Tubuhnya terjatuh ke lantai dan berguling-guling sambil mencengkeram kepalanya sendiri. Matanya terkadang melotot, dan terkadang terpejam. Keringat dingin kembali membanjiri tubuhnya. Dia masih berteriak-teriak kesakitan sambil berguling-guling. “Your Highness?” tanya Heera seraya berlutut dan hendak meraih kepalanya. “Jangan disentuh, Nona! Energi sihir dalam tubuhnya sedang bergejolak, jika disentuh Nona akan terbakar,” ujar Sistem yang segera menghentikan tangan Heera di udara. “Aaahh! Aaarrggh!” Teriakannya semakin lama semakin nyaring, dan Heera merasa bahwa tanah di bawahnya mulai bergetar dan pintu-pintu serta jendela menjeblak terbuka dengan angin kencang yang muncul. Sekali lagi dia menatap Putra Mahkota yang saat ini masih menggeram sambil berteriak kesakitan. Matanya tiba-tiba berubah kuning sepenuhnya dan terlihat seperti mata naga. Naga? Mungkin aku salah lihat, pikir Heera. Suara derap langkah kaki saling bersahutan dan bergerombol. Heera bisa merasakan getaran di lantai semakin terasa bercampur dengan derap kaki yang banyak. Dia membulatkan matanya dan segera merubah kembali penampilannya seperti semula, dengan atasan merah yang memiliki manik-manik, celana pendek dan rok panjang yang lebar dan memiliki belahan sampai pinggang. Dia juga meraih busur panahnya dan mulai berlari keluar. Dari segala arah ada suara derap kaki yang berlari dan bergerombol bersama dengan orang-orang yang saling berteriak. “Sistem, apa kita ketahuan?” tanya Heera. “Sepertinya begitu~” “Apa yang harus kita lakukan?” “Tentu saja melarikan diri, Nona~” “Ah, kau benar. Tumben kau berguna!” “Kan melarikan diri itu memang pilihan ketika terdesak, benar tidak?” “Benar, benar. Eh, aku juga tahu kalau itu!” Heera pun melompat ke arah pagar dengan menggunakan kemampuan sihirnya. Dia menggendong busur panah di punggungnya, kemudian berlari di sepanjang pagar dan melompat kembali ke tanah. “Cari orang itu! jangan biarkan dia lolos. Blokir semua jalan keluar!” Teriakan demi teriakan terdengar, bersama dengan derap lari orang-orang. Heera bisa mendengarnya, dia berlari ke belakang sebuah bangunan dan bersembunyi di sana dengan deru napas yang keras. Dia bertanya pada Sistem, “Heh, aku bisa teleportasi tidak?” “Sayangnya tidak bisa, Nona~” jawab Sistem dengan suara sedih.  “Kau punya peta istana ini tidak? Ini sangat luas, sepertinya aku hanya akan tersesat di sini.” “Tidak punya, Nona~” “Hah, lupakan, lupakan, ayo kita melarikan diri saja.” Heera kembali berlari dengan bersembunyi, melewati beberapa jalanan yang sepi, tapi hanya sesaat karena orang-orang yang mengejarnya semakin banyak. “Itu dia! Kejar dia!” teriak salah satu pria. Heera melilitkan selendangnya di kepalanya untuk menutupi rambut pirangnya, dia juga mengenakan cadar yang menutupi separuh wajahnya. Dia berlari kembali, dengan dikejar oleh orang-orang. Ketika orang-orang semakin dekat, dia melompat ke dinding kemudian ke atap dan berlari di atap menghindari orang-orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN