Heera mulai menyalakan lilin satu persatu di kediaman pribadi Putra Mahkota di istana. Dia terus menggerutu kesal karena melihat ruangan ini tak ada banyak perabotan, hanya meja dan kursi marmer di tengah ruangan, dan tirai sutera yang membatasi kamar tidur. Bahkan lilin-lilinya pun tidak dinyalakan sama sekali, keadaan istana Baswara cukup menyedihkan. Selain berada di bagian paling belakang, istana ini juga tidak memiliki pelayan satu pun membuat Heera cukup kesal. “Kenapa mereka harus memperlakukan Putra Mahkota seperti itu? Dia adalah pewaris takhta,” gerutunya. “Aku sudah terbiasa seperti ini.” Heera berjengit terkejut seraya menoleh dan melihat Yasabadra yang datang tanpa suara. Wajahnya masih cemberut kesal karena kediaman Putra Mahkota begitu dingin dan cukup kosong. Dia lebih m

