“Your Highness,” panggil Heera untuk memastikan. Yasabadra menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi sambil menjawab, “Ya.” Tak ada tatapan nakal, tatapan bengis dan keji, bahkan tak ada senyum licik yang bertengger di bibirnya. Semuanya terasa datar dan lebih normal. “Ikutlah denganku, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu,” kata Yasabadra lagi. Heera mengangguk dan mengikutinya. Dia berjalan mensejajarkan langkah, satu tangannya terulur menyentuh bahu Yasabadra, tapi pria itu hanya menoleh dan menatapnya dengan datar kemudian kembali menghadap ke depan sambil menyingkirkan tangan Heera di bahunya. Mereka terus berjalan melewati arena prajurit sampai tiba di pintu gerbang kayu yang tadi, mereka masuk kembali ke kediaman pribadi Putra Mahkota. Di sini sangat sepi, cukup rindang deng

