“Jangan macam-macam! Aku akan menghancurkanmu jika kau berani melakukannya,” desis Heera. Dresthabadra terkekeh licik, dalam tatapannya ada kekejian yang begitu nyata. Pria itu sudah berhasil menurunkan salah satu tali gaun Heera hingga bahunya semakin tersingkap polos. Dia merundukkan kepalanya ke leher Heera, mencium bahunya dengan sensual yang segera mendatangkan gelenyar panas beserta rasa merinding di sekujur tubuh. Heera memejamkan mata, berusaha sekuat tenaga mendorong pria ini. Dia seperti tembok beton yang kokoh dan keras, bahkan tak bisa mundur hanya dengan dorongan tangan. Rasanya dia ingin menangis, yang benar saja jika dia harus kehilangan keperawanannya oleh lelaki kejam dan tak berperasaan ini. Dresthabadra mencium bahunya dengan rakus, ciumannya merambat ke lehernya yang

