Heera mendengkus pelan, dia berhasil melepaskan dirinya dengan mantra sihir kemudian bangun dan hendak melompat dari kasur, tapi pinggangnya ditahan dari belakang dengan kuat. Tubuh Heera terjatuh kembali ke belakang dan berbaring di kasur. Rasa ingin menangis semakin kuat di hatinya ketika Yasabadra menindihnya dan mengurung tubuhnya. Entah ini anugerah atau kesialan, dia bisa berada di bawah pria setampan Yasabadra. “Aku tidak akan mengancammu, aku akan menjerit kuat dan membangunkan semua orang,” ujar Heera lagi, tak gentar. Yasabadra terkekeh, suara kekehannya begitu dalam dan mengandung kekejaman. Sejenak Heera bergidik mendengarnya. Pria di atasnya ini memiliki aura intimidasi dan membunuh yang pekat. Meski matanya mengandung tatapan nakal dan sensual, tapi aura intimidasinya tak b

