HUNTER LANGSUNG MEMBAWAKU masuk ke dalam rumahnya dengan cepat. Saat kami masuk ke hutan di belakang rumahnya, mendaki bukit yang cukup tinggi, dan melihat matahari terbit di pagi hari, membutuhkan sekitar setengah jam bagi kami untuk sampai. Sekarang, bahkan tidak butuh lima belas menit bagi kami untuk sampai lagi di bawah. Dia secara praktis sama saja menggendong aku menuruni bukit yang cukup tinggi tadi. Begitu kami sudah sampai di rumahnya yang besar, dia membunyikan sebuah bel yang ada di tiang belakang rumah dengan keras. Aku masih terdiam seribu bahasa. Tenggorokan dan bibirku kering semua. Mataku sedikit kabur. Aku tidak dapat berpikir jernih. Tanganku bergetar, tapi Hunter menggenggam jemariku dengan lembut. Rasanya aku ingin muntah. Perutku mual dan tidak enak. Roti panggang dan

