Dengan Bu Laras?

1433 Kata
Lelah jelas aku rasakan tapi dijalani, dan waktu pasti akan menjawab semuanya juga dengan segala hal yang pasti akan membuatku semakin sabar untuk memaafkan hadapi atau untuk sampai pada sebuah titik terang dari sebuah pengharapan yang paling ujung. Aku tetap kembali ke arah jam dinding di atas sana yang memang tak jauh dari pandanganku saat ini. "Ya Allah, masih 15 menit lagi!" ujarku lirih. Detik kemudian pandanganku ini ku edarkan ke arah kanan dan kiri juga ke arah lepas sana yang memang sesekali ada orang yang melewati depanku tapi sesekali juga keadaan tampak sunyi di sini. Tak jarang dari beberapa orang yang berhasil melewati tempat sini di hadapanku ini selalu menoleh ke arahku, karena sudah terbukti memang jika apa yang diucapkan oleh satpam tadi memang benar juga mungkin saja memang untuk yang interview hari ini hanya aku saja atau memang kenyataannya yang mendaftarkan di sini atau yang lolos mungkin memang hanya aku saja yang semakin membuat ku berharap penuh tapi entahlah rasanya aku sudah sangat ingin menyerahkan semuanya kepada Allah karena sudah takut dan sudah sangat lelah untuk terus berharap pada sesuatu yang kenyataannya aku sungguh tak tahu tapi hanya bisa aku usahakan sampai ke detik sekarang ini. "Masih lama nggak yah kira-kira?! Duh, pak satpamnya pergi lagi. Padahal kan aku mau nanya gitu loh ceritanya tuh, tapi ya gimana lagi deh. Fyuh ... ceritanya emang harus nunggu sampai benar-benar jam 9-an ini malas sendirian lagi di sini kayak orang ilang. Tau gini kan tadi masih bentar bentar ane aja berangkatnya kenapa sih orang berduit itu kebanyakan ya kayak gini sih emang. Apa-apa serba datang telat tapi ya udahlah nggak papa ikhlasin aja, pasti juga ada hikmahnya. Toh bodo amat juga mau dikira gimana-gimana yang penting kan tadi aku udah berusaha disiplin juga. Bukannya itu satu hal yang emang perlu dilakukan yah? Kaya prioritas yang harus banget dilakukan nggak sih kalau kaya gini? CK, ya iyalah. Disiplin itu ya perlu!" Dengan segala hal yang terlontar pada diriku saat ini, secara reflek sebuah helaan nafas panjang kembali aku lontarkan di sini. Kuedarkan pandanganku sejenak ke arah sekitaran tempatku berada saat ini dengan segala hal yang bisa dibilang aku sendiri seperti ingin marah tapi juga seperti ingin dibuat sabar dan sabar terus menerus. Detik demi detik berlalu dengan begitu cepatnya tapi entahlah rasanya seperti sama saja sebenarnya, karena itu hanya opini ku dan itu hanyalah sebuah ya bisa dibilang yang sebuah hal yang mana itu juga. Sampai sebuah tepukan tiba-tiba mendarat di bahuku secara penuh membuatku setelah kembali ke arah samping kanan. "Dengan Bu Laras yah?!" tanya seorang wanita yang bisa aku katakan jika sosok itu sangatlah perfect di sini. Sosok yang sukses membuatku terpana dalam sekejap walaupun aku dengannya sama-sama perempuan tetapi entahlah rasanya itu sungguh sangat pas seperti ini, sampai pikiranku pun berkata jika aku saja yang perempuan mengaguminya apalagi dengan sosok itu atau bahkan bisa dibilang sosok orang lain yang memang adalah laki-laki pasti akan sangat mengaguminya. Pikiran itu pun aku tepis dalam sekejap, "Ya Allah maaf Bu kalau saya tidak sopan!" ujarku lantas berdiri. Sosok itu tersenyum dengan gelengan kecil yang ia lontarkan, "Tidak ... jangan panggil Bu. Panggil saja Mbak atau siapa saja, nama juga boleh. Eumm kalau begitu, benar yah ini dengan Bu Laras?!" CK, rasanya ingin sekali berucap seperti dirinya tak suka jika aku panggil dengan sebutan bu tapi sosok itu disuruh memanggilku dengan sebutan Bu padahal kenyataannya jika dilihat dia pun aku lebih muda daripada sosok itu. Tetapi jelas itu semuanya bisa aku ku renungkan dalam diri saja tanpa bisa aku lancar kan karena tak mungkin juga untuk aku sampaikan. "Eh iya saya Laras, eumm kalau boleh sekalian saya bicara. Jangan panggil saja Bu Mbak, eumm panggil nama saja tidak apa. Karena jujur jika boleh saya katakan saya ini masih terlalu muda Mbak bahkan lebih muda daripada Anda heheheh." Aku yang berkata demikian sosok itu justru tampak terkekeh secara penuh, "Bisa-bisanya. Ehehehe, ya sudah tidak apa. Kalau begitu mbak Laras yang hari ini interview ya?!" tanyanya lagi dengan segala sikap yang sangat sempurna menatap ke arahku yang kini tampak mengangguk dengan segala kesopanannya. "Iya saya sendiri," jawabku singkat, padat, dan sangat jelas. Sejujurnya ada sebuah pertanyaan yang ingin aku ke lontarkan kembali saat ini pada sosok itu mengingat tentang diriku juga yang kenyataannya kembali teringat akan pesan atau sebuah pernyataan yang keluar dari mulut sosok satuan tadi setelah mendengar juga atas apa yang dikeluarkan oleh wanita di sampingku saat ini tapi itu juga tak mungkin aku lakukan karena aku sendiri jujur tampak yah hanya bisa tersenyum dan mengangguk sembari menunggu respon lebih lanjut darinya. Asli, pikiranku sampai berkata tentang sesuatu hal yang dalam sekejap seperti menyimpulkan jika memang aku mendapatkan rezeki bekerja di tempat ini mungkin orang orangnya sangat ramah dan memang yang aku lihat dari satu pun seperti tidak ada sebuah hal yang memang mendesak untuk sebuah kenyataan yang terlalu membuatku pusing atau membuatku jadi seperti ini sekarang juga. "Oke baik, kalau begitu sebelumnya saya minta maaf karena yang saya tahu Mbak Laras itu dapat undangan dari jam 8 ya orang lebih dan yang saya tahu juga dari pak satpam tadi kalau misalkan Mbak Laras itu udah nunggu juga dari jam 8 saya akui bahwa mbak Laras itu sangat disiplin. Dan saya akui juga mbak Laras jika hari ini hanya anda saja yang diundang interview, kalau begitu ... eumm karena ini sudah hampir jam 9 jadi mbak Laras boleh masuk saja ke ruangan sana!" tambahnya sembari menunjuk ke arah sebuah ruangan yang memang aku akui itu tempat dimana seorang satpam tadi menunjuk. Jujur, terkejut jelas aku rasakan di sini. Sampai atas segala hal yang tercipta juga dari ucapan itu, seulas senyum berhasil aku lontarkan saat ini. Walaupun pada kenyataannya sedikit rasa bersalah aku sadari karena memang "Oke ya mbak Laras, kalau begitu berhubung sekitaran menit lagi sudah jam 9 Mbak Laras bisa siap-siap terlebih dahulu nanti bisa dipanggil lagi sama saya kalau tidak ya Mbak Laras langsung saja masuk ke ruangan yang sudah saya beritahu tadi ya. Ya?!" Dalam sekejap anggukan ini aku lontarkan merespon ucapan dari sama-sama yang kini tengah tersenyum kembali ke arahku itu. Selang beberapa detik kemudian wanita itu pun berpamitan undur diri dari hadapanku, sama halnya seperti sosok itu yang seketika seperti undur diri dari hadapanku begitu pula dengan kau yang dalam sekejap kolak ini kembali arsip dengan segala hal yang aku lakukan seperti sekarang ini yang kenyataannya justru kuedarkan kembali pandanganku ke arah sekitaran tempatku berada sebelum setelahnya kembali aku tundukan pandangan ku ini menatap ke arah jarum jam yang jelas tertera di jam tangan, tangan kiriku ini. "Ya Allah ternyata nungguin sampai jam 9 itu lumayan capek ya kalau misalkan gak ada kerjaan sama sekali, fyuh ... biasanya aku jam segini tuh masih tiduran, rebahan, enak-enak gitu loh pak nggak tuh sampai-sampai gitu loh sekarang udah ngelayat aja dari jam 8 udah gitu lah sampai sekarang enggak kunjung datang juga nggak kunjung selesai ini itu. Hadeh ... kan, jiwa-jiwa sahabatku mulai meronta-ronta untuk dikeluarin. dan jiwa-jiwa menyerah ku malah tiba-tiba melonjak kayak gini ya Allah sabarkanlah aku sampai jam 9 nanti ... seenggaknya sampai emang bener-bener aku tuh gimana ya kayak istilahnya tuh emang tahu dan udah ngalamin lagi apa yang aku perjuangkan ini. Hmmm, walaupun jujur aku kayak gini juga kayak masih trauma juga sih takut gagal lagi. Tapi gapapa, kamu ingat-ingat aja Ras apa kata pak satpam tadi yang pada intinya kalau misalkan kamu gagal itu yang nggak apa-apa karena kegagalan itu bukan akhir dari kesuksesan tapi kegagalan itu membeli sebuah kesuksesan. Oke?! Harus strong pokoknya mah Ras. Siap-siap cari dan dan tunggu in sama yang terbaik buat kamu nanti kalau misalkan hasilnya nggak sesuai ekspektasi oke?! Fyuh ... bismillahirrahmanirrahim, ya Allah. Aku selesaikan semuanya ya Allah aku inginkan segala doa aku semoga segera terkabul dan memang kau mudah kan semuanya. Aamiin ...." ujarku panjang lebar berusaha mengaminkan doaku dan semoga saja memang bakalan terkabul di tempat ini dan semoga memang rezekiku di tempat ini. Detik demi detik berlalu segala rasa yang aku rasakan beberapa detik yang lalu kini justru berubah menjadi sebuah rasa yang entahlah bahkan aku sendiri juga bingung aslinya, karena segala sikap sampai gudang segala sikap yang berusaha kalem di sini justru kembali terusik oleh hal panas dingin yang meronta-ronta pada kulit yang keluar juga saat ini seolah tanpa meminta izin lebih dulu padaku tapi justru dengan gamblangnya berulah. Jujur itu membuatku sedikit merasa, 'Bisa-bisanya selalu seperti ini?!' Entahlah, rasanya sangat unik tapi juga menyebalkan. Sampai dengan helaan nafas panjangku, sebuah panggilan alam membuatku harus bangkit dari kenyamanan dudukku dan berjalan menuju ke sebuah ruangan yang telah diberikan petunjuk untukku tadi. 'Bismillah ....' batinku penuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN