Bianca dan Kevin bergegas keluar dari rumah Rossie sebelum Bianca menyipitkan matanya karena ada seorang lelaki berdiri tepat di depan pintu mobil milik Kevin, Bianca bergegas memotret lelaki itu dengan ponselnya.
"Lelaki kampungan, apa dia tidak perna lihat mobil seumur hidupnya sampai harus berfoto di depan mobilku." Ucap Kevin kesal kearah lelaki yang berdiri di depan mobilnya.
Kevin berlari kecil menghampiri mobilnya "He!.. He!.. Minggir." Ucap Kevin kasar dan sombong tanpa perlawanan lelaki itupun segera menyingkir dari mobil Kevin. Kevin segera mengelap bekas tempat lelaki itu menyentuh mobilnya "Jadi kotorkan." Gerutu Kevin lalu bergegas masuk dalam mobilnya diikuti oleh Bianca.
30 menit di perjalanan akhirnya Bianca dan Kevin tiba di rumah sakit "Kau masuklah lebih dulu, nanti aku akan menyusul tunggu kurir makanan itu tiba dulu, ku pikir 30 menit lagi sampai." Ucap Kevin membuat Bianca mengangguk kemudian bergegas menuju kamar rawat milik Rossie.
Rossie yang saat itu terduduk diam memikirkan ucapan Monica "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Bianca kearah Rossie membuat Rossie yang tak menyadari kedatanganya tersentak kaget.
"Maaf, aku hanya memikirkan sesuatu saja." Ucap Rossie.
"Aku tahu pasti Monica telah memberitahumu sesuatu oleh karena itu kau kepikiran, tapi tenanglah Rossie aku memiliki alasan yang akan membuatmu menghilangkan keraguanmu itu." Pikir Bianca.
"Ini sertifikatnya," Bianca menyerahkan sertifikat itu kearah Rossie, dengan tangan yang berat Rossie meraih sertifikat itu.
"Apa menurutmu tindakanku ini benar Bianca? Entah kenapa ada keraguan di hatiku terhadap Kevin." Ucap Rossie menatap sendu kearah sertifikat di tangannya.
"Kau ragu pasti karena ulah Monica, Rossie." Gumam Bianca pelan.
"Itu semua tergantung kau sendiri Rossie, tapi jika aku ada di posisimu aku akan mempercayai Kevin, di lihat dari tindakannya dia sangat tulus padamu." Ucap Bianca memulai mencuci otak Rossie kembali namun Rossie tak merespon, keraguan di wajahnya semakin besar terhadap Kevin.
"Oh iya," Bianca mengalihkan perhatian Rossie "Tadi aku menemukan pepar bag ini di atas meja yang ada di ruang keluarga tapi aku tidak tahu siapa yang menaruhnya." Ucap Bianca seraya menyerahkan paper bag itu kearah Rossie.
"Ini dari Monica, tadi dia ke rumah untuk mencariku tapi katanya tidak ada orang di rumah, pintu rumah dan kamarkupun terbuka tapi tidak ada siapa-siapa ucap Monica. Memangnya kemana kau Bianca bukankah kau ada di rumah." Tanya Rossie.
"Ahh!.. berarti yang memanggil-manggil tadi itu Monica, aku mendengar orang yang memanggil tadi tapi aku tidak hapal suara Monica jadi aku tidak tahu bahwa itu suara miliknya, aku sudah menyahut tapi sepertinya Monica tidak mendengar ku karena aku ada di kamar mandi saat itu," Bianca memberi jeda pada ucapannya "Tadi aku sangat sakit perut butuh ke kamar mandi, jadi karena terburu aku langsung masuk kamar mandi membiarkan pintu rumah terbuka dan pintu kamarmu maklum udah di ujung tanduk." Bianca tersenyum saat menjelaskan membuat Rossie mengangguk tanda mengerti.
"Oh iya tadi katanya Monica..." ucapan Rossie seketika terhenti karena Bianca menyerobot memenggal ucapannya padahal Rossie hampir menanyakan masalah mobil milik Kevin yang di lihat Monica.
"Kau tahu Rossie," ucap Bianca seraya mengarahkan ponselnya menunjukan foto lelaki yang berdiri di depan pintu mobil milik Kevin yang dia ambil tadi "Bukankah ini mobil Kevin?" Tanya Bianca mengarahkan layar ponselnya kearah Rossie.
"Iya, ini mobil Kevin." Jawab Rossie setelah mengamati mobil yang ada dalam foto itu.
"Setahuku kau perna cerita mobil Kevin telah di jual," Rossie mengangguk membenarkan "Mungkin lelaki itu yang telah membelinya karena tadi ku lihat dia yang keluar masuk keluar mobil." Lanjut Bianca membuat tubuh Rossie langsung lemas.
"Yeah Tahun, ada apa denganku? Kenapa begitu cepat bagiku mencurigai Kevin hanya karena Monica melihat mobilnya, aku bahkan nyaris tak percaya pada Kevin, berkat foto dari Bianca aku jadi tahu bahwa Kevin jujur, dia benar-benar menjual mobilnya." Pikir Rossie sebelum perhatian kedua gadis itu di curi oleh suara pintu ruangan yang di buka tak beberapa lama sosok Kevin muncul.
"Kevin?!" Panggil Rossie dengan suara rengekan manjanya, Rossie merentangkan kedua tangannya lebar-lebar memberi isyarat pada Kevin bahwa ia menginginkan sebuah pelukan.
Kevin segera bergegas menghampiri Rossie lalu memeluk Rossie setelah mendapatkan kode dari Bianca dengan sorot matanya.
"Maafkan aku, Kevin karena sempat meragukanmu." Ucap Rossie membuat Kevin bingung.
Kevin memandang kearah Bianca berusaha mencari jawaban dari Bianca apa maksud dari Rossie berkata seperti itu padanya, namun Bianca hanya menganggukan kepalanya dan mengedipkan mata memberi isyarat bahwa Kevin harus melanjukan sandiwaranya.
"Maaf sayang, kau menunggu lama ini dia coklat cakenya." Ucap Kevin menyerahkan paper bag di tangannya.
"Terimakasih Kevin," balas Rossie.
Bianca melihat Rossie memegang sertifikatnya pertanda Rossie akan memberikan Kevin sertifikat itu dengan cepat Bianca mengeluarkan ponselnya lalu mulai merekam moment itu.
"Ini," ucap Rossie sembari menyerahkan sertifikat rumah
"Apa ini?" Tanya Kevin berpura-pura bodoh.
"Sertifikat rumahku."
"Tidak perlu Rossie, aku tidak ingin menerimanya jika kau terpaksa dan merasa tertekan." Ucap Kevin.
"Tidak Kevin, aku tidak tidak berada dalam tekanan dan aku ikhlas memberi ini padamu." Jawab Rossie membuat Bianca mengakhiri rekaman videonya lalu tersenyum puas entah rencana licik apa yang akan dimainkan kembali.
"Kau sendiri yang bilang ingin meminjam uang untuk dana nikah kita dan ingin menggunakan sertifikat ini sebagai jaminan bukan?" Kevin segera mengangguk membenarkan dan tanpa tau malu ia langsung mengambil sertifikat itu dari tangan Rossie.
"Mari kita mengadakan pesta meria untuk pernikahan kita sayangku." Ucap Kevin sembari memeluk Rossie namun pandangan Kevin hanya tertuju pada Bianca, sebelum keduanya tersenyum penuh makna.
Bersambung...