Sayang Seorang Anak

1081 Kata

“Ayah, cepatlah sadar ….” Syazwani meratap seorang diri di depan pintu, memandang kosong pada kaca putih, tebal, dan buram. Pintu kaca yang menjadi pembatas antara dirinya dan Amran yang berada di dalam ruang ICU, dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuh kurusnya. Siapa sangka serangan sesak napas yang diderita Amran, membawanya ke dalam ruang perawatan khusus. Bahkan hingga menjelang siang seperti ini pun, keadaan Amran tidak membaik sama sekali. Pria tua itu kehilangan kesadaran sejak dirinya pertama tiba di rumah sakit. “Kalau ayah tak sadar, macam mana Syaz nak balik rumah, nak sekolah, dan nak kerjakan semua kerja rumah.” Sekali lagi Syazwani bermonolog di depan pintu. Mengusap air matanya yang tidak berhenti mengalir, setiap kali mencoba melihat ke dalam ruang ICU

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN