Fatimah berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit ditemani oleh Ammar yang mengikuti dari belakang. Tubuh kurus dengan wajah kemerahan penuh keriput itu, memperlihatkan isi hati yang memendam kemarahan pada seseorang. Tepatnya pada anak kecil yang selama berapa hari ini mereka terlantarkan di rumah sakit, untuk merawat Amran seorang diri. Panggilan telepon masuk dari Dokter Fransiscus yang menjelaskan keadaan Amran dan menyertakan rincian harga obat yang harus dibeli, membuat Fatimah malu. Harga dirinya jatuh ke dasar jurang yang paling dalam, menduga kalau sang dokter mengetahui keburukan keluarga mereka. Malu, karena secara tidak langsung, Dokter Fransiscus mengatakan dirinya tahu kalau Syazwani dan Amran diterlantarkan. "Mana b***k tuh? Geram betul Ibu nak tampar muka dia. Pa

