Nancy manatap tak percaya dengan apa yanh dilihat. Kedua matanya mengikuti kedua pria yang saling merangkul masuk ke dalam rumah. Ia merasa dunia ini sudah tidak bulat melainkan datar. Ia menyadarkan diri lalu memegangi pelipisnya sendiri sambil mengatur nafas yang tiba-tiba sesak. “Hei! Tutup pintunya!” seru Neilh dari jarak yang cukup jauh. Nancy yang masih mencerna apa yang terjadi beberapa detik lalu harus tersentak saat seruan sang kakak masuk ke dalam kendang telinganya. Ia ‘pun menuruti apa yang dikatakan sang kakak. Kini seluruh tubuhnya gerah dan panas seketika, ia memutuskan untuk terus berjalan naik lantai atas. Berendam. Ya, hanya itu alternatif yang bisa meredakan pemanasan global di dalam rumah ini. Saat berendam saja ia tetap merasa panas. Ya tuhan! Ia tidak habis pikir,

