*** “Ayo masuk.” Sambil membuka pintu kamar rawat, ajakan tersebut Isyana lontarkan pada pria di sampingnya yang belum lama kembali setelah sebelumnya menghilang. Tak pergi jauh, pria tersebut yang tidak lain adalah Sean, beberapa waktu lalu hanya pergi ke kantin untuk mencari minum. Tak disusul, Isyana memutuskan untuk menunggu setelah diberitahu. “Ini serius tidak apa-apa saya masuk?” tanya Sean pelan. “Ibu kamu baru sadar, saya takut kondisinya menjadi tidak baik kalau ketemu sama saya.” “Mas kan bukan Pak Panji, Mas,” jawab Isyana. “Jadi ibu pasti aman-aman aja ketemu sama Mas. Saya kan udah cerita semuanya ke Ibu.” Sean tidak menjawab dan hanya memandang Isyana, hingga pegangan di telapak tangan membuatnya spontan menunduk dengan perasaan yang cukup terkejut. “Ayo, Mas, Ibu uda

