Nasihat bijak

2700 Kata
Kemudian mereka saling menatap dengan tatapan yang dalam. Diaz mencium kening Aya "Saya tidak akan meminta hak saya disaat kita belum saling mencintai, jadi kamu tidak perlu gugup ataupun takut" ucap Diaz Tatapan hangat dari seorang kapten dingin sangat berdamage "I--iya"Aya gugup Diaz langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya Setelah Diaz keluar dari kamar mandi Aya bergegas masuk karena dia tidak mau sampai Diaz melihat pipi Aya yang sudah merah seperti tomat. Aya cukup lama berada di kamar mandi,ia ingin menetralkan perasaan dan jantungnya. "Saya boleh buka hp kamu tidak?" "Boleh mas, buka aja passwordnya tanggal lahir"ucap Aya Saat memasukkan password tanggal lahir di hp Aya, ternyata tidak bisa terbuka karena password salah Tiga kali Diaz mencoba dan tetap gagal "Kok gak bisa, apa salah posisi"batin Diaz "Password salah "ucap Diaz menatap Aya "Tanggal bulan tahun lahir mas "ucap Aya "Ini udah dicoba sampe 3x sayang gak bisa juga saya ini tau tanggal lahir kamu "ucap Diaz Blussshh...... "Hah sa-sa-sayang?!!!! Telinga Aya tidak salah dengarkann ini tidak mungkin. "Aya"panggil Diaz "Ihh mas Diaz bukan tanggal lahir aku tapi tanggal lahirnya Mas Diaz, mau sampe lebaran monyet kalo masukin tanggal lahir aku ya ga bakal kebuka"ucap Aya Seketika dia sadar apa yang dia ucapkan. "Haduhhh mampusss kenapa gue belum ganti siii ,kesannya gue kecintaan banget sampe password hp aja tanggal lahir dia" batin Aya kesal dan malu sendiri dengan apa yang dia pasang di hp. "ARGHHHH......" kesal Aya Diaz tersenyum dengan apa yang barusan dia lihat, wallpaper background ponsel Aya adalah foto nya saat candid "Kamu cinta sama saya?" Diaz tersenyum tipis "Nggak mana ada, aku tuh ga ada foto bagus nah terus tuh kebetulan foto Mas tuh bagus jadi aku pake wallpaper." Aya mengelak Aya pun memposisikan dirinya tidur disamping Diaz. Aya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki sampai ujung kepala "Jangan begini nanti sesak" ucap Diaz Diaz menarik selimut, sehingga tidak sampai menutupi kepala Aya. Mereka berdua kemudian tertidur. Pagi hari. Diaz terbangun, ia merasa dipeluk seseorang. Saat menoleh ternyata Aya memeluk Diaz seolah Diaz adalah guling. Diaz hanya tersenyum melihat wajah damai istrinya itu. Beberapa saat setelah Diaz memandangi Aya yang sedang tertidur pengingat Adzan Subuh di ponselnya berbunyi. "Aya bangun sholat"ucap Diaz sambil menggoyang goyangkan tubuh Aya agar dia bangun "Hoammm iya mas 4 menit"ucap Aya dengan mata yang masih terpejam. "Bangun sekarang atau kamu saya cium" Aya langsung membelalakkan matanya kemudian Aya bergegas masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu, Diaz hanya terkekeh saat melihat Aya salah tingkah. Setelah Aya keluar kamar mandi, Diaz masuk dan mengambil air wudhu. Kemudian mereka berdua shalat subuh berjamaah. Setelah selesai shalat subuh, Aya segera mandi sedangkan Diaz sudah menjadi rutinitasnya setelah shalat subuh ia membaca Al Qur'an. Selesai Aya mandi mereka akan pulang ke rumah orang tua Diaz. Sesampainya di rumah orang tua Diaz, Aya langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. "Bi biar aku aja yang bikin sarapan"ucap Aya pada pembantu yang ada di rumah Diaz " Jangan non Aya, Non baru datang masa langsung mau bikin sarapan lagipula ini tugas bibi" ucap bibi "Ayolah bi, aku mohon biar aku aja" Aya memohon menyatukan tangannya dan wajah memelas "Yaudah non, mau bibi bantu nggak?" "Gausah bi, bibi kerjain yang lain aja masih banyak kerjaan kan" "Ya sudah bibi permisi dulu non mau bersih bersih" Setelah bibi pergi, Aya membuka kulkas dan melihat bahan apa yang ada untuk membuat sarapan. "Bikin apa ya? emm bikin pan seared salmon sourdough bread & green salad aja kali ya"gumam Aya Aya kemudian menyiapkan bahan bahan untuk memasaknya. Setelah beberapa saat pan seared salmon sourdough bread & green salad selesai dibuat, tinggal menggoreng cumi dan udang untuk nasinya tadi sudah buat bibi. "Sayang ngapain?" "Kakak ipar ngapain?" Ucap Farah dan bunda berbarengan saat sudah sampai di dapur melihat ada Aya disana "Eh bunda, Farah aku bikin sarapan buat hari ini" ucap Aya sambil tersenyum "Kakak baru sampe rumah kan emang kakak ga capek? Kakak pengantin baru lhoo" Farah tak percaya Aya sudah hampir menyelesaikan masakannya, jam berapa kakak iparnya ini datang. "Capek sih pegel pegel sisa semalem, tapi gak apa apa kok aku baik baik aja" Farah dan bunda langsung tersenyum menggoda mendengar ucapan Aya. "Oh pegel pegel kak,sakit gak? Sampe jam berapa emang? Lama nggak? Kak Diaz gak kasar kan? Muka kakak lumayan fresh emang cuma sebentar ya kak? Enggak kayak orang kurang tidur. "ucapan Farah dengan senyum penuh arti, Sayangnya Aya tidak mengerti maksud adik iparnya. "Huss kamu ini pengen tau urusan orang dewasa aja Ra" ujar bunda menyenggol lengan Farah sambil tertawa "Sini bunda bantuin sayang kamu istirahat aja" tawar bunda pada Aya "Nggak usah bunda ini udah hampir selesai kok, bunda sama Farah duduk aja" Ucap Aya Bunda Ratih dan Farah duduk di meja makan. Setelah semua masakan sudah selesai dibuat, Aya menatanya pada piring dan menyiapkan di meja makan. Farah menatap makanan yang tersaji dengan mata berbinar dan ia ingin segera mengambil piring dan sarapan namun dicegah bunda. "Jangan dimakan dulu Ra, bunda mau panggil Ayah dulu, Nak kamu panggil suamimu ya" "Iya bunda" Kemudian Aya naik untuk memberi tahu Diaz kalau sarapan sudah siap, Saat Aya membuka kamar ternyata Diaz masih membaca Al Qur'an suaranya sangatlah merdu. "Em anu Mas Diaz" ucap Aya pelan Karena Diaz mendengar suara Aya ia berhenti membaca Al Qur'an dan menutupnya. Diaz menatap Aya seolah bertanya kenapa memanggil. "Eh itu anu sarapan, sarapan udah siap ditunggu bunda sama Farah" ucap Aya gugup Tanpa menjawab Diaz kemudian turun mendahului Aya yang masih terdiam. Aya heran, kenapa suaminya berubah menjadi cuek lagi. "Lho, kak kok turun sendiri kakak iparku mana?" Farah penasaran karena tadi Aya disuruh bunda untuk memanggil Diaz tapi kenapa Diaz turun sendirian. "Ada" ucap Diaz singkat Farah geram, kakaknya ini memang susah untuk tidak bersikap seperti ini. Tidak bisakah dia lebih manis karena baru menikah? Setelah beberapa saat Aya turun "Kakak kok lama ? Ngapain kak?" Tanya Farah pada Aya yang sudah duduk di meja makan "Tadi ke kamar mandi sebentar Ra" ucap Aya dengan tersenyum "Oke oke sekarang saatnya makann" ucap Farah dengan semangat Sebelum itu mereka berdoa bersama sama. Mereka menikmati sarapan yang dibuat Aya "Wahh ini enak banget parah deh ternyata Kak Aya pinter masak" puji Farah "Nggak juga Ra, perasaan rasanya biasa biasa aja deh" ucap Aya mengelak walaupun kenyataannya masakannya memang sangat enak. "Saat makan diam." Instruksi Diaz membuat Aya dan Farah diam. Farah menggerutu dan menatap sinis kakaknya. "Kak Ay, aku ajarin masak dong aku juga pengen bikin masakan seenak ini." ucap Farah "Rebus air aja gosong mau sok sok an masak" ucap Diaz jengah, adiknya ini sungguh berisik. "Iya bakal kakak ajarin sebisa kakak" Aya tersenyum. Setelah selesai sarapan, Diaz berada di ruang keluarga untuk menonton televisi. Diaz masih berada dalam cuti pernikahan juga libur karena akan melaksanakan tugas. Sedangkan Aya setelah sarapan tadi mencuci piring dan ke ruang keluarga untuk menonton drama di ponselnya. Tiba tiba ponsel Diaz bergetar menandakan ada chat masuk. Diaz melirik ponselnya dan ada chat dari nomor tak dikenal maka tidak dihiraukannya ia lebih fokus pada televisi yang sedang di tonton. Karena Aya merasa ponsel Diaz bergetar ia menatapnya dengan penuh tanya mengapa tidak di buka? "Jangan lupa nanti jam 10 kita pindah ke rumah dinas"ucap Diaz tanpa mengalihkan pandangan dari tv "Iya sudah ku siapkan,oh iya ku lihat ponselmu bergetar apa kau tidak mau membukanya?" "Ambil, liat sendiri" ucap Diaz sambil menyodorkan ponselnya pada Aya tetapi Matanya tetep fokus pada layar televisi. Ragu ragu Aya meraih ponsel Diaz tapi karena memang penasaran ia mengambilnya. "Mas,mau balas boleh gak?"tanya Aya pada Diaz ragu "Terserah" +62 8936-9337-xxxx : Hai,apa kabar? Me : Siapa? +62 8936-9337-xxxx : Eh akhirnya di balas. Kamu parah sayang, masa melupakan aku :'( Me : Anda siapa? +62 8936-9337-xxxx : Sayang kok jadi aneh sih, aku kan pacar kamu Kening Aya berkerut karena membaca balasan dari nomer tak dikenal itu, Parahnya dia memanggil Diaz dengan sebutan sayang dan berkata bahwa dia pacar Diaz. Hati Aya terasa sakit dadanya sesak baru sehari Aya sah menjadi istri Diaz tetapi kenyataan bahwa Diaz memiliki seorang kekasih menghancurkan hatinya. Aya sebenarnya sudah jatuh cinta pada Diaz hanya karena ego dia menutupinya, Sebulan terakhir selalu bersama Diaz membuat Aya terbiasa dengan Diaz dan Aya sudah menyerahkan hatinya . Aya menatap Diaz, mata Aya mulai memanas, ingatannya seolah kembali saat dia menanyakan tentang kekasih. "Kamu bilang aku yang pertama" Aya menahan air matanya agar tidak menetes Diaz langsung memalingkan wajahnya ke arah Aya karena Diaz merasa ada yang tidak beres dari ucapan Aya. "Maksudnya" tanya Diaz yang langsung menghampiri sang istri, Diaz melihat Aya yang hampir menangis. "Kamu bilang aku yang pertama lalu ini apa harusnya kita ga nikah kalo kamu punya pacar" Aya yang sudah tidak bisa menahan air matanya, Diaz mengusap air mata Aya. "Kamu bisa kok ceraikan aku sekarang dan kamu bisa sama pacarmu " Aya mulai emosi. "Jaga ucapan kamu, gausah kekanak kanakan dan dengan gampangnya kamu ngomong cerai. Saya sedang tidak ingin ribut."ucap Diaz yang emosinya mulai terpancing Diaz langsung mengambil ponselnya dan pergi menuju kamar. Aya di tinggalkan sendirian di ruang keluarga. "Kamu bohong. Kamu bohongin aku. Kenapa kamu harus bohong. Kamu harusnya jujur dari awal.Kamu bilang aku yang pertama. Kamu jahat. " gumam Aya Aya kemudian bangkit dan pergi menuju dapur. Aya mengambil air minum untuk menetralkan hatinya dan menenangkan dirinya. "Assalamualaikum, Farah pulang" "Waalaikumsalam" balas Aya dengan seberusaha mungkin membiasakan suaranya, Namun tidak berguna karena suaranya tetap tidak bisa bekerja sama. Farah mendekat kearah Aya karena ia merasa kakak iparnya sedang dalam kondisi tidak baik baik saja. Awalnya Farah hanya mengintip dari pintu dapur apa yang sedang kakak iparnya lakukan, kemudian Farah memasuki dapur dan menatap kakak iparnya. "Kak Ay kok nangis? Kenapa?" ucap Farah kemudian mendekap Aya dalam pelukannya, Farah khawatir dengan kakak iparnya yang sedang berusaha untuk menahan tangisannya dan air matanya. "Gapapa, kakak motong bawang jadi gini deh hahaha" elak Aya "Kakak ga usah bohongin Farah, kakak lagi pegang air mineral bukan bawang. Kakak kenapa?" Seketika itu air mata Aya sudah tidak dapat dibendung lagi, dia membalas pelukan Farah dan tangisnya pecah. Farah panik karena dia tidak tau apa yang terjadi. "Eh eh kakak kenapa? Kita ke kamar Farah dulu yuk udah udah jangan nangis" ucap Farah panik Setelah sampai di kamar Farah, Aya duduk di ranjang kamar Farah ia berusaha menetralkan hatinya untuk bisa berhenti menangis dan ya itu berhasil. Aya kini melamuni nasibnya. Sah sehari menjadi seorang istri, dia harus menerima pil pahit bahwa sang suami masih memiliki kekasih lain. Hancur hatinya terluka disaat dia telah jatuh hati pada suaminya ia harus merasakan kecewa. Farah setelah mendudukkan kakak iparnya tadi langsung kedapur untuk mengambil teh manis hangat. Dia kembali membuka pintu kamarnya, tapi kakak iparnya itu seolah tidak sadar. "Kak Ay" "Kakak" "Kakak ipar" "Kak Aya" "Dokter Dewi Claradia Maharani Wijaya Nugroho"ucap Farah Farah menyentuh bahu Aya. "Eh Farah" Aya tersadar. Farah membantu kakak iparnya untuk minum. Setelah cukup tenang Farah menghadap Aya dan menyentuh tangan Aya. "Kakak kenapa? Jujur aja sama Farah kakak cerita sama Farah. Sekarang Farah ini adek kakak. Kakak harus berbagi masalah sama Farah. Kakak disini ngga sendirian ada Farah, ayah ,bunda dan kak Diaz suami kakak, kita keluarga kak" ucap Farah "Kalau kakak udah ga jadi kakak ipar kamu, kamu masih mau ngga anggap kakak sebagai kakak kamu?" tanya Aya "Pasti ada hubungannya sama Kak Diaz"batin Farah. "Kak Ay nih ngomong apa sih? Kak Ay tuh bakal tetep jadi kakaknya aku. Bakal selamanya jadi kakak ipar aku jadi Kak Ay ga boleh ngomong gitu." ucap Farah dengan nada selembut mungkin, Kemudian Farah pamit untuk mengambil camilan dan Aya hanya mengangguk. Sebenarnya Farah bukan ingin mengambil camilan tapi ia ingin menemui kakaknya. Tok....tok....tok Farah mengetok pintu kamar Diaz, Diaz membukanya. "Ngapain kamu?" tanya Diaz "Lo apain kakak ipar gue?" tanya Farah dengan lirikan sinis yang mengarah pada Diaz. Diaz tertegun, Farah tidak pernah berbicara lo-gue padanya kecuali saat Farah sedang kecewa. "Kakak ngga apa apain" ucap Diaz "Kalo lo ga ngapa ngapain kakak ipar gue, kenapa dia bisa nangis. Lo baru kemaren SAH jadi suami dia dan teganya lo lukain dia cowok macam apa lo" masih dengan tatapan sinis Farah "Ini salah paham, kakak ngga melakukan apa apa tapi Aya pikir kakak punya pacar karena tadi ada nomor asing yang ngaku kalo dia kekasih kakak. Sumpah demi Allah kakak ga pernah punya kekasih sebelum nikah sama Aya"ucap Diaz lalu ia menjelaskan. Farah termenung mendengar penjelasan Diaz. "Astaga kak, kakak udah coba jelasin belum" tanya Farah pada Diaz, dan hanya dijawab gelengan kepala. "Biar dia tenang dulu nanti baru di bahas, saya sedang tidak ingin ribut." ucap Diaz "Astaga kakak, masalah kek gini jangan sampai berlarut larut. Kakak harus segera minta maaf ke Kak Aya walaupun kakak ga salah." "Inget kak walaupun cewek yang salah cowok lebih baik minta maaf duluan. Di kondisi ini emang Kak Aya salah karena dia udah salah paham dan berasumsi sendiri tanpa langsung konfirmasi ke kakak." "Tapi kak saat cewek sedang dalam kondisi emosi yang ga terkendali yang cuma bisa nangis dan berontak bisa berantakan kalo ga ada yang ngalah." "Aku paham, Kak Aya tipe orang yang lebih percaya apa yang di lihat daripada apa yang di dengar. Setidaknya kakak berusaha meyakinkan istri kakak. Kalian sudah menikah, ini bukan hubungan main main. "Kakak inget yang selalu kakak ucapin ke Farah, minta maaf duluan bukan berati salah tapi mendewasakan diri dimana hati bisa menerima dengan lapang suatu permasalahan yang timbul bukan dari diri kita sendiri." "Cewek itu punya perasaan yang lembut kak. Kakak ga boleh bentak , marah marah apalagi sampe di kasarin. Kak perasaan cewek tu mudah terluka dan lukanya sulit untuk sembuh apalagi kalau sudah kecewa. Sebisa mungkin kasih pengertian dengan lembut." "Kakak harus paham, kakak itu sekarang juga pemimpinnya Kak Aya bukan cuman pimpinan tim kakak aja. Ini cuma salah paham aja sebenernya, dan kalian berdua bersalah. Kakak yang tidak langsung menjelaskan dan Kak Aya yang berasumsi sendiri." "Kasih dia pengertian bahwa dia salah paham, jangan dibentak, jangan dipaksa untuk percaya, cukup jelaskan apa adanya. Kasih Kak Aya kenyamanan berada disamping kakak. Kakak harus jadi sandaran buat Kak Aya jangan jadi belati yang akan menyakiti." "Aku tau kak, kalian dijodohkan tapi aku bisa liat kalo Kak Aya sudah jatuh hati pada kakak buktinya hatinya terluka mengetahui kakak yang dipikirnya punya pacar, begitu juga kakak yang sudah tertarik dengan Kak Aya buktinya aku bisa liat dari mata kakak." "Kak mata ga pernah bohong, kakak sendiri yang bilang kalau di mata itu ga akan pernah ada kebohongan. Farah mohon turunin ego kakak yang masih menutupi bahwa kakak udah sayang sama Kak Aya dan ga bisa kehilangan dia." ujar Farah Farah panjang lebar menasehati kakaknya. "Dan aku minta maaf tadi udah ga sopan sama kakak,"ucap Farah tulus "Kakak sekarang ke kamar aku deh, kakak jelasin ke Kakak ipar kalo dia salah paham"ujar Farah dan Diaz mengangguk. Tok....tok....tok Pintu kamar Farah di ketuk Diaz,tapi Aya pikir itu Farah dan menyuruhnya masuk. "Huh masuk aja Ra" ucap Aya tanpa menoleh ke pintu. Diaz masih diam, ia bingung menjelaskan bagaimana karena dia sendiri juga tidak tau siapa yang mengaku sebagai pacarnya. "Aya"panggil Diaz "PERGI" ucap Aya tanpa menoleh, hatinya masih sakit "Dengerin saya" Diaz yang mulai mendekat,tapi Aya tidak menyadarinya. "APA ANDA TIDAK MENGERTI APA YANG SAYA UCAPKAN" bentak Aya Diaz langsung memeluk Aya dari belakang. Deg....Deg....Deg.... Sunyi. Keduanya diam tanpa suara, Aya kehabisan tenaga untuk memberontak. Mulutnya seakan terkunci tenggorokannya terasa kering membuatnya tak bisa berkata kata... "Maaf"gumam Diaz, Kata 'maaf' disalah artikan oleh Aya. Aya pikir Diaz memang benar mengakui kalau dia masih memiliki pacar. Air mata Aya kembali menetes,namun Aya berusaha untuk tidak mengeluarkan suaranya. "Saya mau jujur. Saya tidak pernah punya pacar. Kamu memang yang pertama. Dan untuk nomor itu saya tidak tau,. Mau percaya atau tidak itu terserah kamu tapi saya harap kamu percaya."jelas Diaz Aya masih diam seribu bahasa, ia belum bisa sepenuhnya percaya pada suami nya. . "Kamu hanya salah paham sama saya, saya tidak akan pernah mengkhianati kamu. "lanjut Diaz, Aya melepaskan pelukan Diaz dan beranjak pergi. Saat hendak beranjak pergelangan tangan Aya ditahan Diaz. Aya melepaskan pelan. Aya mengambil barang barangnya di kamar dan akan memasukkannya ke dalam mobil. Farah yang melihat Aya membawa koper tiba-tiba panik, apakah Aya akan meninggalkan Diaz
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN