Belanja

1987 Kata
"Kak Ay!" Farah berteriak saat Aya hampir keluar dari pintu utama, Aya menoleh ke arah Farah. Tapi, Farah malah berlari dan berhambur ke pelukan Aya. "Kak Ay, jangan pergi. Kak Diaz tuh sayang banget sama Kak Ay, dia ga bisa hidup tanpa Kak Ay. Kak Ay cuman salah paham sama Kak Diaz. Kak Ay itu yang paling istimewa buat Kak Diaz " tangis Farah pecah masih memeluk erat Aya. "Ra kakak ga kemana mana"ucap Aya sambil mengelus rambut hitam Farah "Kalo kakak ga kemana mana kenapa bawa koper? Hwaa Kak Ay mau bohongin Farah" Aya terkekeh melihat adik iparnya itu. "Kamu lupa kan kakak akan pindah ke rumah dinas Mas Diaz"ujar Aya sambil mengelus pipi Farah yang basah karena air mata. "Tapi kakak udah ga marahkan sama Kak Diaz? udah percaya kah?"tanya Farah penuh harap. "Kakak ga marah,"ucap Aya sambil tersenyum walau hatinya belum sepenuhnya percaya. Aya sudah berjanji pada hatinya jika ada seseorang yang berusaha mengganggu rumah tangganya maka dia tidak akan dengan mudah membiarkannya berada di sekitar suaminya. Selama Diaz mampu menutup hati, Aya tidak apa apa. "Hwaaaa Kak Ay is the best, pokoknya kalo Kak Diaz melakukan kesalahan yang bikin Kak Ay sedih, Kak Ay harus bilang sama aku" ucap Farah sambil menepis air matanya, dan hanya di angguki oleh Aya. Setelah barang barang masuk Aya dan Diaz pamit pada Farah, karena Ayah dan Bunda belum pulang maka mereka hanya mengirim pesan. Kemudian mereka bergegas menuju rumah dinas milik Diaz. Hanya hening yang tercipta saat dalam perjalanan. Setelah sampai di rumah dinas, Diaz mengambil barang barang dan membawanya masuk. Sedangkan Aya hanya menenteng tas kecilnya saja. "Kita akan tinggal disini"ucap Diaz memecah keheningan. "Tau"jawab Aya datar. Setelah mendengar jawaban Aya, Diaz meletakkan barang barang ke kamar dan kembali menemui Aya yang masih diam di ruang tamu. Kini Diaz berhadap hadapan dengan Aya. "Tegur saya kalau saya melakukan kesalahan, tegur saya jika saya melakukan sesuatu yang ngga kamu suka. Pernikahan kita memang didasari perjodohan tapi saya mau pernikahan kita berjalan layaknya pernikahan pada umumnya."ucap Diaz serius Aya mengangguk. "Saya milikmu seutuhnya. Kamu milik saya seutuhnya. Kamu seseorang yang dikirim Tuhan untuk saya." Aya langsung memeluk Diaz, membuat Diaz kaget ia tidak menyangka Aya akan memeluknya. "Aku ga akan ngebiarin siapapun merusak rumah tangga kita, izinkan aku mencintai mu, Kapten." ucap Aya Setelah selesai berpelukan, mereka membereskan barang barang. "Disini ada 2 kamar dan yang sebelah kanan kamar kita." ucap Diaz sambil menunjuk sebuah kamar. "Iya aku beresin dulu kamu istirahat aja Mas"ujar Aya pada Diaz. "Saya mau bantuin kamu" ucap Diaz sambil mencekal tangan Aya yang akan masuk ke kamar. "Gausah ih nanti temenin belanja aja, belum ada bahan makanan kan?"mendapat gelengan dari Diaz. "Saya jarang masak, paling beli di kantin kalo ga ya keluar. Oh iya nanti sore kita sowan ke atasan saya." ucap Diaz "Iya, aku beres beres dulu biar cepet kelar." ujar Aya. Setelah beres beres dan merapikan barang barang mereka bergegas menuju supermarket untuk berbelanja. "Kamu mau makan apa hari ini,Mas?" tanya Aya pada Diaz. "Apa aja yang kamu buat saya makan"ucap Diaz "Kamu sukanya makan apa Mas?"tanya Aya lagi. "Saya bukan tipe pemilih soal makanan, semua bisa saya makan kecuali yang beracun" Diaz membuat Aya terkekeh Diaz spontan menggandeng tangan Aya Saat sedang memilih bahan tiba tiba ada yang tidak sengaja menabrak punggung Diaz, membuat Aya dan Diaz menoleh kebelakang "Sorry sorry ga sengaja tadi didor------ DIAZ?!" Seorang wanita cantik berkulit putih,tinggi semampai dan bertubuh ideal terkejut melihat orang yang tidak sengaja ditabraknya "Maaf anda siapa?" tanya Aya Karena Diaz hanya mengeluarkan ekspresi datarnya dan seolah acuh pada wanita itu. "Yaz aku kangen banget sama kamu, kamu kemana aja aku nyariin kamu" wanita itu berhambur ke pelukan Diaz, Diaz kaget langsung melepas pelukan wanita itu. "Jangan lancang memeluk saya."ucap Diaz datar Ingin rasanya Aya menampar wanita yang telah lancang memeluk suaminya tapi dia tidak mungkin untuk melakukannya di tempat umum dan jika hal itu dilakukan maka bisa saja hal buruk terjadi. "Diaz kamu kok makin judes sih"ucap wanita itu tanpa mempedulikan pertanyaan Aya, Hal itu membuat Aya emosi namun ditahannya kemudian Diaz dan Aya beradu pandang, "Siapa?" "Aku Rissa yaz , masa ga ingat"ucap wanita bernama Rissa dengan senyum mengembang "Tidak kenal"Diaz sinis "Padahal kita waktu SMA kemana mana bareng, bahkan kamu sering nganterin aku pulang kalo ada kegiatan yang selesainya malem" ucap Rissa sambil menatap Diaz Aya hanya menyeritkan dahinya. Diaz menggenggam tangan Aya yang perlahan mundur untuk menjauh. Namun ditepis pelan Diaz tau Aya pasti cemburu dan salah paham dengannya lagi Diaz tak ingin itu terjadi. "Kamu tega banget sih, aku Margaretha Clarissa wakil kamu di OSIS dulu" ucap Rissa Risaa menarik tangan Diaz tapi sebelum tangan Rissa menyentuh tangannya ia menghindar. "Mage?" mendengar ucapan Diaz, Rissa tersenyum karena Mage adalah panggilan dari Diaz untuknya dulu. "Wanita lain lagi ya, bolehkah aku egois bahwa kamu hanya milikku dan tidak boleh berdekatan dengan yang lain?" batin Aya dengan tatapan sendu. Mereka berbincang bincang sebentar, tapi Aya hanya diam, dengan senyumnya yang masih mengembang Rissa pamit karena atasannya menghubungi untuk segera bertemu membahas sebuah kasus. "Aku bakal dapetin kamu lagi."batin Rissa. Rissa tidak tau bahwa Diaz sudah menikah, karena dari tadi ia tidak mempedulikan keberadaan Aya. Rissa juga tidak melihat saat tangan Aya digenggam Diaz. "Mau beli apa lagi ?" tanya Diaz pada Aya yang sedari tadi diam. "Pulang" hanya itu yang diucapkan Aya "Yakin ini udah semua?" tanya Diaz lagi dengan menatap Aya "PU-LANG" ucap Aya penuh penekanan dan pergi begitu saja, Diaz tau dan paham bahwa Aya kembali marah padanya. Siapa yang tidak marah jika dari tadi hanya dicueki dan malah mengobrol dengan wanita lain apa lagi Diaz tidak mencoba memperkenalkan Aya sebagai istrinya. "Sabar sabar untung istri"batin Diaz Setelah membayar belanjaan Diaz menuju mobil, Aya memang sudah berada disana duduk diam dan menutup matanya. Aya tidak sadar jika Diaz sudah di sampingnya. Diaz memasangkan safe belt pada Aya membuat Aya tersentak kaget. Kemudian mereka melaju meninggalkan area supermarket tersebut. Selama perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang dikeluarkan dari mulut baik Aya maupun Diaz. Setelah sampai di rumah Dinas, Aya membawa barang belanjaan dan kemudian menatanya di dapur. Diaz ingin membantu tapi Aya bersikap acuh membuat dia mengurungkan niatnya. Diaz kemudian duduk untuk menonton tv. Sangat tidak gentle Setelah selesai merapikan belanjaan Aya menyusul Diaz dia duduk dengan adanya jarak antara dirinya dan Diaz. "Ponsel" ucap Aya pada Diaz sambil mengulurkan tangannya meminta ponsel Diaz. Diazpun memberikan ponselnya pada Aya. Daripada nanti istrinya ini makin marah maka Diaz memberikannya. Sebenarnya tidak bermaksud untuk lancang tetapi, Aya meminta ponsel Diaz untuk mengambil nomor Lettu David. Aya ingin tau tentang Diaz di masa lalu. Aya hanya ingin memastikan siapa saja wanita yang pernah dekat dengan Diaz, apakah benar dia yang pertama ataukah bukan. Kemudian setelah mengambil nomor Lettu David, Aya membuka i********: milik Diaz. Sebenarnya Aya tidak tertarik dengan akun Diaz hanya saja itu akan dijadikan alasan jika Diaz bertanya apa yang dilakukannya "Buat apa?" tanya Diaz "Liat i********:"ucap Aya dan langsung mengembalikan ponsel Diaz dan Diaz hanya mengangguk. Aya kini fokus pada ponsel nya, dia ingin mencari tau wanita bernama Margaretha Clarissa yang tadi sempat bertemu dengannya. Walaupun Aya seorang dokter tetapi ilmunya di bidang IT cukup mumpuni. Dia bisa mendapat informasi apapun dengan mudahnya, tetapi ia tidak pernah menggunakannya untuk hal hal yang merugikan orang lain. Ia hanya akan menggunakannya jika merasa ada sangat perlu. Sore hari, Aya dan Diaz sowan ke kediaman atasan Diaz. Mereka diberi wejangan wejangan tentang kehidupan rumah tangga prajurit. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Aya sedikit melupakan kekesalannya pada Diaz, Aya selalu tersenyum seolah tidak terjadi apa apa. Istri atasan Diaz sangatlah ramah dan baik hati. Entah karena Aya adalah putri seorang mayor jendral atau memang karena memang orangnya ramah. Tetapi, Aya merasa istri atasan Diaz memang orang yang tulus dan tidak dibuat buat. Setelah selesai sowan ke kediaman atasan Diaz. Mereka pulang ,setelah sampai Aya mulai memasak makan malam. "Mau makan apa?" tanya Aya pada Diaz yang sedang mengambil minum Terserah" Aya berkutat dengan peralatan dapur untuk mencetak makanan lezat. Aya bisa dibilang wanita yang mendekati sempurna selain pandai memasak Aya memiliki otak cerdas dan wajah yang cantik . Aya memiliki prinsip, Siapapun yang bersikap baik padanya maka dia akan bersikap lebih baik lagi pada orang itu tetapi jika ada orang yang bersikap buruk dan sangat keterlaluan padanya maka dia bisa saja berbuat lebih buruk. Tapi setelah menikah Aya lebih bisa menjaga sikap. Aya paham jika apapun yang dilakukannya sekarang akan membawa nama baik suaminya. Jika dia melakukan hal buruk maka nama suaminya bisa saja ikut buruk. Apalagi Aya menikah dengan salah seorang TNI AD berpangkat Kapten, Kapten Infanteri Rizal Diaz Alfariz Pratama Nugroho yang di kagumi istri istri prajurit lainnya, bukan hanya parasnya yang tampan sikap dan prilakunya sangatlah luar biasa dan mendapat pangkat Kapten dalam usia yang tergolong muda Tidak selamanya orang baik akan dipandang baik pasti ada saja yang meragukannya. Karena tidak selamanya orang baik dihargai, bukan berati jadi orang jahat akan ditakuti tetapi menjadi orang yang kuat yang mampu untuk mampu menjaga harga diri. Sedari kecil Aya sudah ditekankan untuk selalu bersikap baik untuk menjaga dirinya juga nama baik keluarga. Alasan utamanya memang karena Aya berasal dari keluarga militer. Setelah makanan selesai dibuat, Aya pergi ke kamar untuk mandi membersihkan dirinya. Lelah, letih yang ia rasakan bukan hanya raga tapi juga hati dan perasaannya. Selesai Aya mandi sekitar pukul 6, Diaz mengajak Aya salat magrib berjamaah, dilanjutkan Diaz membaca Al Quran setelah selesai, Adzan Isya' berkumandang dilanjutkan keduanya Sholat Isya' berjamaah kemudian keduanya pergi untuk makan malam. Mereka makan dengan hening, hanya ada suara sendok yang beradu. Setelah selesai makan Aya membersihkan semua peralatan makan, dibantu Diaz walaupun awalnya Aya menolak. Kemudian mereka berdua masuk ke kamar. Diaz ingin kesalahpahaman yang tadi sore terjadi selesai. "Kamu marah ?" Tanya Diaz yang duduk di tepi ranjang dan Aya yang sedang bercermin "Ngga" jawab Aya yang masih dengan mengoleskan krim malam di wajah cantiknya "Tolong kalo saya ada salah kamu bilang jangan diem saya bukan orang yang peka tentang perasaan" ucap Diaz yang beranjak dari ranjang dan berdiri di dekat Aya. "Iya, aku cuma mau tanya yang tadi siapa?" tanya Aya sambil menggigit bibir bawahnya. "Tadi? Kata dia kan wakil OSIS waktu SMA"ucap Diaz sambil menyentuh dagunya seolah berpikir "Kata dia?? Maksudnya kamu ga inget gitu siapa dia?" Diaz hanya mengangguk sebagai jawaban "Terus kenapa kamu bisa panggil dia Mage?" tanya Aya yang keheranan. "Ya karena seingatku wakil OSIS dulu dipanggilnya Mage"ucap Diaz memberi penjelasan. "Kamu bohong ya, tadi kan dia juga bilang kemana mana bareng dan kamu sering nganterin dia pulang!" ucap Aya dengan tatapan curiga. "Saya dulu ketua OSIS sayang jadi ya mungkin bareng sama dia buat urusan OSIS. Dan untuk yang sering nganterin pulang saya rasaga pernah, pernah sih sekali saya mengantar wanita pulang itupun terpaksa bukan karena inisiatif sendiri dan saya juga lupa siapa yang pernah saya anter pulang."bela Diaz saat dituduh Aya. "Kamu kan pinter daya ingat kamu juga bagus Mas, mana mungkin kamu ga inget ini sih pasti cuman mau nipu aku ya!"ucap Aya sambil mengerucutkan bibirnya "Kamu tau ga, yang saya ingat tentang masalalu itu cuman yang penting penting aja dan yang jadi prioritas. Saya ga pernah teringat sesuatu yang tidak penting dan bukan menjadi priorita. Karena hidup saya hanya untuk sesuatu yang sudah saya prioritaskan termasuk kamu sekarang" ucap Diaz sambil mengusap surai rambut Aya "Hmm mas maaf ya, aku gampang ngambek gampang marah. Kayaknya aku mau datang bulan kalo moodku kayak gini. Biasanya aku ga gampang marah kok percaya deh" Aya mengangkat jari tengah dan telunjuk membentuk simbol peace. "Iya, sekalian latihan saya biar kebiasaan menghadapi mood swing kamu"ucap Diaz yang gemas karena mood istrinya Malam itu keduanya sudah dalam keadaan baik baik saja. Malam yang penuh canda. Kesalahpahaman yang terjadi telah terselesaikan. Mereka mencoba untuk menjalankan pernikahan mereka selayaknya pernikahan pada umumnya. Mereka sama sama menerima yang telah takdir tuliskan takdir akan jodoh yang telah dikirimkan Tuhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN