Pengajuan

1530 Kata
Ke esokan harinya Diaz pergi ke kediaman Aya untuk menjemputnya. Saat Diaz datang Aya sedang mandi. Diaz menunggu di ruang tamu sambil memainkan ponselnya ia nampak fokus. Diaz duduk sendiri karena Mamah Ajeng sudah berangkat ke butik, Papah Hilman ada urusan sejak pagi, dan Bang Iko Bang Eri kembali ke barak. Kini Aya sudah turun dengan menggunakan baju persit tanpa lencana dengan hijab warna senada polesan make up natural dan menambah kecantikan Aya. Agenda untuk hari ini sebelum pengajuan adalah beberapa pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan kesehatan dilakukan sehari sebelum pengajuan tetapi karena tiba-tiba pernikahan dimajukan jadi mereka melakukan pemeriksaan sekaligus pengajuan dalam satu hari. Aya turun dari tangga dan melihat Diaz yang sangat fokus pada ponselnya. Hingga Aya sudah berdiri di dekatnya saja Diaz tampak tidam sadar. Pikiran buruk hinggap di kepala Aya, apakah Diaz melihat foto wanita lain yang sexy kemudian dirinya mengetuk kepalanya sendiri. Itu tidak mungkin Diaz bisa menjaga pandangan apa yang baik untuk di lihat dan yang tidak. Kata Bunda juga Diaz tidak suka dengan wanita berpakaian yang terbuka di depan umum yang menunjukkan setiap lekuk tubuh. "Mas,fokus banget sama hpnya liat apa si" ucap Aya Ia ingin menintip karena penasaran tapi tidak sempat. "Bukan apa-apa,ayo berangkat"jawab Diaz Diaz bangkit dari duduknya dan pergi ke luar rumah tanpa melihat ke arah Aya ataupun menoleh. "Kemarin waktu mau pulang sikapnya manis terus semalem judes banget sekarang cuek banget ni manusia kenapa sih bisa ganti ganti sikap" gerutu Aya Setelah perjalanan dengan keheningan tanpa suara tanpa obrolan akhirnya sampai di tempat untuk memeriksa kesehatan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi kesehatan jantung, urin, cek darah, rontgen d**a, dll. Setelah selesai pemeriksaan kesehatan terdengar suara adzan berkumandang. "Ayo sholat dulu"ucap Aya dan Diaz Keduanya menjadi salah tingkah. Mereka pergi ke masjid terdekat. Setelah selesai sholat perut Aya mulai berbunyi, sebab dari pagi dirinya sama sekali tidak sarapan "Udah waktunya makan siang nih"ucap Aya memberi kode "Terus kenapa" balas Diaz "sialan gue laper" batin Aya "Gapapa"ucap Aya Wajah Aya sangat muram, dia lapar moodnya rusak. Mereka masuk mobil, Diaz melihat wajah Aya sekilas dan tersenyum tipis. Tak berselang lama mobil yang dikendarai Diaz berhenti di depan Cafe, sontak Aya langsung menoleh pada Diaz. "Turun, katanya waktunya makan siang laper kan tadi ga sarapan"ucap Diaz sambil ngelepas safe belt. Aya turun dan jalan duluan meninggalkan Diaz yang di belakang. Cafe yang mereka kunjungi ini adalah milik teman Diaz. Diaz berniat mengenalkan Aya pada temannya karena Diaz dan teman saya ini cukup akrab. Aya sudah duduk duluan karena tadi dia meninggalkan Diaz saat dimobil dan dia sedang memilih makanan sekalian memesankan Diaz juga. Setelah waiters pergi, tiba tiba seorang wanita yang baru keluar dari sebuah ruangan berteriak Gans dan berlari ke arah meja yang di tempati Diaz Tentu saja Aya langsung menoleh ke sumber suara dan kaget karena ada wanita yang menghampiri calon suaminya. "Haii, Gans tumben kesini lagi free ya"ucapnya tanpa melihat Aya Mungkin dia tidak sadar jika ada Aya yang duduk di seberang Diaz. "Mau makan siang" Ucap Diaz tersenyum. "Ya ampun Ganss, makin ganteng aja nih tentara kalo senyum tipis tipis gini. HADUH Nikmat mana lagi yang kau dustakan hehe"ucapnya lagi sambil terkekeh "DASAR GENIT" Aya mengumpat pelam namun masih terdengar jelas di telinga Diaz. "Oh iya, kenalkan dia calon istri saya" Ucap Diaz pada wanita itu sambil menunjuk Aya dengan tatapan. Aya tersenyum namun sangat terlihat jika dia terpaksa tersenyum. "WHATT?! DEMI APA LU MAU NIKAH" spontan langsung menutup mulutnya. "Wah kamu cewek beruntung ya dari dulu si Gans ini banyak yang naksir bahkan ditembak untuk jadi pacar tapi ditolak semua bahkan ada yang setiap hari rela bikinin bekal buat nih manusia tapi yang makan gw hehe dari SMP sampe SMA duit buat makan aman gara-gara si Gans. Oh iya hati-hati lho fans dia banyak banget bejibunn ada FanClub juga apalagi setelah dia bener bener masuk militer" Ucapnya sumringah. "Btw nama gue Shinta Mustika panggil aja Shinta" ucapnya lagi sambil menjulurkan tangan. "Saya Dewi Claradia Maharani Wijaya dipanggil Aya"ucap Aya Aya membalas juluran tangan Shinta. Sebenarnya hatinya dongkol, siapa sih yang gak dongkol ketika ada perempuan yang sok dekat sok akrab banget sama calon suami sendiri. Meskipun belum ada cinta diantara mereka tetap saja Diaz dan Aya sudah terikat. Mood makin hancur gara - gara Shinta yang terus mengajak Diaz ngobrol. Aya sama sekali tidak di singgung, Aya seperti pajangan. Untunglah saat makanan datang Shinta pergi, kalau tidak mungkin saja Aya melemparkan makanan yang ada di depannya. Waktu makan Aya hanya diam, tidak mood untuk berbicara, untung aja masih memiliki napsu makan coba kalo napsu makannya hilang bisa bisa saat pengajuan Aya pingsan karena kelaparan. Setelah selesai makan mereka menuju tempat pengajuan. Aya sama sekali tidak menoleh ke Diaz bahkan Aya langsung ke mobil. Sebelum pergi tentu Diaz membayar makanan terlebih dahulu barulah menyusul Aya. "Kamu cuekin saya?" Diaz bertanya tanpa ekspresi "Gak" jawab Aya singkat Dari sudut mata Aya, terlihat bahwa Diaz mengangguk. Definisi tidak peka Setelah sampe di tempat pengajuan Aya merasa nervous. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, takut lupa tentang apa yang sudah di pelajarinya. Setelah di dalam ruangan Aya mengeluarkan keringat dingin dan mukanya agak pucat. Menyadari itu tiba - tiba Diaz menggenggam tangan Aya Diaz berbisik "tenang ya" seketika Aya merasa lebih tenang. Setelah beberapa pertanyaan diajukan dan diberikan berbagai wejangan akhirnya pengajuan selesai. Kemudian Aya pergi ganti baju ke toilet soalnya setelah ini Aya akan fitting baju pengantin. Diaz menunggu Aya yang sedang ganti baju, setelah sekitar 15 menitan Aya sudah kembali tepat dihadapannya. Drettt.....drett.....drettt Tiba-tiba ponsel Diaz berbunyi "Assalamualaikum" "Waalaikumsalam, Mohon izin berbicara. Kapten diminta menghadap Letkol Agus sekarang karena ada hal penting yang harus di bicarakan" "Baik, saya segera kesana" "Izin, siap kapten" "Terimakasih, Assalamualaikum" "Siap, Waalaikumsalam" Aya menatap Diaz penuh tanya dan dari tatapannya Diaz tau Aya penasaran dengan siapa yang menelpon tadi. "Siapa" tanya Aya setelah mereka berdua masuk mobil "Lettu David" jawab Diaz Aya diam sejenak, mungkin Aya bisa menduga bahwa Diaz tidak bisa ikut dia fitting baju pengantin bersamanya. "Ga bisa ikut kan ada urusan mendadak kan yaudah kamu selesaikan URUSAN baru ke butik mamah."ucap Aya ketus Diaz mengangguk tapi merasa bingung mengapa Aya jadi galak. Bukankah dirinya tidak melakukan kesalahan apapun Setelah sampai ke butik Mamah Ajeng, Diaz langsung pergi. Saat diperjalanan ada seorang wanita menghadang mobil Diaz. Diaz keluar dan sebenarnya ingin marah karena wanita ini tiba-tiba menghadang dan merentangkan tangannya ke depan mobil Diaz saat masih melaju tadi. Untung saja Diaz bisa mengerem tepat waktu jika tidak mungkin dirinya akan kena masalah. "Kak tolong bisa anterin saya ke rumah sakit gak saya hari ini ada operasi pasien tolong kak"ucap wanita itu Dia memohon dengan menyatukan kedua tangan. Sepertinya mobil wanita ini mogok "Rumah sakit mana" tanya Diaz "RS Harapan Kasih" Setelah mendengar nama rumah sakitnya Diaz mengangguk Rumah Sakit Harapan Kasih adalah rumah sakit tempat Aya bekerja mungkin dia temannya selain itu karena memang searah dan urgent maka Diaz memberi tumpangan. Setelah masuk mobil, Diaz diam. Ya memang apa lagi yang di harapkan, mengajak ngobrol? Mustahil. Diaz merasa tidak nyaman kerna wanita disebelahnya menatap Diaz dengan pandangan berbinar. Bukan maksud terlalu percaya diri tapi semua wanita yang pernah mendekati Diaz memiliki tatapan yang sama. "Oh iya kak nama aku Mytha aku dokter di Rumah Sakit Harapan Kasih"ucapnya Diaz tidak menjawab. "Kakak namanya Rizal ya pasti ketebak aku tuh selain dokter paranormal lho kak, umur kakak berapa hahaha" tanya Mytha. Diaz sudah sangat tidak nyaman untungnya mereka segera sampai di depan rumah sakit . "Bukan maksud mengusir tapi saya sedang ada urusan penting"ucap Diaz Dirinya sama sekali tidak menoleh, Selain menjaga pandangan, Mytha tidak memakai hijab, Diaz tidak mau menambah dosa dari wanita di sebelahnya. "Oh iya makasih ya kak tumpangan nya, boleh minta nomor kakak ngga? Buat balas budi aku traktir kakak deh karena udah mau ngasih tumpangan aku"ucap Mytha "Silakan turun, Anda harus operasi pasien"ucap Diaz "Yaampun iya kak aku lupa ,kakak sih ganteng jadinya aku terpesona banget ini yaudah kak byee sampe ketemu lagi."ucap Mytha Dengan senyum sumringah. Setelah Mytha turun Diaz kemudian melajukan mobilnya ke batalyon. Diaz bertemu dengan atasannya, disana juga ada Lettu David. Mereka berbincang cukup lama. Setelah selesai Diaz langsung ke butik milik Mamah Ajeng. Diaz fitting dengan cepat. Aya masih disana tapi dirinya akan pulang bersama mamahnya jadi Diaz bisa langsung pulang tanpa mengantar Aya. Saat di tengah perjalanan adzan Magrib berkumandang membuatnya berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat. Diaz sampai di rumah langsung masuk ruang kerjanya. Karena Diaz sebenarnya memiliki sebuah perusahaan yang berada di negara yang berbeda sehingga dirinya harus tetap mengurusnya. Diaz tidak menyadari jika waktu sudah semakin malam, Selesai dengan pekerjaannya, Diaz meraih ponsel dan melihat Aya masih aktif di WhatsApp Me : Tidak baik tidur malam malam D.C.M.Wijaya : Tau Me : Kalau begitu tidur kenapa masih aktif? D.C.M.Wijaya : Suka suka aku peduli banget Me : Kamu calon istri saya D.C.M.Wijaya : Oh dianggep, saya kira karena perjodohan jadi saya gak dianggap Me : Maksudnya ? D.C.M.Wijaya : Gak tau,saya mau tidur besok mau ngurus undangan Me : Saya dari tadi suruh kamu tidur (read) Diaz heran kenapa dengan Aya, sedangkan di lain sisi Aya sangat kesal dengan Diaz. Diaz sebenarnya tidak bersalah tapi entahlah apa yang terjadi dengan Aya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN