Part 3

2363 Kata
Sudah hampir jam delapan. Aku sudah telat banget ini. Belum lagi make-up, menata rambut, memilih sepatu dan tas. Jangan lupakan, sarapan juga nenunggu bus. Sialan, bisa-bisanya tadi malam aku kebablasan ngedrakor sampai subuh. Untung aku mendengar suara notifikasi adzan dari benda pipih yang masih tergeletak diatas nakas, kalau tidak, mungkin aku masih tertidur sampai sekarang. Dengan grasak-grusuk, aku memakai asal pakaianku. Tanpa perduli mau pakai yang bagaimana atau warna apa. Seadanya saja. Tidak ada waktu lagi, aku juga mengambil asal sepatu dan tasku. Kemudian mencepol cepat rambutku dengan jedai kebanggaanku. Bodoh amat, soal make-up, toh tanpa memakai make-up, aku juga masih terlihat cakep. Maklum, tak ada yang muji, jadi muji diri sendiri. "Al... sudah jam berapa ini. Turun, Nak, Papa sudah nungguin..." Mama berteriak dari bawah sebab lantai kamarku berada dilantai atas. "IYA MA!!! SEBENTAR, SUSAH BANGET NGANCING NYA!!! KAYAKNYA PAK BAGAS BENER DEH MA... GAK CUMA PIPIKU YANG MELEBAR, BADANKU JUGA..." teriakku tak kalah keras. Blouse ini dari Lara, kemarin makainya masih longgar banget, rok nya juga. Terus sekarang kenapa sesek banget ya? Nyesel aku nerima tawaran traktiran Dyra kemarin. "MAMAAAA.... TOLONGIN DONG SUSAH BANGET NI, ROKNYA GAK BISA DIKANCING..." aku keluar dari kamar, dengan setengah berlari aku menuruni tangga, "BENERAN MA... SUSAH BANGET..." "Pelan-pelan, Nak..." Dianak tangga terakhir, aku melihat Mama yang sudah siap sedia menolongku. Maka dengan cepat aku membalikkan badan menghadap tembok, membelakangi Mama, "Ini kemeja yang kemarin dibeliin Lara waktu pulang dari Lombok, masih muat kok. Roknya juga, tapi sekarang malah gak bisa, Ma. Kesel banget. Padahal bagus banget..." keluhku. "Siapa suruh kamu makannya banyak? Mama uda bilang, dijaga, jangan asal masuk gitu aja. Kalau sudah begini, kamu sendiri yang menyesal." Aku menggurutu, "Keknya hormon PMS deh, Ma, makanya nafsu makanku beberapa hari ini naik banget. Semalam juga Pak Bagas bilang Pipi ku tambah lebar, emang bener ya, Ma?" "Gak tau. Coba sini ngadep, Mama." "Roknya uda?" Mama masih berusaha merapatkan sisi-sisinya supaya resletingnya bekerja dengan benar. "Kamu ganti yang lain aja. Susah banget ini, takutnya ntar kerjanya kamu gak nyaman." Mama merapikan rambutku, melepas jedainya kemudian menyisirnya dan menyatukannya kembali, "Jangan dibiasain begini. Kalau dulu, mungkin Mama gak bakal permasalahin kamu begini, begadang cuma karena nonton film, bangunnya siang terus. Tapi kan sekarang uda beda, Alana kerjaannya uda ada. Lagi pula kamu uda besar, uda mau nikah, malulah, masa anak gadis bangunnya siang terus, ntar laki-laki pada ilfil." "Dih, kalau masalah ilfil apa gak, itu urusan mereka, Ma. Lagian siapa yang mau nikah sih? Pacar aja gak punya." Cibirku. Mama menarik paksa badanku hingga kini kami berhadapan. "Sini, coba Mama lihat." Dengan perasaan kesal aku membalikkan badan. "Emang iya ya, Ma? Tapi kan semalam aku makannya gak banyak, cenderung sedikit malah, tapi kok-" ucapanku terhenti saat mataku yang tadinya tertutup menjadi terbuka. Dan lebih terbuka lagi saat melihat sosoknya tengah berdiri tak jauh dari Mama. Tatapan kami saling bertemu, senyumnya perlahan mengembang seiring dengan perubahan wajahku yang semakin mengusut. Malu banget ya Tuhan.... Berarti dari tadi si duda ganteng itu denger aku ngomong apa aja? Aaaaa mau menghilang aja. "Gak kok. Biasa aja. Mungkin Pak Bagasnya lagi khilaf aja." Haduh, Ma... kenapa gak bilang sih ada dia disini?????? Aku memutus tatapannya secara sepihak, menunduk malu sambil sibuk merutuki diri sendiri. "Loh, kenapa?" Mama menangkup pipiku, berusah mengangkat wajahku kembali. "Malu banget..." gumamku. "Alah biasanya juga malu-maluin," aku menjatuhkan kepala dipundak Mama, "Bagas mau sarapan dulu atau langsung berangkat?" "Langsung aja, Tante." Uda akrab aja manggil Tante, biasanya juga Ibu. Aku baru tau, ternyata perusahaan yang sedang diambil ahli oleh Pak Bagas itu adalah perusaan dari keluarga mantan istrinya. Mungkin warisan, atau apalah. Aku pun tak terlalu mengerti. Namun sayangnya, semua staf bawaan dari kantor tersebut sudah dipecat secara paksa karena sempat membuat kehebohan yang berdampak dengan mantan istrinya Pak Bagas. Jadi sekarang, staf-staf di perusahaan tersebut merupakah staf pindahan dari perusahaan orangtuanya Pak Bagas, termaksud Jovita dan Lara. "Sana naik, ganti dulu roknya," Mama mendorongku, aku langsung memeluknya dengan erat. "Nanti aku naik bus aja, masih ada urusan lain," ucapku kepada Mama, perlahan-lahan kepalaku terangkat menantang tatapannya, "Kan semalam saya uda izin, ngantornya agak siangan. Kenapa malah dijemput sih?" "Perasaan. Bagas kemari itu bukan mau jemput kamu," bantah Papa tiba-tiba muncul, tak tau dari mana. "Terus ngapain?" "Emang yang ada urusan lain cuma kamu aja? Bagas juga ada dong, jangan egois." Kenapa sih punya orangtua itu demen banget mempermaluin anaknya didepan orang lain. "Yaudah ih, biasa aja." "Tuh kan ngambek," tunjuk Papa kearah ku, "Ini Gas yang kamu bilang mau kamu deketin? Kerjaannya kalau gak makan, tidur ya ngambek. Cepat tua kamu kalau sama dia. Mending cari yang lain aja." Deketin apaan deh? Gak nyambung ni Bapak-Bapak. "Gapapa Om, lucu malahan. Saya suka." Aku mendengus tak mengerti sama obrolan random mereka. "Om sih terserah kamu aja. Asal mental kamu siap lahir batin buat ngadepin dia yang kayak gini bentukannya. Om kebelakang dulu ya, bawa aja. Om lagi gak mood punya anak kayak Alana." Sebelum meninggalkan kami, si Papa masih sempat-sempatnya nyium Pipiku, padahal perkataannya bikin hatiku teriris. Walaupun sedikit. "Uda sana, kasihan Pak Bagasnya nungguin kamu dari tadi. Tapi ganti dulu roknya," ujar Mama dan aku mengiyakan. Akhirnya aku berangkat dengan Pak Bagas. Perasaan ragu menyelimutiku. Aku tak tau maksud dan tujuannya apa. Ini terlalu tiba-tiba. "Nonton film apa emang?" tanyanya, sambil tangannya sibuk mamakaikan seatbelt untukku. "Banyak," balasku tak minat. "Salah satunya?" "Ya banyak." Selesai memesangkan seatbelt ku, Pak Bagas gantian memasangkan miliknya, "Ya saya tau banyak, tapi kan saya pengen tau salah satunya." Aku berpikir sejak, memilih film apa yang akan kubagi dengannya, "Banyak deh pokoknya. Percuma saya kasih tau, Bapak gak bakal tau." balasku final. Mendengarnya membuat Pak Bagas kembali memberi atensinya padaku, "Kamu lagi ngambek?" "Gak." "Senyum dong... masa saya dari tadi dijutekin terus. Masih pagi loh ini." Aku memutar mataku malas, "Uda mau jam sepuluh, paginya uda lewat." Pak Bagas mendengus geli, bibirnya bergerak melengkung keatas memperlihatkan senyuman manisnya, "Maaf kalau saya sudag merusak moodmu pagi-pagi begini, maaf juga kalau saya uda bikin kamu merengut." Ucapnya tulus diakhiri dengan usapan lembutnya yang diberikannya dipuncak kepalaku. "Termakasih juga sudah mau berkenan berangkat dengan saya." "Mood saya fine-fine aja, saya juga gak merengut. Sebenernya bukan berkenan, tapi lebih tepatnya terpaksa. Jangan hiperbola deh, Pak." Tawa beratnya keluar menyapa telinga ku, enak sekali mendengarnya, "Atau mau saya anter ke halte terdekat?" "Ya gak gitu juga dong. Bilangin Papa tau rasa." Demi apapun, ketawanya itu loh, berat banget. Ternyata tidak umurnya saja yang matang, ketawanya juga. Suka... mau lagi. Boleh? "Saya cuma ngasih saran. Dari pada sama saya tapi kamunya merengut, mending naik bus aja." Kenapa sih gak mengerti? Ya ditahan dong, jangan pasrah gitu aja. Kan aku juga mau kayak difilm-film gitu. "Kenapa makin merengut? Saya ada salah lagi?" "Nih senyum," aku memaksakan senyumku membuatnya tergelak, "Puas?!" Tangannya terulur mengacak rambutku lalu mencubit pipiku dan berkata, "Kamu kenapa sih, Al, imut banget. Mau marah, mau senyum, mau nangis sekalipun tetep aja menggemaskan di mata saya." "Emang saya pernah nangis dihadapan Bapak?" "Enggak sih, semoga aja jangan. Kecuali tangisannya, tangisan kebahagiaan, baru boleh." Bibirku berkedut menahan senyum, "Emang siapa yang mau saya bahagia sampai menangis?" "Saya." "Kenapa?" Keningnya berkerut, "Kenapa mau membuat saya bahagia sampai sampai nangis?" "Gak ada alasan. Saya pengen aja." Aku memutar bola mata dengan malas. Dikira mudah gitu membuat aku klepek-klepek samanya? oh tentu saja tidak, jangan coba-coba. "Mending Bapak mikirin gimana caranya Bapak besok bisa bangun." "Ngapain saya pikirin? kan ada kamu." "Dih, kok aku? emang aku siapanya Bapak? istri? pacar? anak? enak aja, enggak ya. Pokoknya besok aku mau matiin hp seharian supaya gak digangguin sama Bapak." Bukannya marah karena kusarkasin, Pak Bagas malah senyum-senyum tak jelas. "Kenapa ihhh? awas kesurupan loh ya. Ini lagi dijalan, aku gak mau mati konyol apalagi matinya barengan Bapak." "Ya sudah, kalau matinya gak mau bareng saya, setidaknya kamu hidup sama saya. Mau?" AAAAAAA apa jadinya kalau hidup bareng sama laki-laki cuek, datar, dingin kayak gini? Mau hidupku kaku gitu? tidak asik. Bisa-bisa aku mati berdiri. "Maaf, Pak, itu mimpi yang terlalu jauh untuk Bapak gapai. So please, jangan buang-buang waktu." "Buang waktu? emang maksudnya gimana? nyatanya saya emang harus hidup sama kamu, karena kamu asisten pribadi saya. Kalau enggak? pusing lah saya. Gak ada yang bantu saya nyiapin materi meeting, gak ada yang ngingetin saya makan siang, gak ada juga yang sok asik ngidein lebih milih weekend itu lebih baik istirahat dari pada kerja." Aku melongo mendegarnya, kukira maksudnya itu menjurus kearah hidup bersama seperti sepasang suami istri. "Kenapa? Kamu kiranya saya ngajak kamu hidup bersama seperti sepasang suami istri gitu? Yang bener aja, Al. Saya bisa pusing tujuh keliling kalau itu beneran terjadi. Dengar kamu ngomelin temen-temenmu aja saya uda gak tahan, apa lagi ngomelin saya." "Lah, kenapa jadi Bapak yang gak tahan?" "Gak tahan supaya gak cium bibir kamu." Satu detik, dua detik, tiga detik.... "AAAAAaaaaa m***m bangettt..." aku memukuli lengan kokohnya dengan gemas, "Ihhhh gak mau deket-deket lagi, takut...." Pak Bagas tertawa. Mobil Pak Bagas terhenti saat lampu terlihat menyala berwarna merah. Membuat kedua tangannya menjadi bebas kemudian menahan tanganku, "Tuh, jerit lagi, Al, yang kenceng, supaya kamu beneran merasakan sensasi ciuman dari saya." Pak Bagas mengedipkan sebelah matanya. Gak banget. Mau muntah hoekkkkk!!!!! Walaupun bibirnya itu merah dan termaksud dalam kriteria bentuk bibir kesukaanku, aku tak boleh tergoda. Aku tak boleh terjatuh dalam pesonanya, aku tak boleh terjerat dalam omongan manisnya. Pak Bagas itu duda, laki-laki yang belum selesai dengan masa lalu. Berabe jika terbuai akan dirinya, bisa-bisa aku menjadi tempat pelampiasannya, Lagian aku ini seorang gadis, anak konglomerat. Mama dan Papaku mengusahakan yang terbaik untukku. Apa jadinya jika mereka tau anak gadis satu-satunya ini memilih jatuh hati pada seorang duda? apa kata orang? apa kata dunia? Karena tak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang menganggap berhubungan dengan seorang duda adalah hal yang negatif. Kita juga harus tahan banting ketika menghadapi cibiran orang lain atau bahkan keluarga besarnya. Dan parahnya lagi, akan ada suatu moment ketika perbandingan antara kita dan mantan istrinya terdengar disela-sela pembicaraan. Dyra, Jovita dan Lara sering mengatakan bahwa duda memang mempunyai daya tarik tersendiri. Kerap kali setiap perempuan mengatakan bahwa duda lebih mapan dan matang sehingga lebih menjanjikan untuk dijadikan pasangan dari pada pria lajang. "Lo mainnya kurang jauh, Al. Lo tau gak kalau mereka itu lebih bisa berpikir dengan dewasa. Para duda juga biasanya lebih mengutamakan kesuksesan kariernya sebelum menikah, lagi. Jadi jangan heran, buk, kalau duda dianggap punya paket lengkap, lebih matang, mapan dan mempunyai jam terbang yang lebih tinggi." ucap Dyra. "Mereka juga lebih berani berkomitmen. Pernah menikah bukan berarti mereka menjadi takut." sambung Jovita. "Jadi, kalau hidup lo pengen adem ayem, gak perlu belajar enak, tapi malah dienakin, segeralah menikah dengan duda, sebab kehidupan ranjang lo yang panas dan penuh gairah akan tercapai dengan mudahnya." Lara malah ikutan nimbrung. Tau ah, pusing mikirinnya. Lamunanku seketika buyar saat suara dentingan ponsel miliknya terdengar. Terlihat dari layar yang tersambung di mobil, ada nama Pak Afif -Bapak Manajer sekaligus teman baiknya Pak Bagas- terlihat disana. Pak Bagas mengalihkan pandangannya kepadaku, aku mengangguk. Ku kira ia akan berbicada dari hati kehati dengan Pak Afif, tanpa terdengar olehku. Sayangnya, Pak Bagas malah mengaktifkan mode speaker, membuat sapaan Pak Afif terdengar memekakkan telinga. "BRO!!!! WHERE ARE YOU? GAK BIASA LO TELAT BEGINI." Kepalaku menggeleng, kemudian Pak Bagas menepikan mobilnya dipinggir jalan. "Whats going on? Gue lagi di jalan." Pak Bagas memperbaiki posisinya, menjadi menyamping, tepat kearahku. "Seriusan? Yang bener aja. Satu jam lagi, lo ada meeting. Gue gak mau riweh sendiri." Pak Afif sudah dikantor, terdengar dari berisiknya suara beberapa orang yang ikut menimpali percakapannya. "Alana gak kasih tau lo?" Aku menaikkan sebelah alis, memandang Pak Bagas yang ternyata sudah memperhatikanku sejak tadi. "Ini gue lagi sama Alana." Seketika mataku melebar ketika panggilannya hampir membuat telingaku copot. "ALANA!" Pak Bagas tersenyum geli. Jemari telunjuknya naik menyentuh bibirnya. Mengisyaratkan untuk diam. "ALANA!" Ulangnya. Aku mengulum bibir menahan tawa. "Ah tai. Lo kerjain gue, Gas." "Gue serius." "Video call deh video call, gue gak percaya," ujarnya. Yang langsung dipatahkan oleh Pak Bagas. "No. Ntar lo naksir lagi sama cewek gue." Dahiku berkerut, bisa-bisanya mengklaim hak milik dengan sepihak. "Ala sia boy!!!! Gue mau tanya sesuatu, Gas. Tenang aja, tipe gue bukan kalem kayak Alana." Lantas Pak Bagas mengangguk. Dan aku langsung menyapanya, "Halo Pak Afif, selama-" "Aih, mati. Denger suaranya aja uda bikin merinding, gimana yang lainnya." Kedua tangan Pak Bagas langsung terulur naik menutup telingaku. "Jaga lisan lo, Pip! Lo mau leher lo patah?" Aku berdecak sebal, berusaha menjauhkan tangannya dari telingaku. "Lo mau ngomong apa, Pip? Kalau yang gak bermutu, mending gak usah. Cewek gue sibuk." "Cewek-cewek pala bapak kau! Gue cuma mau nanya tentang Dyra." Mendengar nama Dyra tersebut, Pak Bagas langsung menurunkan tangannya. "Al, Dyra uda punya pacar apa belum sih? Soalnya semalam saya lihat, dia lagi jalan sama cowok. Deket banget. Saya jadi bingung. Ini saya yang t***l atau Dyranya yang main cantik?" Sejenak, aku hanya terdiam. Mencoba mengingat tentang Dyra. "Dyra masih sendiri kok, Pak. Seingat saya, semalam bilangnya digrup lagi pergi sama adik sepupunya. Cuma saya gak tau, adik sepupunya ini, cewek atau cowok." Aku ikut duduk menyamping, hingga kini, aku dan Pak Bagas saling berhadapan. "Boleh tolong tanyain? Chat dari saya, gak pernah dibalas sama dia. Kalau memang dia uda ada yang punya, supaya saya tau diri. Saya gak perlu repot-tepot lagi buat ngejar dia." Dyra tau, Pak Afif sedang mengejarnya. Dyra tau, Pak Afif sedang menaruh perhatian lebih untuknya. Tetapi Dyra tidak tau, rasa benci yang semakin ia tanam terhadap Pak Afif didalam hatinya, akan membuatnya perlahan-lahan semakin mendekatkan dirinya sendiri kepada Pak Afif. Pak Bagas mengambil sebelah tanganku yang ada diatas paha. Lalu memijat pelan telapaknya. Ntah untuk apa, tetapi perlahan-lahan mampu membuat badanku menjadi lebih rileks. "Nanti saya tanyain Pak," aku melirik kearah Pak Bagas, yang kudapati ia tengah tersenyum, "Kalau itu memang benar pacarnya, saya langsung hubungi Bapak." "Kalau gitu, simpen nomor saya, Al, 08-" "Lewat saya aja, nanti saya yang bakal kasih tau Apip." potong Pak Bagas. "Ngegas banget, bro. Santai dong." "Bodoh amat, Pip. Lo ganggu gue." Pak Bagas mematikan hubungannya secara sepihak. Menatapku dalam dan lama. Kemudian berucap, "Asisten saya tidak boleh dekat dengan laki-laki lain, selain saya." "Ini permintaan?" Tanyaku. "Ini perintah, Alana."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN