Sudah tiga hari berlalu, maka sudah tiga hari pula kami saling berdiam diri. Atau lebih tepatnya, Pak Bagas yang diam dan aku yang tau diri. Ketika ku tanya makan, maka ia akan menjawabnya dengan sudah. Ketika ku tanya dimana, maka ia akan menjawabnya dengan rumah. Hanya itu saja. Tidak ada yang spesial, hari-hariku berlalu seperti dulu, saat dimana kosong penuh hampa kudapati disetiap hariku. Atau lebih tepatnya sewaktu aku jomblo. "Akan segera saya revisi-" "Segera?" "Akan saya revisi. Setelah selesai, akan langsung saya serahkan pada Alana." Pak Bagas menatap nyalang sang lawan bicara, "Ini saya harus ngomong berapa kali supaya kamu mengerti? Buang-buang waktu. Orang lain sudah menyelesaikan sepuluh dan kamu masih satu. Seharusnya kamu malu. Bukannya sibuk tersenyum-senyum disana

