“Nih aku bawain martabak kesukaan kamu. Sesuai pesanan, keju dan cokelat dipisah. Di atas otak martabak ada nama kamu.” Pria berkemeja biru muda menyodorkan sekotak martabak. Duduk berhadapan dengan Dhita di kursi dekat kolam renang. Kelopak mata Dhita mengerjap-ngerjap, menghirup dalam-dalam aroma martabak yang menguar di indera penciumannya. Martabak super spesial di depan apartemen Agam memang tidak ada duanya. Dulu, sewaktu dia kuliah martabak ini menjadi favoritnya. Lihat saja, ketika di buka asap dari makanan itu terbang ke wajahnya. Begitu tebal dan harum, cokelat dan keju yang diberikan tidak pelit-pelit. Beberapa kali Dhita membeli martabak yang tak sesuai ekspektasi. Jari jempol untuk martabak di dekat apartemen Agam. Tanpa basa-basi Dhita langsung melahap martabaknya. Tidak

