Sudah 4 jam yang lalu sejak mereka keluar dari rumah sakit. Emma terlelap dalam dekapan Angga. Kondisinya sudah jauh lebih tenang dari beberapa jam yang lalu saat dia mengalami guncangan pasca kehilangan bayinya. Kedua orang tuanya sudah pulang sejak beberapa waktu yang lalu.
Angga melepaskan jilbab yang dipakai Emma, dia mengusap rambut dan mengecup puncak kepala Emma. Dia usap perlahan pipi Emma dengan sebelah tangannya, masih lembab karena bekas airmata. Kemudian dia peluk lagi istrinya yang tengah tertidur dengan tenang. Nafasnya teratur terhembus ke d**a Angga.
Pikirannya melayang, teringat akan penjelasan dokter, yang mengatakan hasil pemeriksaan terhadap sample darah Emma. Bahwa di temukan zat asam Misoprostol, yang berasal dari Misoprostol Cytotec, atau obat penggugur kandungan, dosis tinggi yang biasa di gunakan dalam proses aborsi.
Angga tau istrinya sangat menginginkan kehamilan itu, dia bahkan sudah menunggunya sejak lama, tidak mungkin Emma berniat membunuh bayinya sendiri. Pasti ada seseorang yang sengaja memberika obat itu pada Emma tanpa disadari.
Angga merogoh saku untuk mengambil ponselnya, dia chat Aji.
"Tolong cari tau rumah Adrian, pliss dia harus tanggung jawab karena udah bunuh calon bayi aku." Tulis Angga.
Dia benar-benar yakin kalau pelaku nya Adrian, satu-satunya orang yang menginginkan Emma lebih dari siapapun tak peduli Emma sudah menikah adalah dia.
"Wait-wait... Emma keguguran?" tanya Aji.
"Iya dan aku yakin itu pasti Adrian, soalnya dia obsesi banget pingin dapetin Emma dari dulu. Dia halali segala cara termasuk ngebunuh bayi kami, aku belum tau pasti kaya apa detilnya, tapi aku mohon, tolong cariin informasi kediaman Adrian." balas Angga.
"Tapi kamu jangan gegabah Ngga, ingat lawan kamu orang berpengaruh, cari bukti aja dulu yang kuat." kata Aji.
"Iya Ji, aku paham kok." balas Angga.
Beberapa saat menunggu, angga mendapat balasan dari Aji.
"Jl. Kerinci, Limboto Residence no 1A." tulis Aji.
"Tunggu aku jangan berangkat sendiri, kita kesana bareng-bareng." tambah Aji.
"Ok... buruan kesini." jawab Angga.
Angga mengambil bantal dan menggantikan lengan yang semula menopang kepala Emma, dia pindahkan kepala Emma perlahan, tak lupa mencium nya dengan lembut. Setelah itu dia mengambil jaketnya dan membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati.
Tidak lama setelah dia berada di bawah, Aji datang. Mereka berdua langsung betolak kealamat Adrian
"Kamu punya bukti apa kalau yang nyelakain Emma itu si Adrian?" ,tanya Aji.
"Aku belum punya bukti, tapi aku tau gimana nyerang dia, tugas kamu hanya rekam pembicaraan kami saja." kata Angga.
"Btw... hati-hati kamu Ngga, jangan sampai kamu malah dapat masalah dan mengancam pekerjaan kamu, ingat kamu udah jadi suami ada cewek yang wajib kamu nafkahin jangan Sampek kehilangan perkerjaan kamu." Pesan Aji.
"Iya Ji... Aku akan hati-hati banget," kata Angga.
Kira-kira 15 menit kemudian mereka sampai di rumah Adrian. Tidak butuh waktu lama sampai pintu terbuka, karena begitu Aji memencet bel, suara langkah kaki dari dalam langsung mendekat dan membuka pintu. Mata Adrian terperangah melihat Angga yang datang. Namun dia berusaha bersikap sewajar mungkin.
"Mari masuk... Tumben kalian kemari ada apa?" tanya Adrian.
Angga dan Aji langsung menerobos masuk lalu duduk di kursi empuk berwarna latte itu.
"Hmmmm... Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ke anda." ucap Angga sambil merenggangkan lengannya yang kram karena berjam-jam jadi bantal Emma.
"Ehmm apa itu?" tanya Adrian.
Sementara Aji mulai mengambil ponselnya dan mereka diam-diam pembicaraan mereka.
"Bapak mencintai istri saya, Emma Salsabila kan?" tanya Angga.
"Hahahaha ada-ada saja kamu nih, mana mungkin aku mencintai istri orang apalagi itu bawahan aku sendiri
" kata Adrian dengan pongahnya.
"Ooh iya benar sekali, berarti saya yang salah sangka sama anda." kata Angga.
"Hahhaa iya benar kamu salah paham." ,kata Adrian.
"Btw pak... Ini keadaan istri saya saat ini, sedang berjuang melawan maut." Angga menyodorkan ponselnya yang menampakkan foto Emma yang terkulai lemah dalam perawatan medis dengan kantung darah dan berbagai peralatan lainnya. Beberapa jam yang lalu.
Adrian mengambil ponsel itu, dan wajahnya seketika berubah, ada airmata penyesalan disana.
"Saya tau... Tujuan anda membunuh bayi saya adalah agar saya meninggalkan istri saya kan?" kata Angga.
"Dan anda berhasil, saya telah meninggalkan istri saya yang sangattt saya cintai, dalam keadaan kesakitan, dia mengerang sendirian dia menahan sakitnya seorang diri, anda berhasil membuat saya meninggalkannya, obat yang bapak berikan berhasil membuat janin Emma gugur, tapi jaringan janin itu tidak bisa keluar dengan sendirinya, hingga dia terus mengalami pendarahan dan semalaman saya meninggalkan dia... Anda berhasil membuat wanita yang anda cintai berpacu dengan maut. Bukan hanya bayi saya yang menghilang, nyawa istri saya hampir tak tertolong karena anda." Teriak Angga dengan murkanya.
"Nggak... Nggak mungkin, sekarang dimana Emma, aku harus memastikan dia baik-baik saja, aku memang sengaja membunuh bayi itu, tapi aku sama sekali tak ingin menyakiti Emma." kata Adrian.
"Anda. Bahkan tak layak menyebut nama istri saya lagi." Kata Angga. Dia memukul Adrian membabi buta. Dan aji buru-buru menghentikan rekamannya.
"Aku beneran tak ingin menyakitinya." elak Adrian.
"Anda tau, Emma begitu menyayangi calon bayinya, dia menunggunya berbulan-bulan untuk bisa merasakan kehidupan dalam rahimnya. Tapi ada menghancurkan semuanya." Angga terus menghajar Adrian tak peduli telah berdarah-darah dia memukulinya tanpa henti.
"Ngga udah ngga... Kendalikan diri kamu, kita bawa aja ke kantor polisi." kata Aji.
Bersamaan dengan itu, ponsel Angga berdering, ada panggilan masuk dari Emma.
"Kuserahkan padamu Ji, bawa aja ke kantor polisi, terserah kamu." kata Angga, dia lantas keluar untuk menerima panggilan Emma.
"Iya sayang ada apa?" tanya Angga.
"Mas...kamu dimana? Aku takut kamu pergi lagi, aku bangun tidur kamu udah nggak ada." kata Emma.
"Enggak sayang, aku nggak akan ninggalin kamu lagi, ini aku lagi keluar, tadi Aji minta tolong buat nemenin dia beli kipas angin, soalnya kipas di kos nya rusak." kata Angga.
"Oh gitu,.. yaudah jangan lama-lama ya mas, aku takut di kos sendirian." kata Emma.
"Iya sayang... Kamu nitip apa?" tanya Angga.
"Ehmm aku kepingin black burger yang di perempatan itu mas." jawab Emma.
"Okke sayang tungguin ya, aku beliin." Sahut Angga.
"Ji... Aku pulang ya, tolong kamu urus dia." kata Angga.
"Siap-siap, kmu pulang naik apa?" tanya Aji.
"Aku udah order ojol kok." kata Angga.
"Okke ya udah ati-ati lu, masalah ini serahin ke ahlinya." ,kata.
"Makasiih Ji..." ucap Angga.
---
Sampai di depan pintu kos nya, Angga merapikan pakaian juga jaket yang dia kenakan lalu membuka pintu. Begitu masuk dia langsung disambut oleh senyuman manis istrinya.
"Ini sayang .. pesenan kamu black burger nggak pakek telur kan." ,kata Angga.
"Makasih mas..." Ucap Emma.
"Sama-sama sayang... Sini aku yang suapin." kata Angga.
"Malu ah mas... Masa tiap makan disuapin terus." kata Emma.
"Ya udah terserah kamu sayang..." kata Angga kemudian.
Emma mulai menikmati makannya, sementara Angga senang sekali melihat Emma makan dengan lahap. Tiba-tiba Emma menghentikan makannya, lalu meletakkan burger yang tersisa setengahnya. Kemudian menunduk lalu kembali merebahkan diri. Angga tau, Emma pasti kembali teringat pada bayinya. Dia memeluk istrinya dari belakang.
"Sayang kamu yang ikhlas ya, yang sabar, dan harus kembali semangat kembali ceria, siapa tau nanti kita bakalan punya anak langsung dua, kembar..." bujuk Angga.
Namun tak ada jawaban. Angga merapatkan pelukannya. Dalam hati dia merutuki kebejatan Adrian.