I love you to the entire universe

2203 Kata
     Emma dan Mika baru saja kembali dari TSD untuk mengisi botol SBP dan Tolluenne. Namun di line nya sudah ada Bu Isna yang sedang berbicara serius pada Azizah.     "Emm... Surat pengunduran diri kamu ditolak, pak Adrian meminta CV kamu, dan dia minta kamu untuk di pindahkan ke managerial room, jadi staff Asmen disana, tapi lumayan loh Emm, kerjaan kamu gampang, terus duduk nggak jalan-jalan diruang ber AC pula, masuk pagi terus. Udah terima aja." kata Bu Isna.     "Lahh kenapa gitu Bu, ya saya bicarakan dengan suami saya dulu aja Bu, soalnya takut nggak diizinkan." kata Emma.     "Iya kamu bicarakan sama suami kamu dulu." kata Bu Isna.     "Saranku sih terima aja Emma, ntar kamu bisa cuti dua bulan sebelum dan satu bulan sesudah melahirkan, setelah itu masuk lagi kamu tetap ada disana." lanjut Azizah.     "Iya bentar Mak.. aku nggak bisa ambil keputusan sendiri kan sekarang." kata Emma.     "Iya juga sih." kata Azizah.     Dan saat istriahat tiba, dia nungguin suaminya di depan musholla.     "Kamu nungguin ada apa?" tanya Angga.     "Mas gini... Jadi pengunduran diriku ditolak, tapi aku dipindahkan di office jadi staff nya pak Adrian, kata Bu Isna sih kerjaanya gampang, jadi mending diterima aja." ucap Emma.     "Kok bisa sih pengunduran diri kau ditolak, ada-ada aja, pasti akal-akalan nya Adrian tuh, biar bisa deket-deket kamu." Ketus Angga.     "Mas kamu nggak ngizinin aku?" tanya Emma.     "Kalau kita tetap kerja bareng, inshaallah kita bisa punya tabungan buat masa depan kita mas, buat pendidika. Anak kita." Kata Emma.     "Kamu seneng kerja bareng dia?" tanya Angga.     "Mas... Kamu tau aku." kata Emma.     "Iya aku tau kamu, aku ngerti kamu, tapi gimana dengan dia?" Angga menegaskan.     "Tapi terserah kamu, kalau kamu masih mau kerja ya udah aku nggak bisa ngelarang." kata Angga.     "Aku akan jaga diri baik-baik mas." kata Emma.     Angga terdiam sejenak, dia pandang wajah istrinya lekat-lekat.     "Apapun yang bikin hati kamu senang sayang, tapi ingat kamu nggak boleh forsir tenaga kamu, kamu nggak boleh lembur, hari Minggu off." kata Angga kemudian.     "Makasih mas... "ucap Emma.     "Yaudah sholat dulu yuk, terus makan ya." kata Angga.     "Iya mas..." kata Emma.     Dan ketika jam masuk kerja telah dimulai lagi, Adrian sendiri yang menjemput Emma untuk pindah keruangannya. Di ruangan Adrian sudah ada meja kerja lengkap dengan segala perlengkapannya yang di siapkan untuk Emma. Emma menempati ruang kerjanya yang baru. Yang waktu itu adalah tempat Dita yang sekarang sudah pindah lagi ke dalam bersama bu Wardah.    Adrian menjelaskan job desc nya yang baru. Hanya input hasil inspect dan print out saja. Setelah itu Adrian membiarkan Emma mengerjakannya sendiri. Dia berdiri di belakang Emma sambil menyulut rokoknya. Emma yang penciumannya menghirup aroma rokok yang menguar di udara segera berbalik.    "Maaf pak, boleh agak menjauh rokoknya, soalnya saya sedang hamil dan nggak bagus ibu hamil yang terpapar asap rokok secara langsung pak." ucap Emma dengan sopan.    "Ohh iya Emma. Maaf ya, saya nggak tau kalau kamu sedang hamil ,maaf ya." ucap Adrian yang langsung mnjauh dan duduk di sofa dekat rak Conform.    "Sialan tuh Angga menang banyak dia." batin Adrian sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.    "Pernikahan mereka harus bubar, dia harusnya nikah sama aku dan hamil anakku." lanjutnya.    "Okke kali ini aku harus menang, pertama-tama singkirkan bayinya, lalu ganti dengan bayi ku, dengan behitu pernikahan mereka akan hancur, setelah itu aku akan datang sebagai pahlawan dan bapak dari bayi Emma." sorak Adrian dalam hati.     Adrian mulai browsing-browsing untuk mencari obat penggugur kandungan yang paling ampuh. Lalu matanya tertuju pada tulisan Misoprostol Cytotec. Dia membaca deskripsi dan cara mendapatkannya. Kebetulan dia punya kenalan seorang dokter kandungan di rumah sakit Medika.    "Ok ok... Jam istirahat nanti aku ambil ke sana." ucap Adrian dengan antusias menjawab pertanyaan sesornag yang baru saja dia hubungi via telepon.    Sementara itu hanya melihat setiap inchi dari wajah Emma, bibirnya yang pink alami, hidungnya, matanya yang cerah, kulitnya yang semulus pualam membuat bagian bawahnya benar-benar hard.    "Sialan nih organ ngajak berantem apa, bisa-bisanya ngajak ndusel di jam kerja gini" batin Adrian.     "Nggak...aku nggak bisa ngulangin cium paksa kaya waktu itu, bisa-bisa dia malah kabur dan nggak mau kerja lagi. Oke aku harus sabar sampai dia mau minum obat itu." kata Adrian dalam hati. Dan melanjutkan menuntaskan hasratnya di toilet sambil membayangkan wajah Emma.     Setelah istirahat Adrian menyodorkan sebotol minuman dingin untuk Emma.    "Minum Emm udara panas banget diluar, pasti bisa nyegerin badan kamu." ucap Adrian.    "Wahhh makasih pak." ucap Emma dan langsung meminumnya tanpa rasa curiga.    "Bapak nggak minum?" tanya Emma.    "Udah Emm, tadi aku beli dua satu buat kamu satu buat Dita, tuh disana." tunjuk Adrian.    "Wajah baik banget pak ..." kata Emma yang tidak menyadari perbedaan rasa minuman ini dengan yang biasa dia minum karena rasa dingin dari menyamarkannya. Sebutir Misoprostol Cytotec telah larut di dalam botol minuman itu.     ***     Pulang kerja Angga sudah nangkring diatas motornya nunggu Emma keluar. Dari jauh dia melihat istrinya berjalan beriringan bersama Dita. Dia lega karena membayangkan Emma bakalan keluar dari gerbang bersama Adrian. Setelah scan pulang, Emma langsung menghampiri suaminya.    "Mas tumben bawa motornya Sampek kesini?" tanya Emma.    "Iya nggak papa biar kamu nggak capek nungguin aku muter-muter di parkiran, tadi aku kleuar tapi kamu belum keluar yaudah aku ambil motor dulu." jawab Angga.    "Oh gitu.. mas mau nggak nanti malem temenin belanja, aku pingin beli sprei baru, soalnya kalau cuma satu pas dicuci kita gak pake sprei." kata Emma.    "Siappp sayang." kata Angga.    "Mas..." Panggil Emma begitu mereka mulai melaju meninggalkan pabrik.    "Iya sayang kenapa?" tanya Angga.    "Mas kenapa perutku dari tadi agak sering kram ya?" tanya Emma.    "Hahh??" Sahut Angga.    "Mungkin kecapekan mas, habis ini aku langsung istirahat aja." kata Emma.    Dan begitu sampai di kos, Emma langsung merebahkan diri setelahmenarik selimutnya. Di memegangi perutnya yang terasa sakit. Tidak berapa lama dia merasakan cairan membasahi celana dalamnya. Pikirannya sudah negatif, dia tidak bisa lagi berpikir jernih, dia berlari ke kamar mandi, dan begitu mengeceknya, tumpahkan air matanya. Darah terus keluar dan merembas dari jalan lahir bayi. Dia mengambil sebuah pembalut dan mengganti pakaian dan celana dalamnya di sana. Kemudian keluar sambil terisak. Angga bingung dan mendekat.   "Sayang... Kamu kenapa? Tiba-tiba nangis? Aku ada ngomong salah sama kamu." tanya Angga.  "Enggak mas.." Emma menggeleng namun dia merapatkan diri lalu memuk Angga.  "Sayang kenapa?"ulang Angga.  "Mas maafin aku... Aku keguguran mas, barusan aku lihat pendarahan banyak banget kaya darah haid dan yang aku bilang perutku kram terus tadi mas." ucap Emma sambil menangis.   Angga melepaskan pelukan Emma, wajahnya terlihat sangat marah dan kecewa.   "Aku udah bilang, kamu nggak usah kerja, aku bilang enggak ya enggak... Kamu masih ngeyel, kalau gini sekarang gimana anak kita udah nggak ada, semua karena kamu yang egois. Kamu nggak pernah mau dengerin kata-kata suami kamu yang miskin ini, kamu lebih mentingin kerja dari pada anak kita." Kata Angga, dia keluar tanpa pamit dengan masih berseragam.    "Mas.. mas Angga." panggil Emma. Namun terdengar raungan motor Angga yang kian menjauh.    "Maafin aku mas, kamu pasti kecewa banget sama aku mas..." kata Emma sambil menahan sakit di perutnya    Dia membiarkan Angga pergi, untuk melepaskan segala kekecewaannya. Dia tau diri ya yang salah karena dariawal tidak menuruti perkataan suami nya.    Dia berjalan tertatih lalu kembali tidur dan menahan sakit dibalik selimutnya.    "Cepat pulang mas, rasanya sakit banget, aku mohon kamu jangan marah sama aku." ucap Emma.     Namun sampai tengah malam Angga tak juga kembali, sementara dia sudah tidak sanggup lagi berdiri untuk ke kamar mandi mengganti pembalutnya dengan yang baru. Dia menahan sakit dan mengerang sendirian di kamarnya yang dingin.sesekali dia menelpon nomor Angga namun tak ada jawaban.    Sementara itu Angga bergabung bersama teman-teman nya menenggak minuman keras dan berpesta semalam suntuk.    "Emma... Harusnya kamu nurutin kata-kata ku, aku sayang banget sama kamuuuuu.. aku nggak bisa nolak permintaan kamu,harusnya kamu yang sadar diri jangan kerja, dirumah aja kamu jaga anak kita baik-baik." Racau Angga uang sudah teler lalu jatuh lemas bersama rekan-rekannya.      ---      Samar-samar Angga merasakan angin semilir bertiup perlahan menyapa tengkuknya, rupanya dia tidur telungkup semalaman. Begitu mebuka mata dia tersadar tak ada Emma di sisinya, dia segera berdiri menggosok-gosok matanya lalu pergi meninggalkan rekan-rekan nya yang masih terlelap. Melewati sebuah toko yang menjual beraneka macam woman stuff, dia mampir untuk membeli sebuah sprei baru, dia ingat kemarin istrinya menginginkan sprei baru. Dilihatnya jam 8 pagi, Emma pasti sudah berangkat kerja tanpa dirinya.setelah memilih sprei bergambar kucing Angga lantas membayarnya, lalu membawanya pulang.     Sampai di kos dia agak sangsi, kenapa lampunya masih menyala, dia memutar handle pintu, pintunya tidak terkunci, dia langsung masuk dan dilihatnya istrinya masih terlelap dengan ponsel di genggamannya. Dia mengambil ponsel itu, sekilas dia melihat banyak sekali panggilan keluar ke nomornya. Dia melihat lagi kearah istrinya. Wajahnya pucat sekali.    "Sayang .. aku pulang..." ucap Angga sambil mencium kening istrinya.    "Nih aku udah beliin sprei baru, udah nggak papa kamu yang ikhlas ya, mungkinbelum saatnya kita jadi orang tua." kata Angga.    Namun Emma sama sekali tidak bereaksi, dia menguncang bahu Emma perlahan, menepuko kedua pipinya.    "Sayang... Aku udah pulang, kamu kenapa diam aja, Emma.." panggil Angga perlahan.    Angga yang tau bahwa istrinya pasti tidak baik-baik saja lantas menyingkap selimut Emma. Dilihatnya darah sudah merembes dan membasahi kasur dan sebagian selimut bagian dalam.    "Mashallah sayang ..." Panggil Angga.    "Emma...bangun sayang, nggak... ini salahku ninggalin dia semalaman."     "Kita ke rumah sakit sekarang ya." ucap Angga, dia kebingungan sendiri. Dia mengambil dan mengganti pakaian Emma dengan yang bersih tidak lupa dengan pembalutnya. Setelah orderan grab nya datang,dia langsung mengany tubuh Emma dan membawanya ke mobil.    "Pak cepetan ya... Istri saya pendarahan dari semalam." Kata Angga dengan paniknya.    "Lahhh kok bisa sih mas, kok bisa dibiarin Sampek pagi, gimana sih, ya kalau nggak terlambat kehabisan darah." kata sopir grabnya.    "I...iya pak saya pas kerja shift malam." bohong Angga.    "Yah mas... Kalau bisa jangan ditinggalin sendirian lah, kalau ada apa-apa gimana." justru sopir grab yang ngomel-ngomel.    "Iya pak saya emang salah." kata Angga. Sampai dirumah sakit Emma langsung disambut brankar dan dilarikan ke UGD. Anggayang masih memakai seragam terakhir kalinya itu, terkuhat sangat kacau, sesekali dia melihat kebalik kaca.    "Ya Allah selamatkan istri saya..." batin Angga.     "Bapak suaminya?" tanya perawat yang membuka pintu dan bertanha kepadanya.     "Iya suster..." jawab Angga langsung mendekat.     "Silakan masuk pak..." ucap perawat tersebut.     "Dok...ini suaminya." ucap perawat kepada dokter begitu Angga masuk.     "Pak... Istri bapak mengalami Abortus inkomplit,  yaitu salah satu jenis keguguran yang terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Ketika ini terjadi, jaringan janin yang telah mati tidak keluar sepenuhnya dari rahim dan menyebabkan perdarahan terus berlanjut. Kita harus segera melakukan kuretase untuk mengambil jaringan janin. Terlambat sedikit saja bapak membawa ibu Emma kemari, kemungkinan bisa diselamatkan sangat kecil sekali, karena sudah banyak kehilangan darah." Jelas Dokter.     "Bagaimana pak?" tanya perawat tadi.     "Lakukan apapun itu untuk menyelamatkan istri saya pak." kata Angga.     "Baiklah pak mari ikut saya untuk menandatangi persetujuan tindakan operasi." Angga segera mengikuti dokter tadi. Sesekali diamelihat kearah istrinya yang masih terpejam dengan wajah pucat. Kantung darah di sisi kanannya mentes dnegan cepat mengaliri selang yang tepasang di tangan Emma.     Usai menandatangani persetujuan itu, Angga langsung mengabarkan perihal keadaan Emma pada orang tuanya.      "Baiklah mama kesana sekarang, telpon papa kamu Ngga, dia nggak bakalan ngangkat telponnya kalau mama yang tellon.." kata mama Emma.     "Iya ma..." kata Angga.     Hampir 15 menit kemudian pintu ruang operasi telah dibuka dan Emma di bawa ke ruang perawatan biasa.     "Operasinya sudah selesai pak, dan sebentar lagi ibu Emma pasti siuman. Saya tinggal dulu ya pak, kalau ada apa-apa panggil kami." kata Angga.     "Iya makasih suster." kata Angga.    Angga duduk di kursi yang tersedia, dia genggam tangan istrinya, menciumnya dan terus mengucapkan permintaan maafnya. Emma mulai siuman, dia membuka mata, dia sedikit heran karena berada di ruangan yang asing. Setelah melihat selang infus dan kantung darah yang menggantung barulah dia ingat apa yang terjadi semalam. Airmatanya meleleh tiba-tiba.    "Mas... Jangan pergi lagi, jangan tinggalin aku mas, sakit banget rasanya. Aku telpon kamu berkali-kali kamu nggak angkat, aku minta maaf karena aku, bayi kita nggak selamat mas., Maafin aku mas." ucap Emma sambil mencoba bangun dari tidurnya.    "Enggak sayang, kamu nggak salah, aku yang salah... Maafin aku karena ninggalin kamu semalaman maafin aku sayang." ucap Angga.    "Kamu sama sekali nggak salah, aku yang salah." Lanjut Angga sembari memeluk istrinya.    "Mas..." ucap Emma, baru kali ini dia melihat sosok Angga menangis.    "Mas.." ulangnya sekali lagi.    "Aku sayang banget sama kamu, aku nggak tau gimana jadinya kalau aku sampai terlambat pulang. Pukul aku, maki aku sepuas kamu sayang." kata Angga.     "Maafin aku sayang, harusnya aku mikir, nggak cuma aku yang bersedih karena bayi kita, tapi juga kamu, kamu yang kesakitan, kamu yang juga bersedih dan kecewa, harusnya aku nggak ninggalin kamu." kata Angga.    "Mas kamu nangis..." Kata Emma.    "Aku nyesel banget sayang, aku nyesel banget udah bentak kamu kemarin udah ninggalin kamu semalaman, udah bikin kamu nyaris celaka sayang, ya Allah aku nggak ngerti lagi harus gimana." kata Angga.    "Mas anak kita meninggal karena aku mas, bukan kamu yang salah jangan yalahin diri kamu terus mas." kata Emma.    "Ikhlas sayang, udah nggak papa, yang penting kamu selamat, nanti kalau saatnya tiba, kita pasti bakalan punya anak lagi kok " Kata Angga.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN