Candu

1238 Kata
       Jam kerja yang tidak menentu, malam ini mereka pulang jam 7 malam., Padahal baru kemarin dinyatakan low season. Sampai di kos, Emma langsung merebahkan diri diatas ranjang.      "Sayang kamu mandi dulu, biar seger, habis itu kita sholat berjamaah." kata Angga.     "Siapp mas.." Kata Emma, walaupun. Rasanya malas untuk mandi, tapi dia berangkat juga pada akhirnya.     Usai mereka mandi bergantian, Angga mengambil tempat untuk meng-imami, sholat Isya mereka. Di rokaat terakhir tiba-tiba Emma merasakan sensasi aneh, nadanya lemas, kakinya lemah, tak mampu menopang berat badannya,, kepalanya terasa pusing dan berkunang-kunang, perlahan semua suara seakan menjauh lalu Brukkk. Emma jatuh pingsan saat Angga membaca salam.     "Astaghfirullah sayang..." ucap Angga yang langsung berdiri untuk menggapai Emma.     Setelah memberikan minyak kayu putih dan menepuk-nepuk perlahan pipi Emma, dia pun siuman. Kulitnya yang putih jadi makin pucat pasi.    "Sayang kamu sakit?" tanya Angga.    Emma menggeleng, dia mencoba duduk, namun Angga melarangnya.     "Udah jangan bangun, kamu istirahat aja sayang." kata Angga.     "Mas.. kepalaku tiba-tiba pusing, padahal tadi nggak kenapa-napa mas." kata Emma.     "Iya sayang mas ngerti keadaan kamu,tadi aku tanya ke mama,, kenapa wanita hamil sering pingsan, kata mama karena perubahan hormon, Bila Bumil mengubah posisi secara tiba-tiba, tekanan darah Bumil juga akan menurun dengan cepat. Secara bersamaan, aliran darah ke otak mendadak berkurang dan membuat Bumil pingsan. Anemia juga. Mungkin lain kali kamu sholat sambil duduk saja sayang, takut tiba-tiba kamu jatuh dan membentur sesuatu." kata Angga.     "Oh iya mas..." kata Emma..     "Yaudah kamu harus makan ya sayang, aku tadi udah beli makanan. Atau kamu pingin makan apa? biar aku masakin." tanya Angga     "Ehm... Mas aku nanti aja makannya, kamu aja makan duluan. Aku mau minum s**u aja dulu, tolong bikinin ya." kata Emma.     "Sayang kamu harus makan, biar dapat nutrisi, lihat makin hari badan kamu makin kurus, nutrisi kamu diambil semua sama bayi kita, sedangkan kamu nggak dapat apa-apa." kata Angga.     "Makan ya... Iya aku buatin s**u nya, tapi kamu mau makan ya, dikit-dikit aja nggak papa." kata Angga.     "Mas..." rengek Emma.     "Dikit aja sayang... Aaaaaa." ucap Angga bersiap memasukkan sesendok nasi dan meminta Emma mebuka mulutnya. Namun yang terjadi Emma justru menutup mulutnya rapat-rapat, karena mual mencium aroma nasi.     "Sayang.. kamu udah berhari-hari nggak makan nasi, kamu bisa sakit sayang." tegur Angga. Dia berdiri untuk membuatkan segelas s**u. Lalu kembali dan siapin Emma. Habis segelas s**u itu Emma langsung memejamkan matanya, dan menutupi wajahnya dengan selimut, dia benar-benar nggak mau makan nasi     "Ya udah kamu tidur sayang." ucap Angga.      Angga yang juga kehilangan selera makannya, mencoba membangkitkannya lagi dengan menggoreng nasi yang tadi dia beli. Aroma nasi goreng yang sangat lezat itu menguar di udara. Emma membuka selimutnya, lalu melihat suaminya yang tengah makan. Dia berdiri lalu mendekat.       "Mas baunya enak banget, boleh nyicipin?" tanya Emma.      "Oh iya sayang ... Sini mas suapin ya." kata Angga dia menyendokkan nasi untuk Emma.      "Ehmmm enak banget mas, kamu emang juara." puji Emma      "Kamu nggak muntah sayang? Kamu nggak mual makan nasi goreng?" tanya Angga memastikan.       Emma menggeleng,.       "Enggak mas... Enak kok, aku benar-benar menikmati." kata Emma.       "Ya udah kalau gitu, tiap hari aku mau kok gorengin nasi goreng buat kamu. Biar kamu bisa makan nasi." kata Angga, yang mewarisi keahlian memasak dari ibunya.       "Boleh mas... Aku suka." kata Emma.      "Beneran nggak papa kalau tiap hari harus makan nasi goreng?" tanya Angga.      "Enggak papa mas, daripada sama sekali nggak bisa makan nasi kan." kata Emma.       "Ya udah kamu nggak perlu masak, biar aku aja ya yang bikin buat kamu." kata Angga.      "Makasih banyak mas." ucap Emma      "Yaudah nih makan lagi, sini aku suapin." kata Angga.      "Aku bisa makan sendiri mas." ucap Emma malu-malu.      "Udah sini biar romantis." kata Angga.      "Yah maksa..." ucap Emma.      "Nggak papa... Aku suka maksa." kata Angga.      "Dan aku suka dipaksa sama kamu mas." ucap Emma.      "Hmmm mulai membalas gombal nih bumil." Kata Angga.     "Tapi kamu tau nggak, apa yang aku bilah tadi siang itu beneran loh." lanjutnya.     "Apa mas, yang mana? aku lupa" tanya Emma.     "Waktu aku bilang, walaupun kamu nggak pinter masak, tapi kamu jago bikin kopi." Jawab Angga.     "Ooh itu... Jadi malu mas, tapi kan emang kopi udah ada takarannya." kata Emma     'Bukan masalah kopinya sayangkuuu.... tapi aku beneran waktu bilang kopi kamu bikin aku makin cinta, tau nggak secagkir kopi dari kamu, Nyatanya adalah secangkir rindu yang mengandung candu, kaya bibir kamu." kata Angga.      "Aaa buaya..." ucap Emma malu-malu.      "Looh kok buaya, yaudah habisin dulu makannya saya, baru habis itu kamu yang aku habisin." ,kata Angga.      "Mas mau apa?" tanya Emma.      "Ya minta jatah lah, emang mau apa lagi." Angga balik bertanya      "Emang kalau hamil boleh?" tanya Emma lagi.      "Ya boleh lah sayang, aku juga bakalan hati-hati kok." Jawab Angga.      "Iya udah kalau boleh." kata Emma.      Usai makan Angga merebahkan diri di samping istrinya.      "Mas kamu pingin anak cewek apa cowok untuk anak pertama kita." kata Angga.      "Apa aja, yang penting sehat, kau juga sehat, kalau masalah jenis kelamin, mas nggak nuntut harus cewek apa cowok." kata Angga.      "Iya mas makasih." kata Angga.      "Mas... Mungkin nanti setelah melahirkan, aku nggak bakalan cantik lagi, badan aku nggak bakalan kaya gini lagi, apa kamu masih cinta?" tanya Emma.      "Ya Allah sayang, aku cinta sama kamu, ya emang benar-benar cinta, cinta tanpa karena, nggak peduli nanti kamu kaya gimana aku bakalan tetap cinta mati sama mama dari anak-anak ku." kata Angga.     "Beneran mas? Emang seberapa besar kamu cinta sama aku sekarang mas?" tanya Emma.     "Iya sayang... Mungkin aja cinta ku lebih besar dari pada cinta kamu ke aku saat ini." jawab Angga.     "Emang kamu tau seberapa besar cintaku sama kamu mas?" tanya Emma.     "Ehmmm... Nggak tau, kaya gimana?" Angga balik bertanya.     "Sesederhana aku mencintai sosok laki-laki yang dengan ikhlas aku melayani walaupun badan aku lelah, sesederhana aku mengabdikan diri sepanjang hidup untuk nya, merawatnya juga mengasuh anak-anak nya, sesederhana     Mendengar itu Angga langsung mengecup bibir istrinya bergantian dengan kedua pipinya.    "Makasih sayang... Makasih juga telah menghadirkan kehidupan baru dalam pernikahan kita, jaga bayi kita baik-baik ya, dan yang paling penting aku nggak mau lihat kamu sakit." kata Angga.    "Ingat ya... Aku nggak mau kamu sakit, hatiku hancur banget melihat kamu sakit." kata Angga.     "He em sayang, aku akan selalu jaga bayi kita baik-baik." kata Emma.     "Kalau aku minta kamu off aja mulai besok gimana?" tanya Angga.     "Yahh mas... Kan aku masih ada tanggung jawab ngajarin Mika sampai bisa." kata Emma.     "Tenang aja mas, aku nggak bakal capek-capek kok." Lanjutnya.     "Aku khawatir banget sama kamu, aku kerja nggak bisa tenang, takut kamu kecapekan terus tiba-tiba pingsan pas kerja, ya kalau ada lihat kalau nggak ada yang lihat gimana." kata Angga.     "Mas.. aku tuh nggak selemah itu, kamu tenang aja ya, lagian aku kemana-mana bawa hp kok, kalau aku sakit pasti ngabarin kamu." kata Emma.     "Hmmmmm... Yaudah terserah kamu, tapi nggak joleh lebih dari seminggu loh ya. Aku beneran khawatir sama kamu, belum lagi, kalau banyak cowok-cowok yang godain kamu, dikira kamu belum nikah gimana." lanjutnya.     "Ya Allah mas pikiran kamu jadi kemana-mana deh." Emma tersenyum kecut.     "Udah ah jangan mikir macem-macem." lanjut Emma.     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN