Hujan turun dengan derasnya, Angga telah menyiapkan lilin, barangkali akan mati lampu malam ini. Lalu merebahkan diri disamping istrinya.
"Lagi mikirin apa?" tanya Angga begitu melihat Emma yang seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Enggak kok mas." jawab Emma.
"Nggak bohong kan?" tanya Angga.
"Enggak.. ehm... Mas.." panggil Emma pada akhrinya.
"Ya sayang..." jawab Angga.
"Kamu kapan libur?" tanya Emma.
"Minggu depan udah libur kok, kenapa? Kamu pingin jalan-jalan?" tanya Angga.
"Iya... Kita ke Jogja yuk naik kereta." ajak Emma.
"Kamu pingin naik kita pergi naik kereta?" tanya Angga kemudian.
"Iya mas.. nggak papa kan?" Emma memastikan Angga tidak keberatan dengan usulnya.
"Iya nggak papa sayang, asal kamu bahagia aja." kata Angga sembari memberikan kecupan pada istrinya.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
"Aaduh siapa sih ganggu aja." kata Angga kesal sambil mengacak rambutnya.
Emma tersenyum. Melihat sisi lain cute nya Angga.
Angga membuka pintu, dilihatnya seseorang bernantel yang basah kuyup menyerahkan sebuah paket kepadanya. Angga menerimanya dan memastikan nama penerima adalah dirinya atau Emma.
"Ohh buat saya." kata Angga.
"Iya mas... Saya permisi ya, ongkir sudah dibayar oleh pengirim kok." kata kurir tadi.
"Makasih pak..." ucap Angga. Kemudian menutup pintu.
"Siapa mas?" tanya Emma.
"Kurir... Kamu beli beli apaan sayang?" tanya Angga.
"Eng.... Nggak kok aku nggak beli apa-apa mas." jawab Emma.
"Ini ada paket, dikirim untuk ku, tapi aku nggak ngerasa beli apa-apa kok." kata Angga.
"Coba lihat mas?" pinta Emma. Angga menyerahkan kotak paket itu pada istrinya. Emma membaca alamat, nomer hp dan yang paling adalah nama penerima.
"He em ini sih bener buat kamu mas." Kata Emma.
"Boleh aku buka..." tanya Emma.
"Boleh buka aja sayang..." kata Angga berusaha menepis keraguannya.
Emma membuka paket itu, Angga memperhatikan dengan was-was entah kenapa perasaanya mengatakan pasti bukan sesuatu yang baik dalam paket itu. Kotak dalam kemasan tersebut adalah kotak bekas sereal. Emma menyobek bagian atas kotak tersebut. Dia melongok kedalam, hanya berisi lembaran-lembaran foto. Alisnya bertaut di bagian dasar dia melihat sesuatu berwarna putih. Matanya tidak salah itu adalah sebuah alat tes kehamilan.
Emma buru-buru mengambilnya dan melihat ada dua garis yang terpampang disana. Kemudian foto-foto itu. Adalah foto Angga bersama seorang wanita. Bukan Anel namun gadis lain. Angga berusaha mengambil foto-foto itu namun Emma bersikukuh menahannya.
Foto Angga yang mencium mesra kening gadis itu, foto topless mereka didalam sebuah kamar, foto merek berdua yang tengah berpagutan bibir, foto Angga yang tengah meremas d**a gadis itu, dan banyak lagi foto-foto lainnya yang mencapai 85 buah foto.
"Mas jelasin ini apa..." kata Emma yang belum habis rasa kagetnya.
"Sayang... Kamu ngerti masa lalu aku kaya gimana, dan ini bagian dari masa lalu, Ada orang yang berusaha ngerusak kepercayaan kamu buat aku, pliss kamu ngerti ya, maafin aku, aku memang buka cowok baik-baik dan kamu tau itu kan, tapi sekarang udah berubah, hanya ada kamu di hati ku untuk selamanya, dan segala hal yang kamu lihat di foto itu nggak akan terjadi lagi di masa depan. Masa depan aku hanya kamu." kata Angga.
Emma menitikkan air mata nya, walau bagaimanapun foto-foto itu benar-benar mengejutkan nya. Terselip sebuah surat diantara foto itu.
"Selamat atas pernikahan kamu mas, semoga kamu bahagia dengan kehidupan kamu sekarang, Maaf aku telat ngucapinnya, aku masih berusaha bangkit dari keterpurukanku mas, sejak kamu minta gugurin bayi kita, aku tak pernah bisa tidur dengan tenang setiap malam, jika bayi kita masih hidup sekarang pasti berusia tiga tahun mas, lucu sekali, pasti kalau cowok ganteng banget kaya kamu. Maaf aku nggak bermaksud mengganggumu dengan kiriman ini, aku hanya ingin mengingatkan apa yang telah kamu lakukan padaku mas, semoga kelak kita bisa bertemu lagi di kehidupan yang lain. Yang selalu mencintaimu... Dea." Emma membaca surat itu.
"Mas... Pernah hamilin cewek lain mas, dan kamu minta dia gugurin kandungannya." Emma melempar surat itu ke wajah Angga.
"Pantas aja Tuhan menghukum aku dengan mengambil bayi kita, itu karena dosa-dosa kamu mas." pekik Emma, yang suaranya nyaris tenggelam dalam riuhnya airhujan.
"Sayang... Maafin aku, itu kejadian udah lama banget, dan waktu itu aku emang b***t, aku nggak siap buat tanggung jawab atas apa yang aku lakukan ke dia." kata Angga terbata-bata.
"Nggak siap mas? tapi kamu nidurin dia dan mungkin juga banyak lagi gadis-gadis yang udah kamu perawanin tanpa aku tau." Lanjut Emma.
"Enggak sayang, cuma dia... Pliss kamu percaya ya." ,kata Angga.
"Sayang..." ulang Angga.
"Akuu kecewa sama kamu." kata Emma.
"Sayang..." Angga menarik Emma dalam pelukannya.
Namun Emma berkelit lalu bangkit dan menuju pintu keluar. Angga buru-buru berdiri lalu mencabut kunci kamar dan menyembunyikannya.
"Berikan kuncinya aku mau keluar." kata Emma.
"Diluar hujan sayang kamu nggak boleh keluar." kata Angga.
"Biarin aku pergi." lanjut Emma.
"Enggak aku nggak mau kamu pergi." ,kata Angga. Dia meraih Emma yang syok dan menangis itu dalam pelukannya.
Emma yang tersedu-sedu larut dalam pelukan Angga.
"Aku sayang banget sama kamu mas.. tapi kamu buat aku sesakit ini." Kata Emma.
Angga tak bisa berkata apa-apa selain merapatkan pelukannya dan membiarkan Emma memukuli dadanya.
"Tuhan nggak kasih kamu keturunan karena apa, aku baru tau mas... Aku kecewa sama kamu." Lanjut Emma.
"Akuu sayang kamu, cinta kamu... Dan kamu harus tau Tuhan nggak sedang hukum aku atau kita sayang, kamu keguguran karena Adrian telah memasukkan. Obat penggugur kandungan ke minuman kamu. Tapi kamu teanang aja udah diproses polisi dia."Kata Angga.
Tak ada sahutan dan tidak lama berselang Emma terkulai lemah tak sadarkan diri. Angga memindahkan tubuh istrinya keatas tempat tidur. Lalu membereskan semua barang-barang itu dan membuangnya. Setelah itu Angga kembali pada Emma untuk menyadarkannya.
Beberapa kali Emma menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya siuman. Angga langsung menghujani Emma dengan ciuman.
"Lepasin aku mas.." kata Emma.
"Enggak..." kata Angga.
"Aku memang salah Emma, aku memang salah pada bayi nya Dea, tapi itu aku lakukan karena... Ahhh sudahlah... Itu semua sudah terjadi sayang di masa lalu aku, aku nggak mau keganggu karena hal ini, maafin aku ya, mungkin ini ujian pernikahan kita sayang." kata Angga.