Engagement Day

2254 Kata
       Minggu pagi, mama Emma sudah sibuk di dapur di bantu dua Tante Emma. Mereka membuat aneka hidangan manis untuk menyambut keluarga Angga. Sementara Emma dan Adel membersihkan rumah, menyiram tanaman dan mengelap kaca.        "Mbak... Gimana rasanya mau dilamar." ucap Adel.        "Aduuhh Adel... Deg deg an banget sumpah Del, nih pegang tangan mbak dingin banget." jawab Emma.         "Btw.. terus nikahnya kapan mbak?" lanjut Adel.         "Ya kalau itu belum tau dek... Ehmm kayanya harus nemuin hari yang bagus gitu kalau itungan Jawa." jawab Emma kemudian.         "Moga gak lama-lama ya mbak." ucap Adel.         "Emang kenapa?" Emma penasaran.         "Mau minta anter ke sekolah sesekali, mau pamerin ke temen-temen kalau aku punya Abang ganteng." jawab Adel.         "Hmmm... dek kamu lanjutin ya, mbak mau mandi terus siap-siap." kata Emma sambil menyerahkan lap yang semula dia gunakan untuk mengelap kaca pada Adel.         "Cieeee seneng banget yang mau dilamar..." goda adiknya.         "Adelll... " ucap Emma.         "Yaaaa wajahnya merah." lanjut Adel.         "Adelll..." Emma mencubit perut Adel yang bukannya kerja malah godain dia.         "Heheheh iya iya iya..." ucap Adel sambil menjauh.         Usai mandi Emma memilih sebuah long dress cantik potongan simpel dengan aksen tempel di bagian bawah, juga hijab nude favoritnya. Benar-benar cantik visualisasinya pagi ini. Tak lupa mama juga Adel sudah bersiap mengganti pakaian mereka dengan warna senada yang dipakai Emma.         Hampir jam 10 ketika Papa Emma terdengar membuka gerbang lalu mempersilakan Angga beserta keluarganya masuk. Kedua Tante Emma membawa baki berisi kue-kue juga teh manis diatas nampan lengkap dengan Es nya.        "Assalamualaikum..." ucap Angga yang masuk belakangan karena harus memarkirkan mobil pakdenya di bawah pohon teduh di depan rumah Emma.        "Waalaikumsalam ..." jawab mereka semua.        "Dek mbak beneran deh deg an ini gimana dong." ucap Emma yang masih ribet di dalam kamarnya.        "Ya ampun mbakk... Udahlah, mbak udah cantikk sekaliiii.. yuk ah keluar, udah ditungguin." ajak Adel menggandeng tangan kakaknya.        Akhirnya Emma muncul di depan keluarga besar Angga, dia bersalaman dan mencium tangan mereka yang lebih tua.        "Oooo ini calon nya Angga, cantik banget mbak." ucap Tante Angga pada ibu Angga.        "Jadi kedatangan kami kesini, adalah sesuai permintaan keponakan saya ini... Angga, yang sepertinya sudah mantap sekali hatinya memilih seorang putri dari kota dingin Malang, saya pakdenya Angga, kakak dari ibunya Angga, ayah nya Angga sudah meninggal, dan bapak tirinya  tadi sedang ada urusan gitu, ya jadi saya yang menjadi wali dari Angga." kata Pakde Angga. Emma langsung menerka-nerka kenapa bapak tiri Angga tidak datang, tapi sudahlah dia bisa menanyakan hal itu nanti.       "Oh iya pak... Saya ayahnya Emma, ini ibunya dan ini adiknya, masih SMP, oh iya kalau si kembar itu tantenya Emma sudah pada berkeluarga juga, rumahnya di belakang rumah ini." kata papa Emma.       "Naahhhh senang kan kalau nambah keluarga lagi Ngga, jadi semalam Angga datang kerumah, dia minta tolong ke pakdenya ini yang sudah tua buat nanyain si gadis cantik katanya namanya Emma, dia janji saya sama pakdenya, kalau bakalan serius, makanya kami datang kemari." lanjut pakdenya Acara ramah tamah dengan sambut tawa bahagia saling bersahutan, di ruang tamu Emma.         Sampai pada acara inti Ibu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, dari dalamnya ada sebuah cincin polos dengan satu permata kecil menghiasinya.        "Saya nggak pandai ngomong kaya pakdenya Angga, namun saya disini selaku ibunya Angga, yang sangat berbahagia di pagi ini, hendak mengikat nak Emma untuk putra saya yang yahh seperti ini saja. Ibu harap cincin yang sederhana ini mampu mengikat cinta kalian berdua, semoga tidak ada aral melintang sampai datangnya hari bahagia kalian. Jujur ibu bahagia sekali, Angga anak laki-laki ibu satu-satunya, walaupun dia Badung di luar, tapi tidak pernah sekalipun membuat ibunya menangis, dan pagi ini, pertama kalinya dia membuat ibunya menangis, setelah hari ini ibu akan melepaskan anak ibu ini untuk menjalani hidup barunya." ucap Ibu Angga berlinang Air mata, bercampur senyum dari bibirnya.      "Ibu tidak akan pernah kehilangan anak ibu, ibu justru akan mendapatkan anak lagi satu." hibur mama Emma yang juga berlinangan airmata, mengingat akan melepaskan putrinya juga.       Ibu Emma mengangguk-angguk sambil meghapus airmatanya yang sudah bertupuk di pelupuk mata. Kemudian meraih tangan Emma juga Angga yang berada di samping kanan dan kirinya. Ibu Angga memberikan cincin itu kepada Emma untuk memasangkannya pada jari manis Emma.       Angga menerima cincin itu lalu meraih tangan Emma, wajahnya yang tegang juga mengundang tawa dari keluarga besar mereka.       "Tegang banget Ngga, belum juga ijab Qabul." celetuk pakdenya yang justru membuat Angga keringat dingin.       Angga ikut tersenyum sambil mengelap keringatnya. Dia justru salah tingkah saat Emma mengambil tissu untuk membantu mengelap keringat Angga.        "Eaaaa tambah grogi mas Angga." ucap Adel sambil merekam mereka dalam video nya.        "Aduh beneran... Nggak pernah kaya gini seumur hidup." ucap Angga setelah berhasil memasangkan cincin dalam jemari Emma. Mereka berdua saling berbalas senyum.        "Alhamdulillah akhirnya ponakan pakde berhasil mengalahkan groginya." ucap pakde.        "Jadi pakde mau nanya sama nak Emma, ini mau dilanjut cepet apa nanti dulu?" Lanjutnya.        "Cepett...." jawab papa dan mama Emma bersamaan yang disambut tawa dari mereka semua.        "Emma ngikut apa kata papa sama Mama saja pakde." jawab Emma.         "Bapak ibu orang tua Emma, jadi saya sudah membicarakan ini dengan orang yang ngerti tentang hari-hari baik seperti itu, dan ada hari yang sangat baik di tahun dan bulan ini yaitu di hari Minggu depan ini? Bagaimana, mau dilanjutkan apa di pending dulu." tanya pakde.        "Alhamdulillah... kalau bisa cepet yang kenapa harus lama-lama ya Bu ya." ucap Mama Emma pada Ibu Angga.         "Hehehe iya.." jawab ibu Angga.         "Mama.. papa, ibu.. pakde, Emm sudah membicarakan masalah pernikahan sama mas Angga, dan kami memutuskan untuk menggelar acara sakral ijab Qabul saja, masalah resepsi nggak perlulah, yang penting kami masih bisa punya tabungan untuk bekal masa depan, jadi Emma dan mas Angga mohon untuk menghargai keputusan kami." ucap Emma.        "Sayang... sudah masalah pernikahan, kamu sama Angga nggak perlu ikut mikir, semua biar papa sama Mama yang atur. Gedung, WO, undangan dan semua t***k bengeknya itu urusan papa sama Mama, papa nggak mau ada penolakan, sudah uangnya kalian tabung saja, masalah biaya pernikahan, kalian harus tau bahwa, tugas seorang ayah adalah menikahkan putrinya." kata papa Emma.        "Gimana mas?" tanya Emma pada Angga.        Sementara Angga terlihat meminta pendapat dari ibunya.         "Iya nggak papa... Maaf ya ibuk cuma bisa bantu doa saja." ucap ibu Angga pada Angga.        "Doa tulus dari seorang ibu sudah lebih dari cukup, buat kami berdua bu..." jawab Emma, agar ibu Angga tidak berkecil hati.        Ibu Angga tersenyum sambil mengusap kepala Emma.        "Alhamdulillah acara hari ini sudah berjalan dengan lancar, semua bahagia semua bersuka cita, sekarang mari semua saya persilakan mencicipi masakan Emma, tadi pagi dia sudah ribut-ribut sama ibunya mau masak apa." ucap papa Emma. Yang disambut Emma dengan manyun, karena mencatut namanya begitu saja.        "Papa..." ucap Emma.        "Udah sana aja ibu pakde dan semuanya ke belakang." ucap papa nya.       "Mari bu... Pakde silakan." kata Mama Emma.       "Mari pakde, Tante, ibu mari..." ajak Emma.       "Iya... Iya ayo, mari mari." ucap pakde Angga.       Mereka semua berjalan ke meja makan Emma yang sudah terhidang beragam makanan. Menyisakan Angga dan Emma saja yang masih duduk di ruang tamu.       "Mas Arum mana? Kok nggak ikut, lalu bapak?" tanya Emma.      "Kemarin pas aku pulang, sampai rumah ibu nangis-nangis sambil menceritakan semuanya, jadi beberapa hari karena ibu nggak enak badan, ibu nggak jualan, jadi warung sepi, pas nggak tau kenapa ibu itu pingin aja ke warung buat ambil apa gitu katanya, ehhh pas masuk, ternyata lagi di kamar belakang yang ada di warung itu, bapak sedang mantap-mantap sama wanita lain, ya sejak detik itu pula ibu menggugat cerai bapak, mengusirnya dari rumah, tapi dari pihak keluarga besar bapak enggak terima anaknya diginiin padahal udah tau kan kalau bapak yang salah, ya udah jadi mereka mengambil Arum." tutur Angga.        "Mas aku turut bersedih ya, terus ibu gimana?" tanya Emma kemudian.         "Seperti yang kamu lihat, hari ini dia sangat bahagia. Sebenarnya aku udah nyuruh ibu buat ninggalin suaminya itu sejak lama, setelah aku tau dia selalu mukuli ibu Sampek biru lebam semua. Ya udahlahh semua sudah berlalu, walaupun tanpa sosok suami, ibuk berhak bahagia, itu tugas kita nanti. Ya kan?" ucap Angga.         "Iya mas.. pasti." sahut Emma.         "Btw kamu yang dandanin siapa?" tanya Angga.         "Kenapa jelek ya, aku dandan sendiri mas." Jawab Emma sambil menutupi wajahnya.         "Enggak kok cantik banget malah..." Kata Angga.         "Ahh gombal..." sahut Emma.         "Enggak... Beneran kok kamu cantik." kata Angga.         "Btw mas... Ehmm kita bakalan nikah Minggu depan, cepet banget tuh, undangan gimana, kita bakalan di massa sama mereka kalau nggak kasih undangan." kata Emma.         "Kamu liat aja teman kamu, aku juga, nanti biar aku yang pesen ke Virgo. Temennya Diaz anak Assy B yang juga punya percetakan, kalau misal mama sama papa kamu nitip sekalian nggak papa loh." ucap Angga.         "Gitu ya mas... Yaudah gak papa, undangan aku serahin ke kamu ya." ucap Emma         "Siapp sayang." sahut Angga.        "Aku mulai senin udah libur giliran mas." kata Emma.        "Iya syukurlah... kamu nggak perlu ribet bikin cuti, sayang..." kata Angga, tangannya melingkar di balik punggung calon istrinya.        "Mas Angga belum libur?" tanya Emma.        "Belum kayanya minggu depan deh, soalnya masih nyelesaiin Bremi." kata Angga.        "Yahhhhh..masa iya sih, kita jadi beda shift dong, laahhhh tega bener masa pengantin baru harus LDR karena beda s**t, kamu libur aku masuk, kamu masuk aku libur, nggak bisa dibiarin ini." kata Angga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu Emma hanya tertawa melihat tingkah Angga.        "Aduh mas.. sumpah kamu kaya anak kecil." kata Emma.        "Iihhh beneran sayang, kalau gini ceritanya kita bakalan nggak dapet scene mantap-mantap hehe." kata Angga.        "Yang sabar ya..."hibur Emma, masih menyunggingkan senyum di bibirnya.        Melihat lesung pipit yang terbit di kedua pipi Emma yang putih merona, justru membuat Angga berusaha keras menahan dirinya untuk memberikan kecupan di sana.        "Kamu benar-benar menyiksaku Emma..." batin Angga. ---         Hari ini adalah H-3 menjelang pernikahan, dan kemarin Virgo baru saja mengirimkan pesanan undangan ke kos Angga, hari terakhir Angga bekerja karena harus mengambil cuti mengurus dokumen pra nikah, pakde nya sudah membuatkan surat untuk pindah kawin, jadi pulang kerja Angga akan langsung pulang ke malang untuk mengurusi dokumen-dokumen yang harus dia selesaikan.        "Ehhh serius Ngga, ini kamu beneran nikah sama Emma?" tanya Bayu, begitu menerima undangan dari Emma.        "Emang aku segitunya mau bo ingin kamu, Sampek nyetak undangan segara nyet..." jawab Angga.        "Hehehhee ya nggak gitu maksudku, btw selamat ya, moga cepet dapat momongan." ucap Bayu pada akhirnya.        "Heehhh mendadak banget, pacar kamu hamil?" tanya GL nya.        "Aduhh pak... Nethink Mulu sih, bukannya seneng anak nikah malah dikata yang enggak-enggak." Angga ngedumel.        "Aahahahahhahah ya ya ya, bercanda Ngga. Ya kalau diliat dari sisi ceweknya ya nggak mungkin lah dia hamil duluan, kecuali kamu yang maksa." lanjut GL nya.        "Aduh pak terserah, nih tanda tangan izin cuti saya pak..." kata Angga.        "Kamu itu kemepeten ambil cutinya, kamu masih haru ke malang kan ngurusin di KUA sana." kata GL nya sambil menandatangani form pengajuan cuti.        "Iya pak.. hari ini saya akan kesana, besok pasti udah beres." kata Angga.        "Semoga lancar Sampek hari H, hati-hati kamu dijalan." pesan GL Angga.          Sementara itu, Emma yang share undangan ke grup wa untuk line nya, mendadak grup ramai sampai dia kwalahan membalas satu persatu pertanyaaan mereka.         "Ealahhh sama aja tau, kalaupun berjilbab, ketutup rapat, kalau udah hamil duluan, yang nikah duluan." tulis Rere.          "Heee Njing... Ngomong bisa nggak sih di filter, kek nggak punya otak." tulis Ulfa untuk Rere.          "Hehehhe udahlah kenapa jadi ribut, emang kenapa kalau hamil duluan nikah duluan, daripada hamil digugurin terus nggak dinikahin." balas Emma yang geram.           "Eaaaaaa mbak jago udh keluar taringnya." tulis Mika.           "BTW... selamat ya mbak, akhirnya nikah juga sama mas Angga. Aku nge ship kalian berdua." lanjut Mika.           "Iya makasih Mik..." ucap Emma.           "Maksud kamu apa nulis hamil duluan digugurin nggak dinikahin?" Rere me reply tulisan Emma.           "Dahhh lah mbak jangan nyari topik terus, aku yang anak baru aja udah dengar kok rumor itu." sambar Mika.           "Taik lu pada..." sahut Rere.           "Ehhh si taik ngomong taik..." tulis Ulfa.           Emma segera japri Emaknyya buat menertibkan grup yang mulai tidak kondusif. Ya semua emang tau, kalau beberapa waktu yang lalu, Rere hamil dan berhasil digugurkan, dia sendiri yang cerita ke salah satu anak di line sebelah. Hingga akhirnya cerita itu menyebar menjadi rahasia umum.       
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN