Pernikahan mereka sudah berjalan 1 Minggu. Malam Minggu ini mereka terjebak hujan hingga tidak bisa pulang maupun sekedar jalan-jalan.
Emma menutup laptopnya lalu memijit kepalanya yang pusing. Angga memandangnya dari tempatnya merebahkan diri.
Dia mengambilkan Emma segelas air minum dan memberikan pada Emma, lalu membuka sekotak Snack kesukaan Emma.
"Makasih mas..." ucap Emma.
"Iya sayang..." Kata Angga.
"Ehmm... Mas kamu tau nggak?" kata Emma.
"Apa?" tanya Angga.
"Besok pagi kita keacara nikahannya Ulfa sama Rama." kata Emma.
"Oohh ya udah, kita datang, waktu itu mereka kan juga datang ke pernikahan kita." kata Angga.
"Ehmm sebenarnya Ulfa udah hamil.." kata Emma pelan.
"Iya terus.. ya nggak papa lah, kan cowoknya mau tanggung jawab." kata Angga.
Emma mengangguk-angguk, tapi Angga menangkap Emma kurang puas dengan jawaban Emma.
"Atau jangan-jangan kamu pingin hamil juga?" tebak Angga. Yang langsung membuat kedua pipi Emma blushing.
"Ya sabar ya, baru juga seminggu, nanti kalau udah saatnya kita pasti punya anak juga kok." kata Angga.
Sekali lagi Emma mengangguk.
"Atau coba di tes gimana?" tanya Angga.
"Udah mas.. aku udah beli testpack dan udah aku coba tes, tapi cuma satu garis aja yang muncul." kata Emma.
"Ehmm... Sabar sayang ya." kata Angga.
Emma mengangguk lalu tiduran di sebelah Angga, sebenarnya dia memikirkan kata-kata Azizah tadi di line. Yang mengatakan bahwa, salah satu penyebab seorang istri sulit hamil bukan hanya dari pihak wanita saja, namun pria juga.
"Apalagi Angga kayanya doyan banget tuh yang namanya rokok sama miras, ya nggak sih Emm, apa aku yang sok tau." kata Azizah menimpali curhatan Emma.
"Iya Mak.. dan kaya nya nge-drug juga." tambah Emma dengan muram.
Mengingat curhatan tadi siang Emma berniat menanyakan hal itu pada suaminya dengan hati-hati.
"Maaf mas, boleh nanya nggak?" tanya Emma pada Angga sambil menoleh kearah suaminya yang berbaring menatapnya dari tadi.
"Boleh... Kenapa enggak." sahut Angga.
"Ehm.. mas, masih suka minum alkohol?" tanya Emma ragu-ragu.
Angga menggeleng,
"Enggak kenapa sayang? Ya terakhir waktu kita di villa itu." Kata Angga.
"Kalau nge-drug?" tanya Emma, dan jawaban masih sama, Angga menggelengkan kepala lagi.
"Beneran?" ulang Emma.
"As you wish..." jawab Angga.
"Aku tau kamu nggak menyukai hal-hal seperti itu jadi sekuat mungkin aku menahan untuk tidak ngelakuinnya lagi." Lanjutnya.
Terbit senyuman di bibir Emma. Dia lega setidaknya pikiran negatif di otaknya bisa dia kesampingkan saat ini.
"Kenapa?" tanya Angga.
"Enggak kok mas, nggak papa, nanti kurangin rokoknya ya mas, soalnya aku suka sesak nafas." kata Emma.
"Iya sayang.. apalagi nanti kalau kita punya baby, aku bakalan berhenti total dari rokok. Aku janji." kata Angga.
"Makasih mas.." jawab Emma.
"Adrian masih suka gangguin kamu nggak?" tanya Angga.
"Ehm... Pak Adrian, e... Enggak kok mas, dia nggak pernah lagi datang ke line aku." jawab Emma, dia bohong, karena kemarin ketika Emma mengantarkan satu lagi sample repair ke inspect dia dipanggil Adrian untuk masuk ke ruangannya. Begitu masuk ternyata dia tidak melihat siapapun di sana, Adrian langsung mengunci pintu dan mengurung Emma dengan kedua lengan kekarnya, dia mendekap Emma dari belakang, meremas d**a Emma dan lalu membalikkan Emma dengan kasar dan mencium Emma dengan sangat bernafsu. Emma yang ketakutan berusaha melepaskan diri. Begitu dia ingin berteriak, Adrian membungkam mulut Emma dengan lumatan yang kuat.
Tiba-tiba pintu diketuk, kesempatan buat Emma untuk melepaskan diri. Adrian melepaskan Emma, dia buru-buru merapikan jilbabnya lalu membuka kunci, ternyata Dita. Staff Adrian. Penyelamatnya kala itu. Emma tidak tau lagi apa yang bakalan terjadi padanya kalau saja Dita tidak masuk kala itu.
"Beneran kamu nggak bohong?" tanya Angga.
Emma mengangguk.
---
Hari berganti bahkan bulan berganti waktu berlalu begitu cepat. Bahkan Ulfa baru saja melaksanakan prosesi 3 bulanan untuk kehamilannya. Semua bahagia kecuali Emma yang menyembunyikan kemurungannya. Istirahat ini pun, dia lalui dengan tanpa semangat, sudah 3 bulan pernikahan mereka, namun belum juga ada tanda-tanda kehamilan yang dirasakan oleh Emma.
"Bentar lagi mbak Emma juga hamil kok." hibur Mika.
"Capek-capek ngangkang tapi nggak ada hasilnya, ahh mantap." ucap Rere yang sengaja dia kencengin suaranya agar terdengar oleh Emma.
"Udahlah mbak jangan dengerin, ya kali mbak Ulfa emang hamil duluan, jadi habis nikah udah pasti ada janin dalam perutnya, aku yakin banget proses bikinnya juga udah lama banget." kata Mika.
"Jangan kenceng-kenceng Mika, nanti dia denger kasian juga." kata Emma.
Mika buru-buru melihat kedepan, memastikan Ulfa tidak mendengar perkataannya. Beda banget dengan Emma, wajah Ulfa terlihat berseri-seri. Sementara Emma terlihat murung dan pucat.
"Yaudah mbak.. jangan sedih ya. Nih aku ada sosis mau?" tanya Mika.
Emma buru-buru menutup hidungnya mual sekali mencium bau sosis yang ditawarkan oleh Mika.
"Enggak Mik... Makasih, aku lagi nggak nafsu makan, kurang enak badan." jawab Emma yang dari semalam memang demam dan batuk.
Sampai pulang kerja pun mood nya kurang baik, dia memutuskan untuk tidur tanpa mengganti bajunya lebih dulu. Angga yang memahami kondisi psikis istrinya tidak mau mengusiknya, dia menarik selimut dan menyelimuti Emma, dia sendiri sedih setiap hari istrinya murung karena tak kunjung hamil. Sementara di line dia selalu dibandingkan dengan Ulfa yang sudah 3 bulan usia kandungan.
Dia biarkan Emma istirahat agar lebih tenang pikirannya. Kemudian Angga melangkah kekamar mandi dan mencuci pakaian kotor mereka. Usai mencuci dia menjemur pakaian kemudian keluar, tidak tau tujuannya akhirnya dia memilih menghampiri Aji di kosnya. Tak terasa dia disana sampai hari gelap. Dia buru-buru pamit, takut Emma bangun dan mencarinya.
Namun begitu dia masuk, dilihatnya Emma masih tertidur. Dia usap ke kening istrinya yang berkeringat. Demam.
"Sayang... Bangun, kita kedokter yuk, suhu badan kamu tinggi banget." bisik Angga.
Perlahan Emma membuka mata.
"Mas badanku sakit semua. Aku nggak mau kerja lagi." ucapnya sambil menangis, sebenarnya bukan hanya kondisi fisiknya yang sakit melainkan mentalnya juga down banget.
"Iya sayang kamu resign, biar aku aja yang kerja, kamu istirahat ya? Atau mau ke rumah mama, aku antar ya." kata Angga.
Emma menggelengkan kepala. Dia takut mamanya juga berharap akan segera hadirnya seorang cucu.
"Enggak mas, aku mau nemenin kamu di kos." jawab Emma.
"Ya udah nggak papa, kamu di kos aja, kamu kan masih bisa lanjutin novel kamu." kata Angga.
"Iya mas.." Kata Emma.
Angga memeluk istrinya membiarkan segala kemurungan dan beban istrinya mengurai disana.
"Mas janga kenceng-kenceng, d**a ku sakit." Kata Emma sambil melepaskan diri, padahal Angga sama sekali tidak memeluknya dengan erat, sepertinya Emma sengaja menjaga jarak darinya saat ini.
"Dari beberapa hari yang lalu beneran sakit mas, di sentuh aja sakit." kata Emma, yang wajahnya bertambah moody.
"Mau kuantar periksa ke dokter?" tanya Angga. Emma hanya menggelengkan kepala kemudia. Kembali merebahkan diri.
"Enggak usah mas, biasanya kalau mau haid selalu seperti ini, tapi kali ini bener sakit banget." kata Emma.
"Mungkin sangking capeknya kamu sayang, harusnya kamu emang istirahat aja di kos, nggak perlu kerja." kata Angga sambil memijit kaki Emma.
"Iya mas..." kata Emma.
"Mas aku pingin bubur kacang hijau yang dekat perempatan pabrik, beli yuk." ajak Emma kemudian.
"Kamu di rumah aja, biar aku yang beliin ya, nitip apa lagi?" tanya Angga.
"Sama obat penurun panas mas." kata Emma.
"Iya sayang... Kamu tunggu ya." Pamit Angga mencium kening istrinya.
"Makasih mas, hati-hati ya." kata Emma.
15 menit kemudian Angga kembali, bertepatan dengan Emma yang baru keluar dari kamar mandi. Kakinya lemas, penglihatannya kabur, demamnya tinggi, dia berpegangan pada tembok dan berusaha menahan beban badannya agar tidak terjatuh.
"Sayang kamu nggak papa?" tanya Angga sambil cepat-cepat menahan badan Emma agar tidak terjatuh. Emma pingsan, sedetik saja dia terlambat Emma pasti tersungkur dilantai.
"Emma... Emma.." Angga berusaha menyadarkan istrinya.
Dia berinisiatif membawa Emma kedokter, karena istrinya memang sudah sakit dari kemarin. Namun tak bisa kalau kondisi Emma pingsan seperti ini.
"Ji... Kamu datang ke kos aku sekarang ya, aku butuh bantuan kamu, istriku pingsan, aku nggak bisa bonceg dia pake motor sendirian." kata Angga.
"Emma kenapa? Iya aku kesana sekarang." jawab Aji.
"Biar aku yang bawa motornya." kata Aji begitu melihat kondisi Emma, saat dirinya sampai di kos Angga.
"Makasih ya.." ucap Angga.
Angga menggendong Emma secara bridal kemudian, menaikkan Emma keatas motor Aji, begitu Aji sudah naik duluan.
"Sejak kapan dia sakit?" tanya Aji sambil memacu motornya dnegan kencang menuju UGD.
"Sejak kemarin dia demam, tapi menolak aku ajak periksa, bahkan tadi dia masih kerja." kata Angga.
"Kita ke UGD aja langsung ya." kata Aji.
"Iya Ji.." sahut Angga.
Begitu sampai di RS Medika, mereka langsung disambut brankar dan Aji membantu memindahkan Emma dari atas jok motornya. Mereka membawa ke ruang UGD. Dan cepat tanggap sekali dokter juga perawat di rumah sakit ini terhadap pasien.
Bersamaan dengan dipasangnya infus di tangan Emma, dia siuman. Dia melihat kearah suaminya.
"Mas... kenapa kamu bawa aku kerumah sakit?" tanya Emma.
"Kamu harus dirawat biar sembuh sayang, udah dari kemarin kamu demam tinggi." kata Angga.
"Mbak istirahat yang tenang ya, oh iya, selain demam apalagi yang dirasakan?" tanya perawat.
"Ehm saya gampang pusing terus p******a saya sakit banget akhir-akhir ini." jawab Emma.
Seorang dokter yang berdiri di sebelah perawat lantas menempelkan stetoskopnya untuk memeriksa Emma.
"Sudah menikah ya?" tanya dokter berjilbab itu.
"Iya dok.." jawab Emma.
"Selamat ya, ibu sedang hamil." kata dokter tersebut dengan tersenyum.
Emma melongo mendengar penjelasan dokter. Matanya berkaca-kaca.
"Istri saya hamil?" tanya Angga.
"Iya pak... Selamat ya." jawab dokter dengan senyum yang sama.
"Haid terkahir kapan Bu?" tanya dokter kemudian.
"Tanggal 12 bulan kemarin dok." jawab Emma mengingat-ingat hari terakhir haid nya.
Dokter dan perawat terlihat memutar kalender dan menghitung seusatu yang tidak diketahui Emma.
"Sudah 6 Minggu terhitung dari sekarang Bu, di jaga baik-baik ya, makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup dan nggak boleh stres, saya sarankan minum s**u juga untuk ibu hamil." Lanjutnya.
"Iya dok makasih." ucap Emma, matanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Saya sarankan, observasi disini dulu, soalnya demam itu bahaya buat janin, apalagi saat hamil muda. Haram hukumnya ya..." lanjut dokter.
"Iya dok.." Jawab mereka.
"Saya tinggal ya, ibu istirahat, nanti kalau infusnya sudah habis bisa menghubungi kami, untuk tindakan selanjutnya dari observasi." jelas Dokter.
"Iya dok terimakasih." kata Emma.
"Selamat ya... Kalian hebat, bakalan jadi orang tua setelah ini. Aku kasih tau Seah dia pasti seneng banget." kata Aji.
"Iya makasih Ji...
"Aku kasih tau Seah pasti dia seneng banget." kata Aji.
Tidak butuh lama, bahkan seperti OK GOOGLE, Seah bersama Alya langsung datang, dia memeluk Emma dengan suka cita.
"Udah resign aja." kata Seah.
"Iya Se... Aku udah nunggu bayi ini lama banget, iya sih aku tau masih ada yang lebih lama dari aku, tapi 3 bulan bagiku udah lama banget se, aku tiap hari nangis tau.. apalagi Ulfa udah hamil labuh dulu, Wahh kacau banget, akuuu..." kata Emma.
"Yaa tapi kak udah terbayar sekarang mbak Emm..." kata Alya.
"Kalian berdua, nggak ada cita-cita buat nyusul aku nih." kata Emma.
"Aduhh mbak Seah aja duluan kalau aku masih fokus kuliah bentar lagi lulus." kata Alya.
"Ajii.. ditanya Emma tuh, nggak ada cita-cita mau nyusul dia kah?" tanya Seah pada Aji.
Aji terlihat menggaruk-garuk tengkuknya.
"Iya sih... Ya pasti ada cuma hehehe bentar deh nunggu aku kelarin cicilan KPR rumah baru deh tuh aku comot dia dari rumahnya." kata Aji.
Dan pembahasan para pria jadi berubah seputar cicilan KPR sementara pembahasan wanita jadi berubah dengan mimpi masa depan.
"Btw mbak besok masih masuk kerja?" tanya Alya.
"Ehmm kayanya aku bawa surat resign aja, ya paling approval 7 hari kerja." kata Emma.
"Yesss kita masih bisa ketemu, aduh galau aku kalau mbak Emma Resign, pindah kos aja aku udah galau apalagi resign, gada tempat curhat." kata Alya.
"Ya ampun Al.. kamu kan bisa ke kos aku, Mas Angga juga nggak tiap hari ada kos kan." Kata Emma.
"Yahh tau takut ganggu istirahatnya mbak." Kata Alya.
"Duuhh kamu nih kaya sama siapa aja Al..."Kata Emma.