Emma sudah diizinkan pulang pagi ini, sampai di kos, dia membuka laptop nya sambil sesekali tersenyum sendiri. Sesaat setelah laptop nya nyala, dengan antusias Emma mengetikkan sesuatu disana. Angga yang baru saja melepas jaketnya dan menggantungnya di belakang pintu, tersenyum lega melihat kebahagian di wajah istrinya.
"Kamu lagi ngapain sayang?" tanya Angga sambil duduk di samping Emma.
"Aku bikin surat pengunduran diri mas.." jawab Emma.
Angga melongok ke monitor, lalu menoleh kearah istrinya. Sambil mengusap kepala Emma.
"Calon mama yang baik." puji Angga, sambil melingkarkan tangannya ke perut Emma.
"Hehehe... Tapi mas kaya nya belum langsung di ACC deh, apalagi emakku agak ruwet, dia pasti minta penggantiku dulu baru aku boleh di off, dan lagi masih ada ulangtahun perusahaan juga, paling juga nunggu event usai." kata Emma.
"Selama kerjaan kamu nggak berat, ya nggak papa sayang, tapai kalau kerjaan kamu berat terus harus jalan terus ya aku maksa kmu buat berhenti." kata Angga.
"Iya mas aku ngerti kok batasannya." kata Emma.
"Aku sayang kamu.." ucap Angga tiba-tiba sambil mengecup bibir Emma.
"Aku juga sayang kamu banget banget..." balas Emma.
"Kamu pingin makan apa, atau pingin sesuatu gitu, kaya nyidam?" tanya Angga.
"Enggak mas.. belum kok." jawab Emma.
"Beneran, ya udah sini kamu rebahan, biar aku pijitin." kata Angga kemudian.
"Aduh mas kamu random banget deh." kata Emma, tapi dia nurut saja dan merebahkan diri.
"Sehat-sehat sayang ya." ucap Angga sambil memijit kaki Emma.
"Makasih mas.. "ucap Emma.
Beberapa saat kemudian, jujur Emma tidak tega melihat Angga memijit kakinya sedangkan dia sendiri juga capek.
"Sayang hari ini aku nggak masuk kerja." kata Angga.
"Kenapa mas? Kamu sakit?" tanya Emm cemas.
"Enggak, aku pingin nemenin kamu seharian, besok aja masuk, kamu juga kan." kata Angga.
"Iya mas.. ya udah sini." panggil Emma sambil menepuk-nepuk bantal di sebelahnya.
"Bentar sayang, masih mau pijitin kamu." kata Angga.
"Udah mas... Aku udah sehat, aku nggak capek, kamu yang harusnya istirahat. Semalam udah begadang jagain aku juga." kata Emma.
"Ya udah.." kata Angga pada akhirnya memilih menuruti perkataan istrinya.
"Habis ini kita sarapan apa mas, biar aku masakin buat kamu." kata Emma.
"Udah nanti biar aku yang beli lauk pauk di bawah, kamu istirahat aja sayang." kata Angga.
"Mas kamu manjain aku banget deh, takutnya jadi kebiasaan nanti aku jadi males." Kata Emma
"Nggak papa, yang penting kamu sama anak kita sehat, dokter bilang apa? fisik kamu lemah, kandungan kamu juga masih lemah, jadi harus banyak istirahat, udah jangan mikir ini itu, biar aku yang urus, kamu tau waktu kamu pingsan, rasanya hatiku hancur banget, aku nggak bisa kasih kamu kehidupan yang lebih baik dari hidup kamu sebelumnya, aku ngerasa bersalah banget sama kamu sayang." kata Angga.
"Mas kamu ngomong apa sih, aku nggak pernah minta apa-apa sama kamu, jadi kamu nggak perlu mikir macam-macam mas, nih kamu udah kasih aku kehidupan baru dirahim aku, aku sayang banget sama kamu, sama anak kita, dan ketika aku menerima lamaran kamu, aku udah mutusin hidup sama kamu gimanapun keadaanya mas, udah kamu jangan suka bandingin hidup aku yang dulu sama sekarang mas, aku sayang kamu apa adanya." kata Emma sambil membingkai wajah suaminya dnega kedua telapak tangannya.
"Makasih sayang, aku janji, aku akan berusah menjadi ayah dan suami yang baik untuk kalian berdua".
Kata Angga meraih telapak tangan Emma, dari wajahnya kemudian mencium dan menggenggamnya dengan erat.
"Makasih Ayah..." ucap Emma menirukan suara anak kecil, yang dia buat dekan itu suara dari anak mereka.
"Sayang aku laper banget, aku beli makanan dulu di kantin bawah ya, kamu nitip apa?" tanya Angga.
"Apa aja mas, sama deh kaya menu kamu mas." kata Emma.
"Baiklah tunggu bentar ya." pamit Angga.
Emma tengah tidur-tidur ayam saat Angga kembali, dia membawa dua bungkus nasi dan ayam goreng lengkap dengan sambal tomat kesukaan Emma.
"Ngantuk sayang?" tanya Angga.
"Hehe iya mas.." jawab Emma.
"Waahhh..." ucap Emma begitu melihat menu yang terhidang di depannya.
"Kamu suka kan?" tanya Angga.
"Suka banget mas." jawab Emma.
"Hmmm aku ngerasa kaya istri paling bahagia di dunia pagi ini..." kata Emma.
"Ya kamu emang harus bahagia sayang." kata Angga tersenyum.
"Sini aku suapin, makan yang banyak biar sehat." lanjutnya.
Emma membuka mulutnya lalu sesendok nasi masuk ke mulutnya. Tapi baru saja dia mengunyah bebrapa kali, lalu mual dan berusaha menahannya agar nasi yang baru saja masuk tidak termuntahkan. Namun usahanya sia-sia, mualnya makin parah, aroma nasi hangat yang dulu dia suka jadi sangat membuangnya mual apalagi sudah terlanjur masuk ke mulut.
"Sayang..." ucap Angga berusaha membantu Emma menahan agar tidak memuntahkann makanannya.
Emma menutup rapat-rapat mulutnya lalu berdiri dan berlaku kekamar mandi, lalu memuntahkan semuanya. Dia sampai memegangi perutnya, karena sudah tak ada lagi yang dimuntahkan namun masih mual tak ada habisnya. Sakit banget rasanya. Dia memutar keran di wastafel sambil membasuh mulutnya. Angga datang membantu Emma sambil mengurut tengkuknya.
"Mas aku nggak bisa makan nasi." ucap Emma.
Angga terdiam dia bingung, kalau tidak makan nasi, makan apa, Emma bakalan sakit dan keurangan energi.
"Mual mas, sakit banget rasanya, muntah sampai nggak keluar apa-apa lagi." jelas Emma.
"Kalau mas beliin s**u mau?" tanya Angga.
"Kita coba aja mas." jawab Emma.
Angga menuntun istirnya kembali ke depan. Namun begitu mencium aroma nasi dia langsung menutup mulutnya rasanya mual lagi. Angga buru-buru menutup nasi itu dan membawanya menjauh. Emma berjalan dengan lemah menuju tempat tidurnya. Angga mengambil minyak kayu putih, lalu mengoleskan di pelipis dan leher Emma.
"Mas maafin aku, kamu nggak jadi makan." ucap Emma.
"Nggak papa sayang, nanti aja aku makan kalau kamuidah tidur, aku bisa kok makan diluar." kata Angga.
"Maafin aku mas.." ulang Emma.
"Udah sayang nggak papa kok." kata Angga dia menarik selimut dan menyelimuti Emma.
"Jilbabnya mau dilepas?" tanya Angga, Emma mengangguk. Angga lantas membuka jilbab Emma dan meletakkan diatas meja.
"Nak kamu nggak boleh nakal sama mama, kalau kamu nggak mau mama makan nasi, mama bisa sakit, nggak boleh nakal ya." ucap Angga sambil mengelus perut Emma yang masih rata di balik selimut.
"Sayang aku beliin s**u bentar ya, di minimarket depan kos ada kok, kau mau yang rasa apa?" tanya Angga.
"Cokelat mas." jawab Emma.
"Okkee sayang.." kata Angga.
"Mas jangan lama-lama ya." pesan Emma.
"Iya sayang, emangnya kenapa?" tanya Angga.
"Aku pingin ditemenin." jawab Emma.
"Ohhh iya sayang siapp.." Kata Angga.
"Jangan noleh kalau di godain mbak-mbak di bawah." ucap Emma. Angga hanya tersenyum. Perubahan hormon yang mendadak lucu, Emma jadi cemburuan.
'Iya sayang..." jawab Angga.