Hari yang dinanti akhirnya tiba. Irene berdiri di depan cermin, sibuk memoles wajahnya dengan riasan tipis. Gaun sederhana berwarna marun membalut tubuhnya dengan anggun. Rambutnya digulung rapi, beberapa helai sengaja dibiarkan terurai untuk memberikan kesan natural. Di sisi lain, Darrel duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut. Tangannya terlipat di d**a, bibirnya mengerucut, dan sorot matanya penuh protes. “Apa aku secantik itu sampai kau terus menatapku begitu?” goda Irene sambil tersenyum tipis. Darrel mendengus. “Bukan secantik itu. Tapi terlalu cantik! Aku tidak rela orang lain melihatmu.” Irene tertawa kecil, lalu mengambil lipstik di meja rias dan mengoleskannya ke bibir. “Kau berlebihan, Darrel.” “Aku serius!” Darrel bangkit berdiri dan berjalan ke arahnya. “Apa gaun ini

