"Arrrrgggghhhhhh, kenapa bisa ketahuan!" Rustam membalik meja dengan kasar, sehingga pecahan botol minuman dan beberapa gelas kecil berserakan di atas lantai. Empat orang memakai tuxedo hitam yang berdiri sejajar di hadapannya hanya menunduk. "Mereka sudah menabuh genderang perang! Berani-beraninya mereka menantang kita!!!" Rustam menggeram, tangannya terkepal kuat. "Suruh beberapa pembunuh bayaran untuk membunuh seluruh anggota intelijen yang sekarang berada di Paris. Lalu, seret mayat Reserse narkoba Bambang Wijayanto, dan juga Briptu Aldo Flavio ke sini!" Rustam mengepalkan tangannya geram. "Ambil otaknya dari tempurung kepala, saya penasaran terbuat dari apa sampai berani-beraninya bermain-main dengan kita!" "Baik, Pak!" Keempat pria itu mengangguk. Kemudian, berlalu dari hadapan

