Selxi sudah kembali ke kamar asrama.
Tentu saja dengan berbagai perjuangan setelah Dean tiba-tiba menghampirinya tadi.
"Aku bisa gila, bagaimana caranya menghindari tatapan-tatapan itu," ucap Selxi sambil melihat ke luar jendela.
Sebenarnya tidak ada yang berbeda di luar, hanya saja ia ingin melihat kerumunan yang ada di bawah.
"Apa maksudnya tiba-tiba mengajakku berbicara," gumam Selxi sambil berjalan mondar-mandir di kamar.
"Ehm ..., atau tadi dia salah orang, mungkin mau mengajak ngobrol kenalannya yang mirip sama aku." Selxi masih mondar-mandir sambil berpikir keras, tanpa sadar tangannya juga bergerak memperagakan apa yang dia ucapkan.
"Bisa jadi sih."
"Eh ... tapi kan manusia-manusia di dimensi ini, secara aura dan perawakan, nggak ada yang bener-bener mirip sama aku. Kayaknya orang sekuat dia, nggak mungkin semudah itu salah mengira orang, terus apa?"
"Cuma iseng?"
"Isengnya dia terlalu berlebihan sih biasanya."
"Tapi aneh sih."
Selxi terus menerus berjalan di kamarnya, semakin rumit pikirannya maka tempo jalannya akan semakin cepat.
Jika dia mulai menemukan arah, tempo jalannya melambat.
Tapi jika dia bingung lagi, temponya akan meningkat drastis.
Entah berapa lama ia terus menerus seperti itu hingga terdengar bunyi pintu kamarnya dibuka.
Selxi langsung berlari kecil ke kursi dan langsung duduk.
Walaupun badannya diam di kursi, tapi Anna dan yang lainnya bisa melihat keringat yang muncul dan mengalir di pelipisnya.
Anna, Aida, dan Naomi melihat sekeliling, tidak ada tanda-tanda kerusakan.
"Habis ngapain?" tanya Anna kebingungan.
Satu-satunya hal yang bisa membuat seseorang berkeringatan segitunya di dalam kamar seharusnya hanya latihan ilegal.
Maksudnya latihan yang dilakukan di dalam kamar walaupun secara peraturan sebenarnya tidak boleh karena akan merusak properti.
Anehnya, mereka tidak melihat bekas latihan seperti itu. Makanya mereka bingung.
Selxi berpikir keras, tapi tidak menemukan jawaban yang normal. Akhirnya ia memilih untuk tidak menjawab dan hanya tersenyum ke arah mereka.
Anna, Aida, dan Naomi hanya bisa balik tersenyum karena mereka juga tidak berniat memaksa Selxi untuk menjawab.
"Berjalan lancar?" tanya Selxi berusaha mencari topik.
Selxi memang sempat ke Aula Utama bersama Naomi tadi, tapi ia tidak selalu duduk di kursi penonton, sehingga tidak melihat keseluruhan pertandingan. Apalagi saat Dean menghampirinya, ia langsung kembali ke asrama dengan kecepatan cahaya.
"Aman," jawab Naomi dengan jempol di tangannya.
Anna, Aida, dan Selxi melihat ke arah Naomi. Padahal hanya dia yang belum melakukan pertandingan babak kedua.
"Maksudnya pertandingan Anna dan Aida yang aman, ini aku mewakili," jelas Naomi.
Mereka bertiga mengangguk-angguk menanggapi klarifikasi dari Naomi.
Jadwal pertandingan Naomi sudah keluar juga, ia mendapat jadwal besok pagi.
Menariknya lagi, jadwal Naomi diapit oleh pertandingan anak-anak D'VABER. Jadi kemungkinan besar pertandingannya akan cukup ramai dengan anak-anak yang menantikan pertandingan D'VABER.
Dari awal jadwalnya keluar, Naomi sudah banyak bergumam sendiri.
Ia sebenarnya tidak masalah ada banyak anak yang menonton pertandingannya, hanya saja Naomi tidak mau mereka membandingkannya dengan pertandingan sebelum atau sesudahnya.
Karena tentu saja kekuatan Naomi tidak sehebat anak-anak D'VABER.
"Tenang aja, semua orang tahu kok," ucap Anna saat melihat wajah khawatir Naomi.
Naomi menoleh ke arah Anna, menunggunya untuk melanjutkan ucapannya.
Aida dan Selxi juga ikutan menoleh ke arah Anna dengan wajah penasaran.
"Tahu kalau nggak sekuat D'VABER," lanjut Anna setengah tertawa.
Naomi yang awalnya berharap Anna mengatakan hal yang akan membuatnya bersemangat langsung melempar bantalnya tepat ke wajah Anna.
"Bercanda bercanda ..., tapi fakta nggak sih?" ucap Anna dengan wajah jahilnya.
"Iya fakta sih, tapi nggak usah diomongin juga," balas Naomi sambil menatap tajam ke arah Anna.
Keesokan paginya Naomi sudah pergi ke Aula Utama bahkan sebelum Anna, Aida, dan Selxi bangun.
Ia sudah bilang dari malam sebelumnya bahwa akan ke Aula Utama jauh sebelum pertandingannya untuk menonton dan mempelajari pertandingan-pertandingan yang sedang berlangsung.
Anna dan Aida langsung bersiap-siap setelah bangun.
Selxi awalnya menolak ikut, tapi setelah diajak berkali-kali atau lebih tepatnya dipaksa, akhirnya ia ikut.
Tentu saja Selxi ikut dengan berbagai persiapannya, sampai-sampai Anna dan Aida mengomel karena harus menunggu lama.
"Kalau malas nunggu, tinggalin aja," ucap Selxi sambil berusaha merapikan topinya.
Anna dan Aida menatap tajam ke arah Selxi.
Mereka tahu kalau mereka pergi ke Aula Utama duluan, Selxi tidak akan pernah menyusul.
"Daripada mengatakan omong kosong, mending buruan," ucap Anna dengan tegas.
Selxi melihat Anna dan Aida dari cermin, lalu hanya tersenyum tipis.
Setelah menunggu beberapa menit lagi, akhirnya mereka bertiga menuju ke Aula Utama.
Selama perjalanan menuju Aula Utama, entah kenapa Selxi merasa lingkungan akademi lebih sepi dibandingkan sebelumnya.
Kemana mereka semua? gumam Selxi dalam hatinya.
Tentu saja pertanyaan Selxi terjawab saat mereka sampai di Aula Utama. Semua kursi penonton penuh terisi dan mereka bertiga harus menonton sambil berdiri.
"Popularitas mereka memang nggak main-main," gumam Aida sambil melihat perlahan kursi penonton dari ujung sampai ujung. Hasilnya nihil, semua terisi penuh.
Untungnya masih banyak tempat untuk berdiri sehingga mereka bisa memilih tempat yang strategis.
"Kalau babak final, harus datang beberapa jam sebelum pertandingannya. Kalau nggak, bahkan masuk ke Aula Utama aja belum tentu bisa," bisik Aida pada Selxi.
Selxi hanya mengangguk-angguk.
Selxi bisa melihat anggota D'VABER yang tidak bertanding di tempat mereka duduk biasanya. Entah karena mereka datang lebih cepat atau memang tempat itu seperti disediakan khusus untuk mereka,
Pertandingan yang sedang berlangsung adalah pertandingan Varen, si pengguna panahan.
Selxi bisa melihat bagaimana Varen menghujani lawannya dengan panah.
Sekilas Varen memang terlihat hanya menghujani lawannya dengan anak panah, tapi jika dilihat dengan lebih teliti lagi, ada pola serangan yang detail di dalamnya.
Varen tidak membuang sihirnya untuk melakukan p*********n acak secara membabibuta, tapi ia menyerangnya ke titik-titik vital.
Selxi bisa melihat polanya dengan jelas. Gerakannya bisa dibilang sebagai gerakan efektif yang hanya bisa dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Karena kalau musuh bergerak-gerak. Anak panah itu tidak akan mengenai titik vitalnya.
Kecepatan Varen sangat bagus, tapi Selxi yakin jika bertemu dengan lawan yang pergerakannya susah untuk diprediksi dan gerakannya sangat cepat, pola serta cara menyerangan Varen pasti akan berubah drastis.
"Menarik," gumam Selxi, matanya sangat fokus melihat pergerakan Varen dan anak panahnya.
"Apanya?" Tiba-tiba ada suara yang tidak asing lagi. Suaranya terdengar sangat dekat dan berasal dari sebelah kanan Selxi.
Perasaannya tidak enak, apalagi Selxi bisa melihat dari sudut matanya, ekspresi wajah Anna dan Aida yang kaget saat melihat ke arahnya.
Selxi menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
Perlahan ia menoleh ke arah kanan dan benar saja. Lagi-lagi Dean berdiri di sebelahnya, tentu saja dengan sedikit menunduk untuk menyesuaikan tinggi Selxi.
"Kenapa orang ini suka sekali menggangguku," ucap Selxi dalam hati.