LIMA BELAS - PERCAKAPAN ANEH

903 Kata
Entah kenapa kali ini insting Selxi mengatakan bahwa mau tidak mau ia berpasrah, karena sepertinya manusia di sebelahnya ini tak akan berhenti mendatanginya secara tiba-tiba. Walau sebenarnya ada perasaan menyesal yang muncul, karena Dean tidak berhenti bertanya ke Selxi. Meskipun Selxi memilih untuk tidak menjawab, Dean akan terus menerus menanyakan hal yang sama sampai Selxi menjawab. Setahu Selxi, Dean cukup sibuk untuk melakukan hal-hal seperti ini. "Jadi, apa yang menarik?" tanya Dean untuk kesekian kalinya. Selxi sekarang duduk di barisan kursi D'VABER. Sebenarnya sedari tadi memang ada satu kursi kosong di tempat mereka, sepertinya kursi anggota D'VABER yang sedang bertanding, tapi entah kenapa sekarang Selxi malah mendudukinya. Lebih tepatnya Dean yang menyeret dan memaksanya duduk disitu. Tentu saja awalnya Selxi menolak dengan tegas, tapi Dean terus menerus mengajaknya duduk di tempatnya sambil menunjuk-nunjuk kursinya. Sebelum semakin menarik perhatian lagi, mau tidak mau Selxi mengangguk dan mengikutinya. "Apa yang ...." Sebelum Dean menyelesaikan pertanyaannya, Selxi akhirnya menjawab, "Pola." "Oh ... pola serangannya. Kenapa dengan pola serangannya?" Dean melanjutkan pertanyaannya lagi. Selxi memang tidak berharap Dean langsung mengakhiri percakapan, melihat Dean yang dengan sangat rajin menanyainya satu pertanyaan yang sama, sepertinya dia juga akan serajin itu untuk membuat pertanyaan baru untuknya. "Menarik," jawab Selxi dengan singkat. "Oke, ganti pertanyaan. Kenapa pola serangannya menarik?" Dengan cepat Dean mengganti pertanyaannya. Selxi melirik Dean dengan tatapan tajam. Mata Dean fokus pada pertandingan, tapi tubuhnya condong ke Selxi dan terus menerus mengajaknya berbicara. "Efektif," jawab Selxi lagi. Dean mengerjapkan matanya beberapa kali, "Ini pengaturannya memang sekali buka mulut itu satu kata doang? Gimana cara ngubahnya ya." Lagi-lagi Selxi mengacuhkannya, ia hanya fokus melihat pertandingan. "Apa aku tanya temen-temennya yang tadi ya?" Dean langsung mencari Anna dan Aida lalu beranjak dari tempat duduknya. Sebelum sempat melangkah, Selxi sudah memegangi pergelangan tangan Dean dan menatapnya dengan tajam. "Oh, tidak boleh?" Selxi tidak menjawab apapun, tapi ia tidak melepaskan tangan Dean. "Oke oke, aku nggak tanya mereka ... untuk sekarang." Dean duduk kembali. Selxi menatapnya lagi dengan wajah kesal. "Maksudnya tidak tanya mereka sama sekali untuk sekarang dan kedepannya." Dean merevisi kata-katanya setelah melihat tatapan seram dari Selxi. Sebenarnya Dean tidak takut dengan tatapan Selxi, tapi bertanya ke teman-teman Selxi juga bukanlah hal yang penting. "Jadi bagaimana?" tanya Dean lagi. "Kenapa aku harus menjelaskan?" Selxi bertanya balik. "Karena aku bertanya dan mau jawaban panjang," jawab Dean dengan cepat. "Kenapa bertanya?" "Karena aku penasaran." "Kenapa penasaran?" Elisya yang duduk di sebelah Dean dan menguping sejak Selxi duduk cukup bingung dengan alur pembicaraan kedua orang itu. Semua anggota D'VABER memang tertarik dengan Selxi karena kekuatannya belum benar-benar terlihat, mereka penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Apalagi cara Selxi menggunakan sihirnya juga cukup unik dan cakupannya luas. Tapi di antara mereka berenam, Dean terlihat paling tertarik dengan Selxi. Jika anggota lainnya hanya menunggu jadwal pertandingan Selxi dan melihatnya saat pertandingan, Dean juga memperhatikan Selxi saat di luar pertandingan. Ia sering memperhatikan Selxi jika tidak sengaja bertemu dengannya. Di sela-sela kesibukannya, Dean biasanya akan berlatih atau membaca buku, ia jarang melakukan hal yang tak perlu. Jadi, kejadian seperti ini cukup aneh bagi D'VABER yang setiap hari pasti bertemu dengan Dean. Selxi menarik napas panjang lalu menghembuskannya sebelum menjawab pertanyaan Dean. Setelah pertanyaan panjangnya, Selxi menyimpulkan bahwa Dean seharusnya tidak sejahat dan seburuk itu sehingga tidak ada salahnya sesekali ia menjawab pertanyaan Dean dengan benar. "Pola serangannya menarik, karena sangat efektif dan jika diperhatikan lebih lama lagi, anak panahnya bukan hanya menyerang, tapi terlihat seperti menari-nari di udara dengan pola-pola tertentu yang dibentuknya. Pergerakannya memang cepat, tapi detailnya indah," jelas Selxi sambil menatap ke arah lapangan yang kini sudah kosong karena pertandingan Varen sudah selesai. Dean mengangguk-angguk senang karena akhirnya pertanyaannya dijawab dengan serius. "Sebentar, berarti kamu bisa melihat tarian anak panah Varen beserta pola gerakannya, bukan hanya pola penempatan anak panahnya?" tanya Dean memastikan dan disambut dengan anggukan kecil dari Selxi. Dean mengerjapkan matanya beberapa kali, ia tidak percaya dengan jawaban Selxi. Awalnya Dean mengira pola yang dimaksud Selxi adalah formasi atau bentuk penempatan anak panah yang digunakan Varen, ia tidak mengira bahwa yang dimaksud Selxi adalah pola gerakan dari tiap anak panahnya. Dean sendiri tidak bisa melihat dengan jelas bahwa sebenarnya saat anak panah Varen diterbangkan, anak panah itu tidak hanya bergerak lurus, tapi ada gerakan lainnya. Varen pernah menjelaskannya saat latihan dengan anak-anak D'VABER lainnya, itulah kenapa Dean mengetahuinya. Jika Selxi bisa melihat gerakan cepat dan kecil dengan sedetail itu, artinya penglihatannya sangat tajam. Elisya yang menguping juga merinding mendengar jawaban Selxi. Kalau setajam itu penglihatannya, serangan biasa tidak akan pernah melukainya, ucap Elisya dalam hati. Beberapa saat kemudian pertandingan Naomi dimulai dan untungnya kali ini Dean tidak banyak bertanya. Varen sudah kembali ke kursi penonton dan Selxi bersiap untuk berdiri, tapi sebelum ia sempat berdiri, Dean sudah menahan tangannya. Aeryn segera berdiri ketika melihat Varen mendekat sehingga Selxi bisa tetap duduk di tempatnya. Sebenarnya apa yang diinginkannya, gumam Selxi dalam hati sambil melirik ke arah Dean. "Kenapa? Aku menarik juga?" bisik Dean dengan percaya diri. Selxi agak kaget dengan pertanyaan Dean, tapi ia langsung merespon dengan sebuah gelekan dan wajah sinis. "Yahhh." Dean membalasanya dengan wajah sedih. Kali ini bukan Selxi yang kaget, tapi Varen, Brenda, Elisya, dan Reita yang tidak sengaja melihat ke arah mereka berdua yang kaget. Selama mereka berteman, baru kali ini Dean menunjukkan ekspresi wajah seperti itu. "Dia udah gila ya?" bisik Varen ke Elisya. "Tadi ada percakapan yang lebih gila lagi," balas Elisya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya saking herannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN