ENAM BELAS - SEMAKIN MENARIK

1002 Kata
Tentu saja Selxi sudah kembali ke kamar dan terkapar di atas kasur. Bedanya kali ini ia kembali ke kamar dengan kecepatan normal dan bersama dengan Anna, Aida serta Naomi. Awalnya ketiga anak itu mau bertanya tentang Selxi yang berbicara dengan Dean, tapi Selxi sudah mengisyaratkan bahwa dirinya tidak ingin ditanyai mengenai apapun yang berkaitan dengan apa yang baru saja terjadi. Selxi menatap langit-langit kamar dan merenung dalam keheningan kamar. "Ikuti saja alurnya, sepertinya tidak bisa kalau terus menerus menjauh," gumam Selxi dengan suara yang sangat pelan. Sekecil itu hingga Anna, Aida, dan Naomi tidak menyadarinya sama sekali. Tidak ada hal penting lainnya yang dikatakan Dean selama pertandingan Aeryn. Hanya saja Selxi memiliki firasat bahwa Dean akan mendatanginya lagi dengan berbagai tujuan lainnya yang tidak bisa ia tebak. Semakin sering Selxi menolak atau mengabaikan Dean, maka selama itulah dia membuang waktu untuk kegiatan yang tidak berguna dan sepertinya Selxi tidak bisa kabur dengan mudah dari hal itu. Mau tidak mau ia menjadi pusat perhatian, tapi tetap harus ada batasannya. Selxi harus tetap meredam keingintahuan orang lain dan membuat mereka tidak benar-benar memperhatikannya dalam waktu lama. Itulah yang ada di pikiran Selxi saat ini. Ia harus bisa berkeliaran dengan bebas agar bisa mendapatkan informasi dengan lebih baik dan sepertinya D'VABER adalah pusat informasi yang paling mudah ia akses sekarang. Rasa penasaran mereka membuat Selxi tidak perlu susah-susah untuk mendekati D'VABER, karena mereka akan datang dengan sendirinya ke Selxi. Jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sepertinya keingintahuan mereka tidak seburuk itu. Selxi mendadak beranjak dari kasurnya dan bersiap untuk keluar kamar. "Mau kemana?" tanya Anna yang kaget dengan kelakuan Selxi. Aida dan Naomi juga bingung dengan apa yang dilakukan Selxi. Padahal beberapa hari ini mereka kesusahan untuk membawa Selxi keluar dari kamar dan saat ini Selxi berjalan menuju pintu kamar dengan sendirinya. "Jalan-jalan keluar," jawab Selxi dengan santainya. Anna, Aida, dan Naomi saling pandang setelah mendengar jawaban Selxi. "Ini aku salah dengar kan?" tanya Naomi sambil memegang telinga kanannya. "Kayaknya enggak deh, aku juga denger kok, tapi kok rasanya aneh ya," balas Aida dengan wajah bingungnya. Anna hanya diam sambil mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha memastikan kalau ini bukan mimpi. "Mau ditemani?" tanya Aida setelah beberapa saat hening. "Nggak usah," jawab Selxi lalu ia menutup pintu kamar. Anna, Aida, dan Naomi saling tatap bingung sedangkan Selxi berjalan dengan santai di lorong asrama. Selxi tidak memiliki tujuan, ia hanya berniat berjalan-jalan tanpa arah. Ia tidak berniat menghindar dari D'VABER lagi, tapi tidak berniat untuk mencari mereka juga. Dari kejauhan Selxi melihat keramaian di taman akademi, sehingga ia memutuskan untuk berbelok kesana untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata ada beberapa anak akademi lain yang sedang berlatih dan tampaknya mereka cukup dikenal sehingga banyak orang bergerombol. "Menarik," gumam Selxi tanpa sadar. "Kali ini apa yang membuatnya menarik?" Muncul lagi suara yang tidak asing di telinga kanan Selxi. Tanpa ragu, Selxi langsung menoleh ke kanan dan tentu saja ia langsung mendapati Dean disana. Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita juga ada di belakangnya. Mereka berlima berdiri sambil melihat ke arah Dean dan Selxi. "Hanya bergumam asal," jawab Selxi tanpa pikir panjang lalu mulai berjalan sedikit menjauh dari Dean. Matanya kembali ke anak akademi lain yang sedang berlatih di tengah kerumunan. "Tidak mungkin, aku yakin ada alasan dibaliknya," balas Dean yang berjalan mengikuti Selxi. Ia dapat dengan mudah mengikuti langkah kaki Selxi karena Selxi hanya berjalan dengan normal, tidak seperti sebelumnya saat ia berlari dengan kecepatan cahaya untuk menghindari Dean dan teman-temannya. Di belakang Dean, anggota D'VABER lainnya juga membuntutinya. Yang artinya, Selxi diikuti enam orang murid terkuat Green Academy. Setelah berpikir beberapa saat, Selxi menghentikan langkahnya dan kali ini ia benar-benar menjawab pertanyaan Dean, "Tempo latihan dan arah gerakannya. Menurutku dia tidak menggunakan semua kekuatannya karena sadar bahwa ada banyak mata yang mengawasi latihannya, tapi mereka masing-masing berusaha mempertahankan tempo yang sama dengan strategi yang bertolak belakang." Dean, Varen, Aeryn, Brenda, Elisya, dan Reita langsung menoleh ke arah latihan pertandingan itu untuk memastikan ucapan Selxi. Setelah menontonnya selama beberapa menit, mereka langsung paham apa yang dimaksud Selxi. Dean menoleh lagi ke arah Selxi yang masih berdiri di tempat yang sama dan bersiap untuk melontarkan pertanyaan lanjutan, tapi sebelum ia membuka mulut, Selxi sudah menjawabnya. "Gunanya untuk mengatur pertandingan di tempo yang paling efisien untuk jenis serangan yang mereka gunakan, jadi dampaknya akan berkali-kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan tempo lain. Karena mereka menguasainya dengan baik, lawan pasti akan kesusahan untuk mengubah ritmenya kecuali dengan beberapa kombinasi serangan. Itu pun tidak memberikan jaminan apapun," jelas Selxi dengan yakin. "Akurat. Kamu membaca pikiranku?" tanya Dean lagi. Selxi tidak menjawab walaupun mendengar pertanyaan Dean. Ia hanya melihat latihan yang ada di depannya. Setelah hening beberapa saat di antara mereka, akhirnya Dean buka mulut lagi. "Setelah ini ada latihan terbuka D'VABER, mau ikut?" tanya Dean langsung ke intinya. Ia tidak melakukan basa-basi tambahan dan langsung menanyakan Selxi topik utamanya. "Kenapa aku?" tanya Selxi dengan cepat. Ia mengalihkan pandangannya dari latihan di depannya ke Dean. "Karena kamu menarik," jawab Dean dengan senyuman khasnya. Selxi diam sebentar sambil menatap mata Dean, "Kenapa menarik?" Selxi membalikkan pertanyaan yang selalu disebutkan Dean ke dirinya. "Karena cara pikirmu dan cara bertarungmu." Tidak seperti Selxi yang terus menerus menghindar jika ditanya, Dean langsung menjawab pertanyaan Selxi dengan jelas dan tepat ke intinya. Selxi menatap mata Dean lebih lama lagi sebelum menjawab. Ia berusaha memastikan apakah ada kebohongan dari mata Dean. Tentu saja Selxi tidak mendapatkan unsur-unsur kebohongan dari matanya dan gerak-geriknya. Karena Dean memang dari awal tidak membuat rekayasa mengenai apapun. "Jadi, bagaimana?" tanya Dean lagi karena Selxi masih tidak menjawab. "Apa keuntungannya untukku?" tanya Selxi sebelum benar-benar menjawab pertanyaan Dean. Dean tersenyum senang mendengar pertanyaan Selxi, karena pertanyaan itu menunjukkan bahwa Selxi memiliki ketertarikan dengan tawaran yang diberikannya. "Apapun yang kamu mau, dengan syarat tambahan, kamu harus memenangkan latihannya," jawab Dean dengan yakin. Di pikirannya, murid baru seperti Selxi pasti tidak akan meminta hal aneh-aneh sampai ia dan teman-temannya tidak bisa memenuhinya. "Oke, setuju," jawab Selxi dengan sebuah senyuman penuh arti. Ia sudah memikirkan apa yang akan dimintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN