Selxi sudah kembali ke kamarnya dan duduk di pinggir jendela.
Aula Utama sangat ramai setelah pertandingannya selesai dan saat Selxi menoleh ke arah timer, ia mendapati bahwa pertandingan hanya berlangsung selama dua setengah menit.
"Terlalu cepat," gumam Selxi. Rencana penguluran waktunya gagal ketika otaknya langsung memilih rencana tercepat dan efisien yang bisa dipikirkannya.
Tanpa sadar, tubuh Selxi sudah bergerak dan menyelesaikan pertandingannya dengan cepat.
Ia yakin bahwa gerakannya dilakukan dengan tegas, tanpa keraguan dan sangat cepat. Tentu saja D'VABER bisa langsung memahami gerakan-gerakannya dan menaruh ekspektasi yang lebih tinggi lagi.
Tanpa pikir panjang, setelah pertandingan dinyatakan selesai dan ia memulihkan tubuh Azalia, Selxi langsung bergerak dengan cepat dan hati-hati menuju kamar asramanya.
Ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitar sana dan apakah teman-temannya sedang sibuk mencarinya atau tidak. Fokus utamanya adalah kembali ke kamar secepat mungkin.
"Kelepasan," ucap Selxi pada dirinya sendiri, ia menghembuskan napas kasar sambil melihat pemandangan di luar jendela kamarnya.
Tanpa perlu Selxi cek lagi, namanya pasti akan berada di jejeran peringkat teratas dalam waktu yang cukup lama.
Ceklek!
"Tuh kan bener, anaknya udah balik ke kamar." Anna muncul bersama Aida dan Naomi tidak lama setelah Selxi sampai kamar.
"Memang introvert, dalam sekejap udah ilang dari keramaian," celetuk Aida dengan nada sedikit mengejek.
Sepertinya kali ini mereka tidak repot-repot mencari Selxi ke seluruh penjuru akademi, melainkan langsung menuju ke kamar tanpa ragu.
"Selxi, kamu cepet banget baliknya. Padahal anak-anak Green Academy masih selebrasi di Aula Utama," ucap Naomi sambil menunjuk ke arah Aula Utama.
Seperti biasa, Selxi hanya menanggapinya dengan anggukan pelan dan sebuah senyuman tipis, ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kayaknya emang rumor Azalia itu dibesar-besarin nggak sih? Kok dia nggak langsung gerak, padahal jelas-jelas Selxi mau nyerang. Udah gitu tiba-tiba singa apinya melambat kayak slow motion gitu nggak sih." Anna memulai pembahasan mengenai pertandingan Selxi yang baru saja selesai.
"Iya deh, kayak nggak sebagus itu ternyata," balas Naomi dengan anggukan yakin.
"Gerakannya juga nggak terlalu efisien." Aida juga ikut menambahkan.
Mereka mulai membahas satu per satu dengan detail apa yang mereka lihat dan rasakan selama pertandingan, sedangkan Selxi hanya mendengarkan.
Ternyata mereka memang nggak sadar kalau area lapangan kuhilangin udaranya, ucap Selxi dalam hatinya.
Sihir yang dilakukan Selxi memang efektif, tapi tidak banyak yang mempelajarinya. Bukan karena kurang diminati, tapi karena cukup sulit.
Dibutuhkan pengetahuan dan pengenalan yang baik terhadap tempat penerapan sihir tersebut, karena jika salah membaca peluang, sihirnya akan berbalik ke pengguna dan menyerap banyak manna.
Kebanyakan anak sepantaran Selxi belum bisa menggunakan sihir ini, bahkan mungkin belum diperkenalkan mengenai sihir jenis ini, sehingga wajar Anna, Aida, dan Naomi belum mengetahuinya.
Apalagi Selxi melakukan sihir itu dengan ekspresi wajah datar, seolah ia tidak sedang melakukan apa-apa.
"Oh iya, kamu juga belum menggunakan pendampingmu ya. Padahal aku udah penasaran banget," ucap Naomi yang teringat dengan pendamping Selxi.
"Aku juga nunggu kamu manggil hewan pendampingmu," tambah Aida dan disambut dengan anggukan bersemangat dari Anna.
Selxi hanya tersenyum kecil, ia memang tidak mau mengatakan apapun mengenai hewan pendampingnya termasuk ke teman-teman sekamarnya.
Selxi selalu mengatakan bahwa mereka akan melihat hewan pendampingnya jika saatnya sudah tiba. Ia tidak mau memanggilkannya untuk mereka atau menyebutkan apa hewan pendamping yang didapatkannya.
"Padahal sebagian besar anak pasti sudah menggunakan hewan pendampingnya di babak kedua, tapi Selxi bisa memenangkan pertandingan tanpa menggunakan hewan pendamping," puji Anna.
Malamnya Anna dan Aida memiliki jadwal pertandingan untuk babak kedua. Naomi dan Selxi menonton mereka di Aula Utama, tapi tentu saja Selxi keluar kamar dengan berbagai penyamaran yang sudah disiapkannya.
Selxi menggunakan kacamata bolong, rambutnya dimasukkannya ke dalam topi dan ia membawa sebuah buku.
"Jujur ini agak berlebihan," ucap Naomi sambil melihat penampilan Selxi.
Aida dan Anna sudah jalan duluan ke Aula Utama, sedangkan Naomi masih menunggu Selxi bersiap-siap.
"Untuk berjaga-jaga," jawab Selxi sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Naomi bingung, apa maksud Selxi dengan berjaga-jaga, padahal mereka hanya akan ke Aula Utama. Bangunan yang jaraknya hanya sekian ratus meter dari tempat mereka berada sekarang.
Berjaga-jaga kalau ada kating-kating terkenal itu, lebih baik aku menjauhi mereka, ucap Selxi dalam hatinya.
Yang dimaksud Selxi dengan "mereka", tentu saja adalah D'VABER.
Selxi yakin jika ia melakukan sesuatu yang berkaitan dengan mereka dan dilihat fans-fans fanatiknya, tatapan mata yang ditujukan kepadanya pasti meningkat secara drastis.
Selxi memang belum pernah berhadapan dengan D'VABER di tempat umum dan ia berharap tidak akan berhadapan dengan mereka selain untuk kepentingan akademik seperti turnamen.
Tanpa perlu mencobanya, Selxi sudah merasa terancam dengan banyaknya orang yang membuntuti enam manusia itu.
Manusia normal mana yang tidak risih diikuti oleh manusia pengangguran lainnya? Tapi nampaknya D'VABER memang tidak normal.
Untungnya malam itu penyamaran Selxi bisa dikatakan cukup berhasil, ia ke Aula Utama dengan aman walaupun harus memperhatikan sekitar sepanjang waktu.
Karena sudah berada di Aula Utama, Selxi melihat-lihat peringkat terbaru dan mengecek jadwal pertandingan juga.
Peringkatnya tidak bergeser sama sekali dari peringkat pertama. Walaupun hanya peringkat sementara, tapi Selxi merasa agak terganggu melihatnya.
Padahal sebelum berangkat ke Aula Utama, Selxi berharap sudah ada yang menggeser peringkatnya.
Selxi sengaja tetap memenangkan pertandingan, karena ia menganggap turnamen ini sebagai bentuk latihannya.
Ia harus menjadi lebih kuat bagaimana pun caranya, agar saat ia kembali, ia bisa menyelamatkan dan mempertahankan kerajaannya.
Walaupun Selxi belum tahu pasti apa yang harus dilakukannya dan bagaimana ia bisa menyelamatkan kerajaannya, tapi ia yakin bahwa dirinya harus semakin kuat.
Selxi terus menggeser daftar nama peserta yang ada di depannya. Hampir setengah jam ia memperhatikannya satu per satu.
Jika membuka detail pertandingan masing-masing anak, terlampir semua hal mendasar mengenai anak tersebut.
Seperti nilai kekuatannya, sihir utama yang digunakan, hewan pendamping, dan berbagai macam hal lainnya.
Selxi membaca detail tiap anak sambil mengelompokkannya di otaknya.
Tentu saja Selxi juga mempelajari info mengenai D'VABER dan memang isinya sangat mengesankan.
Selain harus memiliki kekuatan dan rencana yang matang, Selxi juga harus memiliki sekutu. Ia tidak mungkin bisa bertahan terlalu lama tanpa rekan.
"Serius banget. Lagi mempelajari sesuatu yang menarik?" Tiba-tiba ada suara pria tepat di sebelah telinga kanan Selxi.
Selxi tersentak kaget, karena terlalu fokus mempelajari kekuatan tiap anak, ia sama sekali tidak menyadari ada yang berjalan mendekat.
Perasaan Selxi tidak enak, perlahan ia menoleh ke kanan dan benar.
Dean sedang menatap Selxi dengan jarak kurang dari 20 cm.