Untungnya Anna sempat menarik badan Selxi sehingga Selxi langsung tersadar dan menyadari adanya api yang mengarah langsung tempatnya.
Dengan cepat, Selxi langsung membuat sebuah perisai berwarna hijau. Refleknya memang cukup bagus, jadi api yang bergerak cepat ke arahnya langsung menghilang ketika menyentuh perisai Selxi.
Ia tidak ragu dan tidak takut sama sekali, penuh dengan ketenangan dengan gerakan yang sangat tegas. Itulah yang Dean lihat dari Selxi ketika menghadapi serangannya barusan.
Dean tersenyum puas, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kemampuan Selxi. Dari bagaimana Selxi melihat serangan yang diarahkan Dean dan mengambil keputusan yang tepat tanpa membuang waktu menunjukkan kemampuan Selxi sebenarnya. Tentu saja bukan kemampuan yang hanya dimiliki seorang pemula.
Keadaan yang sempat hening karena semua orang terfokus pada serangan dadakan Dean, kembali ramai dan banyak spekulasi yang muncul.
Dean sempat diajak berbicara dengan anak lainnya dan saat ia menoleh lagi ke atas, Selxi sudah tidak terlihat disana. Ia kehilangan Selxi hanya dalam hitungan detik.
Bukan hanya Dean yang kehilangan Selxi, melainkan Anna dan yang lainnya juga tidak menemukan Selxi di sana.
Atau lebih tepatnya, Selxi sudah kabur sebelum menjadi pusat perhatian lagi. Ia yakin tidak semua orang yang ada di lapangan mengenalinya dan menghafal wajahnya, tapi jika ia berada disana lebih lama lagi, akan semakin besar kemungkinan orang-orang itu mengingatnya.
Selxi tidak mau melanggar ucapannya ke Olyver lagi. Ia harus lebih berhati-hati dan lebih tertutup lagi.
Tentu saja Selxi langsung berlari dengan sekuat tenaga menuju kamar asramanya. Ia tidak tahu tempat mana lagi yang lebih aman dan jauh dari pandangan banyak orang selain kamar asramanya.
Jujur, Selxi sedikit menyesal karena ia memilih keluar kamar saking penasarannya dengan keramaian diluar, tapi ia juga tidak menyangka bahwa akan ada api yang diarahkan langsung ke arahnya.
"Sebaiknya aku di kamar saja untuk sementara waktunya," gumamnya. Selxi mengambil buku yang sempat dibacanya sebelum keluar tadi dan duduk di dekat jendela.
Ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di luar jendela lagi, tapi fokus pada buku bacaan yang dipegangnya.
Sekita setengah jam kemudian, teman-teman sekamarnya kembali ke kamar.
"Kami mencarimu kemana-mana," gerutu Anna sambil menatap tajam Selxi.
Selxi hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Ia memang langsung kabur tanpa mengatakan apa-apa tadi, ia tidak mau membuat kehebohan baru.
"Tiba-tiba sakit perut," bohong Selxi.
Anna, Aida dan Naomi hanya tersenyum masam mendengar alasan Selxi yang sudah jelas-jelas hanya dibuat-buat.
"Yah, lebih baik di kamar saja. Ada rombongan baru yang datang beberapa saat lalu, keadaan akademi sangat ramai. Bahkan sulit untuk menemukan tempat kosong." Aida mengambil buku lain yang ada di atas meja dan mulai membaca buku juga.
Ada beberapa rombongan susulan dari beberapa academy yang datang secara bersamaan hari ini dan kabarnya mereka akan langsung menetap di Green Academy selama beberapa hari.
"Separah itu kah diluar?" tanya Selxi, berusaha mencairkan suasana akibat kelakuannya tadi.
"Iya, sudah tidak ada tempat kosong untuk melakukan latihan sama sekali. Banyak anak Green Academy yang berhenti berlatih karena rawan mengenai anak akademi lain yang mulai berdatangan. Mereka bahkan sudah di tahap pasrah, karena tidak bisa melakukan pemanasan atau latihan yang cukup," jawab Naomi dengan penjelasan panjangnya.
Selxi hanya mengangguk-angguk pelan.
"Jadwalmu sudah keluar." Itulah kata-kata yang keluar dari mulu Anna setelah hening cukup lama.
Selxi yang sedang fokus membaca langsung mengangkat kepalanya untuk memastikan kepada siapa Anna berbicara.
"Aku?" tanya Selxi setelah melihat pandangan mata Anna tertuju padanya.
Anna mengangguk pelan diikuti anggukan lainnya dari Aida dan Naomi.
Selxi mengerjapkan matanya beberapa kali, "Maksudmu aku?" tanya Selxi lagi, kali ini sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya Selxi, kamu," jawab Anna dengan penekanan pada kata-katanya.
"Pertandingan pertama di penyisihan kedua?" tebak Selxi setelah beberapa detik terdiam.
"Betul."
Keheningan kembali menyelimuti asrama.
"Lawannya siapa?" Akhirnya Selxi membuka omongan lagi.
Anna, Naomi, dan Aida saling bertatapan dan tersenyum.
"Azalia dari Red Academy," ucap mereka serempak.
"Dia kuat?" tanya Selxi langsung ke intinya.
"Lumayan, tapi yang jelas dia cerdas," jawab Naomi sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Selxi membalasnya dengan mengangguk-angguk juga.
Entah kenapa, Selxi merasa bahwa ketiga temannya lebih bersemangat daripada dirinya setelah mengetahui lawan bertandingnya.
"Kenapa kalian terus menerus menatapku dengan ekspresi wajah seperti itu?" ucap Selxi yang mulai risih dengan senyuman aneh dari teman-temannya selama beberapa jam ini.
"Karena kamu masih baru disini, mungkin rasanya biasa saja, tapi sebenarnya pembuka setiap babak turnamen adalah keistimewaan yang hanya bisa didapatkan orang-orang yang diakui. Selama ini, D'VABER selalu menguasai pembukaan serta puncak pertandingan, tapi kali ini, pembuka babak itu adalah orang yang sekamar dengan kami. Memikirkannya saja sudah membuat kami bangga," ucap Naomi yang disambut dengan anggukan oleh Anna dan Aida.
Selxi mengangguk-angguk lagi, sepertinya ia belum terbiasa dengan budaya di dimensi ini. Selain itu, ia mempertanyakan kapan dirinya bisa kabur dari perhatian yang tidak ada habisnya ini.
Beberapa jam kemudian, Selxi mendapat surat dari akademi, ia diminta untuk ke salah satu hutan yang ada di akademi, untuk mengambil hewan pendamping.
Sebenarnya sebagian besar siswa baru mendapatkan hewan pendamping setelah beberapa bulan dan ada prosesnya, tapi sepertinya Selxi mendapat perlakuan khusus karena ia masuk ke babak penyisihan kedua, bahkan tanpa menggunakan hewan pendamping.
Sehingga pihak akademi memutuskan untuk memberikannya hewan pendamping lebih cepat, untuk membantu Selxi menghadapi pertandingan-pertandingan selanjutnya dengan lebih baik.
"Keren." Aida berdiri di belakang Selxi dan ikut membaca surat yang baru saja diterima Selxi.
"Cepet banget prosesnya." Naomi juga berdiri di belakang Selxi dan mengintip dari belakang.
"Bisa secepet ini ternyata." Anna juga ikutan menimpali dari belakang.
Selxi merasa seperti ketempelan tiga makhluk di belakangnya.
Apalagi mereka tidak berhenti berkomentar sambil terus menerus mengintip surat yang dipegangnya.
"Bagaimana cara mendapatkan hewan pendampingnya?" tanya Selxi sambil berjalan agak menjauh dari mereka.
"Hutan tempat pengambilan hewan pendamping adalah hutan ajaib. Saat memasuki hutan, tidak akan ada hewan yang terlihat di dalamnya, kecuali hewan itu memilihmu dan kamu juga memilihnya menjadi hewan pendamping. Dengan kata lain, hewan pendampingmu akan muncul dan terlihat sendiri," jelas Anna sambil memperagakannya dengan tangannya.
"Tapi tidak semudah itu. Ada beberapa orang yang bisa bertemu dengan hewan pendampingnya setelah beberapa menit masuk ke dalam hutan, tanpa terkena rintangan, tapi ada yang butuh waktu lama di dalam hutan dan mendapat banyak rintangan dari hewan lainnya yang merasa terganggu dengan kedatangan makhluk asing seperti kita. Semuanya tergantung keberuntungan dan keterikatanmu dengan hewan pendampingmu." Aida juga ikut menjelaskan.
"Katanya setiap orang memiliki aura dan jenis kekuatan yang berbeda-beda, itulah yang menjadi penanda kita, yang membuat para hewan pendamping mengenali pemiliknya." Naomi menutup penjelasan dengan sedikit puitis beserta dengan nada yang dibuat-buatnya.
Selxi hanya mengangguk-angguk lagi setelah mendengarkan penjelasan panjang mereka.